Sabtu, 24 Maret 2012

Lampu Yang Tak Bersinar



   Sulit di bayangkan gimana guru guru kita dulu belajar ditimur tengah, gimana kesunggusahan mereka ketika meninggalkan keluarganya, kaum kerabat, kampong halaman, bahkan negri tercinta.Kesungguhan mereka didalam belajar sanggup membelah lautan, gimana tidak? Kamus saja mereka jadikan bantal tidur, bahkan ada yang tidak mau tidur kecuali ia sudah mengulang  20 kali mata pelajaran yang lalu dan akan datang, bahkan ada yang bicara sendirian didalam kamar mandi, dan berbagai macam keanehan dan keunikan mereka dalam bersungguh sungguh. Itu semua mereka lakukan agar pulangnya mereka nanti tidak sama dengan hari keberangkatan mereka, itulah yang di inginkan oleh masyarakat, karena untuk apa jauh jauh menuntut ilmu kalau tidak ada perubahan atau malah lebih merosot.
Tapi itulah zamannya mereka, dimana ketika itu tidak semua orang punya hape, televisi, komputer, apalagi facebook yang sangat mempengaruhi kehidupan pelajar sekarang, dan ketidak adaan itu semualah yang membuat mereka focus dalam menuntut ilmu, berhati hati dalam menggapai cita cita serta konsentrasi dalam mengurangi beban orang tua di suatu masa, inilah yang membuat nama guru guru kita harum dikampung sana, segala yang mereka pelajari ditimur tengah dapat membantu mereka dalam berdakwah dijalan Allah S.W.T. berbeda halnya dengan kitasekarang, segala bentuk cobaan, bencana dan fitnah ada dan menyatu padu dizaman kita yang siap menghantam para pelajar dari segala arah, bencana tersebut tak pernah pandang bulu dalam memilih mangsanya, tua muda sama dimata cobaan tersebut, pintar dan bodohnya seseorang juga sama dihadapan fitnah tersebut. Kalau guru guru kita dulu senjatanya adalah pulpen maka sekarang hapelah yang menjadi senjata para pelajar, kalau dulu kitab dijadikan teman oleh guru guru kita, maka dizaman sekarang perempuanlah sebagai teman para mahasiswa dan laki laki lah sebagai teman para mahasiswi, sungguh aneh tapi memang begitulah kenyataannya, walaupun tidak semua pelajar itu sama.
Maka benar benar bahagialah pelajar sekarang yang lulus dengan ujian tersebut, yang berhasil melewati segala cobaan yang selalu di update oleh setan dalam menjerumuskan para santapannya, serta lolos dari fitnah fitnah zaman millennium ini, dialah pelajar yang menempatkan sarana pada tempatnya, menggunakan peci di kepala dan sepatu dikaki, yang sanggup menjadikan internet hujjah baginya (penolong dari api neraka) dan bukan hujjah atasnya(menjerumuskannya ke neraka), dialah pelajar yang menjadikan semua bentuk ujian itu hanya sebuah tantangan dan sekaligus titian menuju jalan yang lurus. Mungkin itulah yang bias dibanggakan pelajar pelajar sekarang ketika ia sanggup menghadapi cobaan yang sama sekali belum pernah dirasakan oleh guru guru mereka dulu, karena kita tahu semakin tua umur bumi ini semakin merosot dan punahlah kebudayaan islam. Hanya saja kita bertanya  Tanya siapakah orang orang yang beruntung itu?Apakah kita kita ini termasuk orang orang yang bisa dibanggakan itu?Atau kita kita ini malah menjadi maf’ul-maf’ul (korban korban) zaman sekarang?Alahkah sedihnya guru guru kita nanti melihat murid muridnya tenggelam dilautan yang tak berair, tenggelam dilautan yang tak berombak, terkunyah dimakan zaman yang tak bergigi, mereka sedih Karena melihat muridnya yang kuat sekuat batu bias retak dan lembur hanya dengan setetes air, bahkan guru guru kita bias menangis dengan keadaan seperti ini, mereka merasa apa yang pernah mereka ajarkan sama sekali tidak memberi manfaat.
Apa ada seorang anak yang tega membuat orang tuanya menangis? Tentunya tidak ada, begitu jugalah seharusnya seorang murid terhadap gurunya, jangan pernah kita buat mereka malu, sedih apalagi sampai menangis.Kalau kita sudah sadar terhadap ini semua apalagi yang harus kita tunggu? Apakah kita masih mau dipermainkan oleh ilmu kita, tidakkah kita pernah mendengar hadist bahwasanya orang yang paling tersiksa dihari kiamat nanti adalah orang yang berilmu tetapi Allah tidak member manfaat pada ilmunya tersebut, oleh sebab itulah Nabi Muhammad SAW mengajari kita doa: ya Allah sesungguhnya aku berlindung dari mu dari ilmu yang tidak bermnafaat…
Bukan tidak diperbolehkan bagi kita untuk mengikuti perkembangan zaman, bahkan kita dipersilahkan untuk masuk didalamnya tapi harus bawa filter, filter yang senantiasa membedakan mana yang asem mana yang manis, itulah ilmu yang bermanfaat yang mampu memilah milih sesuatu yang boleh dikerjakan dan yang tidak boleh dikerjakan, yang tidak pernah mencari jalan keluar agar mengubah sesuatu yang pahit menjadi manis. Berapa banyak kita lihat orang orang berusaha mengubah yang jelas jelas haram mejadi sesuatu yang boleh dikerjakan? Bahkan ada juga yang pura pura tidak tahu dengan apa yang ia kerjakan, sungguh sulit untuk dibayangkan ketika kita hanya sebuah lampu yang tak bersinar ditengah gelapnya malam yang kita tidak pernah tahu dan tak bias melihat lobang besar yang berada dihadapan kita, dan ketika matahari sedang bersinar terang dan panas, lampu itu juga ikut bersinar, tapi sinarnya sama sekali tak memberinya cahaya.
Pilihan ada ditangan kita masing masing, janganlah pernah berharap menjadi lampu yang tak bersinar dimalam hari, dan juga menjadi lampu yang hanya bersinar di siang hari, masyarakat menanti kita pulang sebagaimana guru guru kita dulu dinanti nanti kepulangan mereka, nama kita harus harum dimasyarakat karena keharuman nama kita juga menjadi keharuman dan kebanggaan guru guru kita, walaupun kita tidak harus meniru segala bentuk keanehan keanehan mereka ketika mereka belajar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar