Bangun pagi
uang yang dipikirkan, siang uang lagi, sore uang lagi dan malam juga tetap uang
yang dipikirkan. Seperti yang kita ketahui uang tidak turun dari langit begitu
aja, uang juga tidak bisa menggunakan Bim Salabim Abra Kadab Bra. Agar bisa
menghasilkan uang harus melalui pekerjaan, ada yang ngojek, ada yang nyawah,
ada yang nelayan, bertani, kantoran, bisnis man, sampai pada tingkat yang
serendah rendahnya baik itu mencuri, mencopet, menyolong dan korupsi. Uang sanggup
megantarkan orang keluar negri karena kalau tak ada uang tak bakalan nyampe,
karena keluar nergi itu butuh pesawat dan pesawat butuh pilot, sedangkan pilot
itu butuh gaji yang tinggi alias uang. Bagi seorang siswa uang adalah permainan
soalnya kalau tidak ada uang mereka tidak bakalan bisa peEsan dan fesbukan,
apalagi mahasiswa…! Tak ada uang tak bakalan bisa makan bakso bareng pacarnya,
itu sih kalau mahasiswa model dalam negri, kalau yang diluar negri lain lagi
ceritanya, contohnya mahasiswa yang diMesir, sekitar tujuh puluh lima persen
mahasiswa disana mempunyai pekerjaan disamping mereka juga dapat beasiswa dari
hasil ujian ujian kuliah yang mereka peroleh, sebagian besar mereka bekerja
direstoran karena cuma restoranlah yang mau menerima para mahasiswa untuk
bekerja.
Bagi mahasiswa uang itu bukan sebuah permainan
lagi tapi uang adalah sebuah kebutuhan yang harus tetap berada dikantong, kalau
sudah kantong kosong biasanya sih mulai sms orang tua dan bilang ‘’ mak.. uang
bulan lalu sudah habis, tolong kirimi lagi ya, soalnya anak emak ne sedang
banyak utang dengan teman teman dan juga dengan kantin’’ – ini adalah model
mahasiswa yang ada diHadhromaut, Tarim khususnya yang belajar di universitas al
ahgaff- soalnya mereka disana tidak diperbolehkan untuk menjadi pelayan ditoko
toko atau direstoran, mereka hanya disuruh untuk belajar dan belajar tapi
mereka diperbolehkan untuk membeli kompor dan masak masak, ada beberapa teman
disana yang pande masak nasi dan akhirnya jual nasi, ada yang bisa bikin
bakwan, pecal, somai dll. Dan mau tau enggak??? Biasanya yang jualan itu adalah
teman taman yang tidak lulus dan akhirnya tinggal setahun, menurut undang
undang yang ada di universitas al ahgaff bagi mahasiswa yang tinggal kelas maka
harus membayar uang tempat tinggal, uang
makan dan uang mata pelajaran yang tidak lulus, jelas saja tidak ada yang
sanggup untuk membayar itu makanya daripada mereka pulang kampung lebih baik
mereka mengumpuli uang selama setahun tersebut. Emang sih, tidak semua yang jualan
itu adalah teman teman yang tinggal kelas, buktinya aku sendiri (bukan penulis
lho) yang keseharian aku dulu jualan bakwan tapi udah gak jualan lagi sekarang,
soalnya teman teman banyak yang ngutang dan bayarnya nunggu kiriman lagi -chap
chai deh- dan Alhamdulillah aku tidak tinggal kelas setahun.
Cobalah
berpikir sejenak kenapa uang yang dikirim oleh emak tidak bertahan selama
seminggu, kemana aja sih uang yang dikirim emak? Kalau aku boleh jawab, aku
akan menjawab begini: uang yang dikirim tidak pernah bertahan dalam seminggu
karena langkah pertamah yang aku lakukan ketika selesai mengambil uang di
wenster union atau di bank adalah membayar hutang lebih dari separoh yang
dikirimkan dan bahkan terkadang hutangku lebih banyak dari uang yang dikirimkan
oleh emak. Selain membayar hutang biasanya aku membeli peralatan mandi dari
sabun mandi, sabun cuci, odol dll dan perlu diketahui harga barang barang
tersebut dua kali lipat bahkan ada yang tiga kali lipat dari barang barang ada
diIndonesia.
Yang paling
memboroskan adalah pulsa, padahal menurut sejarahnya aku itu tidak pernah
nelpon cewek, sms-an apalagi nelpon orang tua, karena aku tau bahwa nelpon
keindo atau sms-an keteman yang ada diindo itu sangantlah mahal, terus kok pulsa
salah satu penyebab yang paling memboroskan sih?? Ya iya lah, masak ya iya
donk.. emank pulsa buat nelpon dan sms-an doank? Fesbukan mau dikemanakan? Tiap
hari bisa memakan uang yang sangat banyak meskipun menggunakan MTN yang
menjanjikan gratis internetan tapi ujung ujungnya memakan pulsa juga. Belum
lagi internetan di warnet yang biasanya kita sanggup berjam jam I’tikaf disana tanpa
ada rasa bosan sama sekali.
Hanya sekitar
sepuluh persen lah uang yang diberikan orang tua dipergunakan untuk membeli
kitab atau untuk sesuatu yang lebih bermanfaat, begitulah peran uang bagi
seorang mahasiswa yang tidak pernah memikirkan bagaimana orang tuanya mencari
uang disiang, malam, pagi, petang dan
bahkan terkadang mereka juga berhutang untuk mengirimkan uang ke anaknya yang
berada diluar negri sana. Aku sendiri merasa hiba terhadap orang tuaku, aku
sungguh sangat sedih dan ingin menangis mengapa aku begitu mudah untuk
menghabiskan uang yang diberikan orang tuaku, kenapa aku tidak pernah berpikir
untuk berhemat dan menabung, kenapa aku tidak berpikir untuk menyenangkan dan
mengurangi beban orang tuaku disana, yang kesehariannya hanyalah bertani dan
juga berjualan ala kadarnya, kenapa tidak terbenak dihatiku bahwa aku bukanlah
anak mereka yang satu satunya yang harus mereka biayai tiap bulan, bukankah
kakakku dan adik adikku juga membutuhkan uang dan bahkan mereka lebih
membutuhkan dari aku.
Aku benci
dengan uang tapi aku juga butuh dengan uang, aku benci karena uang telah
membuat orang tuaku susah payah banting keringat demi sesuap nasi, aku butuh
dengan uang karena uang tidak bisa diganti dengan daun, andai saja daun itu
dapat menjadi alat barter yang sah yang dapat membiayai aku disini selama
sebulan saja, atau daun dapat membeli sambal sebagai teman makan nasi pastilah
kupotong tangkai tangkai dan ranting ranting pohon untuk kuambil daunnya dan
kubelikan sambal, karena biasanya tanpa sambal nasi takkan habis dimakan.
Sekarang ini aku masih tetap memikirkan uang dan bagaimana cara untuk
mendapatkannya, aku ingin berhenti untuk terus meminta uang keorang tuaku. Aku ingin bekerja yang menghasilkan uang
walaupun sedikit meskipun hanya diliburan ini, karena hanya pada waktu
liburanlah aku bisa untuk bekerja, aku sudah mencoba untuk menawarkan diriku
untuk membantu teman temanku yang jualan dan mudah mudahan diterima untuk
bekerja selama dua minggu ini.
Aku berjanji
untuk menghemat dan menabung, aku juga berjanji tidak akan meminta uang keorang
tua kecuali diwaktu yang telah disepakati dan sangat mendesak dan aku juga
berjanji tidak akan berhutang lagi kepada siapapun, tapi aku tak bisa merjanji
untuk tidak fesbukan dan internet karena itu adalah sarana satu satunya yang
menghubungkan aku dengan kakakku juga dengan adik adikku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar