Sepedaku
yang bocor
Ingin rasanya kubanting sepeda ini,
walaupun dulunya aku beli sepeda itu tujuannya adalah untuk berangkat menghapal
alqur’an, tapi sayng seribu kali sayang tujuan itu tak terwujud karena baru
sebulan lebih aku masuk tahfizd alqur’an, aku sudah tak sanggup lagi untuk
menghapal satu ‘ain (sekitar 1 halaman lebih) satu hari yang wajib kami tasmik (setor)
setelah ashar. Mulai saat itu, sepedaku hanya berguna untuk mengantarkan aku ke
kuliyah dan juga untuk menghadiri shalat jum’at. Tidak ada niat untuk menduakan
sepedaku sehingga aku harus beli sepeda baru, tidak ada sama sekali niat itu,
tapi ini bukan yang ke-3 kalinya dia bocor dalam seminggu ini, bahkan yang
lebih melukai hatiku ketika aku mau pulang dari
shalat jum’at dimasjid Jami’ Tarim, seperti biasanya sebelum pulang kami
berebutan menyalami tangan Habib Salim Assyathiri yang mengasuh Rubat Tarim dan
Hahib Abdullah bin Syihab yang dikenal ‘Ain Attarim begitu juga kami menyalami
para Habaib yang lain, yang tangan tangan mereka ini sangat sulit kita dapati di indonesia, mungkin
karena banyaknya orang orang berebutan untuk menyalami dan menyapa mereka atau mungkin karena ketidaktahuan mereka
terhadap habaib tersebut bahwa mereka
adalah keturunan Rasulullah yang kalau kita berpegang dengan mereka,
maka kita tidak akan tersesat didunia ini selama lamanya , itulah perbedaan
hadhromaut dan negara negara arab lainnya.
Setelah salaman dan mencium tanagn mereka
dengan niat tabarruk dengan habaib dan orang orang soleh, aku pun menghampiri
sepedaku yang telah berumur satu tahun itu, karena aku membelinya satu tahun
yang lalu kurang lebih sebulan setelah kedatangan kami kekota Tarim ini, aku
membeli sepeda itu dalam keadaan baru lengkap dengan lampu depan dan belakang,
meskipun sebulan setelah itu lampunya sudah hilang, maklumlah, lampunya kan
imoet jadi anak anak kecil paling suka cabut sana cabut sini, tapi
Alhamdulillah roda, stang dan rem masih ada, itu pun karena bentuknya enggak
imoet , kalau imuet mungkin sudah dimakan ama anank anak itu. Ketika aku ingin
mendayung sepedaku, dan telah berjalan sepanjang dua meter, tiba tiba aku merasakan berat sekali entah kenapa, tapi setelah itu aku tak
heran lagi karena aku yakin pasti itu yang terjadi, aku yakin pasti itu dan benar
itu dia, ini bukan yang kesekian kalinya dia bocor karena satu hari sebelum
kejadian ini ban sepedaku juga bocor, mau tak mau aku harus mendorong sepedaku
menuju kuliyah karena kalau tidak aku bisa mati kelaparan saat itu soalnya
paginya aku enggak sarapan, maklumlah hari jum’atkan liburan jadi dari mulai
setelah shalat subuh aku langsung star untuk tidur lagi sampai dibangunkan oleh
harist (satpam) tepatnya jam 10:30 dengan bellnya sangat khas suaranya yang muz’ij (bising) itu karena
biasanya gerbang sakan (asrama) kami
akan dikunci jam 11:00. Aku terus mendorong sepedaku yang jaraknya cukup
melelahkan itu, aku berharap masih mendapatkan kartu untuk makan siang,
karena seperti biasanya sebelum makan
kami harus berebut mengambil kartu dan sudah menjadi kebiasaan kami dalam
segala sesuatu harus berebut dan
berebut.
Ku dorong dan ku dorong sepedaku dengan cepat
agar aku gak ketinggalan mengambil kartu memingat hari jum’at adalah hari yang
paling istimewa didalam seminggu, karena dimalam jum’at ahli Tarim mengadakan
bebagai macam ritual yang berbau bau ibadah dan keilmuan seperti membaca
Riyadhussholihin di masjid Sahal dan membaca Maulid Diya’ allamik di Darul
Mushtofa yang diasuh oleh Habib Umar bin Hafizd dan juga Maulid dan Muhadoroh
muhadoroh di masjid masjid lainya, kalau malamnya dipenuhi dengan ritual
ibadah, siangnya – jum’at- juga tidak ketinggalan, sampe sampe makanan hari
jum’at itu berbeda dengan hari hari lainya yang hanya berupa ikan, dihari
jum’at lawuknya ayam dan ayam itulah yang membuat aku tergesah gegah dalam
mendorong sepedaku yang bocor itu, semakin kuingat ayam semakin berbunyi
perutku dan semakin za’lan (marah) pula aku dengan sepedaku yang kubeli seharga
13.750 real itu, aslinya harganya 14.000 real tapi karena kami beli dua jadi
harganya dikurang dikitlah, untukku dan untuk teman sekampungku yang
sampe sekarang sepedanya masih bisa jalan walau terkadang aku juga melihatnya
mendorong dorong. Aku sih tak terlalu za’lan dengan keadaan sepedaku
hampir tiap hari kespes bannya, karena
memang terkadang tak ada duri atau paku
pun sepedaku tetap kespes atau bocor,
itu semua karena suasananya berbeda bukan karena ban sepedaku harganya
murah melainkan karena mataharinya yang begitu panas khususnya dihari jum’at,
dan sayagnnya dihari jum’at tidak ada bengkel yang buka jam segitu, padahal
hari hari biasa jam segitu masih buka bengkel sampe jam 01:15.
Tapi akhirnya aku sampai juga ke kuliyah dan
aku heran kenapa orang orang pada berpaling arah mau pulang, jangan jangan
sipembagi kartu sudah beranjak pergi, oh tidak pikirku, aku terus saja menuju
dapur dan melihat lihat dimana orang yang biasa membagi kartu itu, tapi kok
enggak ada ya? Bisikku dalam hati, aku pun mulai jengkel dengan sepedaku yang
kusandar didekat pohon tak bernama disamping kuliyah kami, keadaan yang seperti
itu lah membuat aku ingin menjual sepeda itu, bahkan aku merasa nyesal
mendorongnya dari masjid sampe kuliyah yang hanya membuatku tambah lapar, aku
ingin nangis, aku ingin marah, aku ingin menjerit karena hari jum’at aku
kelihangan ayam khas kuliyah kami, yang hanya mungkin aku dapati jum’at depan,
tapi subhanallah tiba tiba aku menoleh kearah kanan dari dapur tepatnya sebelah
kanan dari kuliyah ada orang hitam yang sedang berdiri memegang beberapa sisa
kartu, aku sangat mengenal orang itu, dia adalah orang Tanzania yang bertugas
membagikan kartu tiap hari, sepontan aku mengarah menghampirinya dan dia
langsung memberikan kartu itu kepadaku, sakingkan girangnya (bahagia) aku tidak
teringat lagi dengan sepeda yang menjengkelkan itu.
Mulai sejak kejadian itu aku
sangat geram dengan sepedaku, aku ingin menjualnya separoh harga, meskipun pada
hakikatnya aku paling tidak suka menjual barang barangku, apalagi sepeda itu
dulunya diamanahkan untuk pergi tahfizd, tapi apa boleh buat, aku sudah keluar
dari madrasah tahfizd, dan kalau dihitung hitung biaya perobatan sepeda itu aja
dalam setahun ini kurasa sudah bisa membeli dua buah sepeda ontel yang baru.
Biarlah aku jalan kaki berangkat kuliyah, kemasjid untuk shalat jum’at dari
pada berangkat naik sepeda pulang pulangnya malah mendorong.
Sudah lebih
sebulan aku kuliyah jalan kaki, ke Darul Musthofa jalan kaki, bahkan ke masjid untuk shalat jum’at pun aku tetap
jalan kaki, hanya saja enggak ke masjid Jami’ yang banyak dihadiri para habaib
dan masyaikh, melainkan kemesjid yang agak dekat dari kuliyah walaupun agak
capek juga jalan dari masjid itu ke kuliyah, selama sebulan itu juga sepedaku
belum ada orang yang mau beli, sepeda tersebut masih dalam keadaan bocor, bukan
karena kejadian di masjid dulu, tapi kejadian baru yang aku alami setelah
pulang kuliyah.
By: Muhammad Zain Alhudawie yang lebih
dikenal muza
mustawa 3 syari’ah di ahgaff
Tidak ada komentar:
Posting Komentar