Senin, 05 Maret 2012

Sepedaku yang bocor


Sepedaku yang bocor
           Ingin rasanya kubanting sepeda ini, walaupun dulunya aku beli sepeda itu tujuannya adalah untuk berangkat menghapal alqur’an, tapi sayng seribu kali sayang tujuan itu tak terwujud karena baru sebulan lebih aku masuk tahfizd alqur’an, aku sudah tak sanggup lagi untuk menghapal satu ‘ain (sekitar 1 halaman lebih) satu hari yang wajib kami tasmik (setor) setelah ashar. Mulai saat itu, sepedaku hanya berguna untuk mengantarkan aku ke kuliyah dan juga untuk menghadiri shalat jum’at. Tidak ada niat untuk menduakan sepedaku sehingga aku harus beli sepeda baru, tidak ada sama sekali niat itu, tapi ini bukan yang ke-3 kalinya dia bocor dalam seminggu ini, bahkan yang lebih melukai hatiku ketika aku mau pulang dari  shalat jum’at dimasjid Jami’ Tarim, seperti biasanya sebelum pulang kami berebutan menyalami tangan Habib Salim Assyathiri yang mengasuh Rubat Tarim dan Hahib Abdullah bin Syihab yang dikenal ‘Ain Attarim begitu juga kami menyalami para Habaib yang lain, yang tangan tangan mereka ini  sangat sulit kita dapati di indonesia, mungkin karena banyaknya orang orang berebutan untuk menyalami dan menyapa mereka  atau mungkin karena ketidaktahuan mereka terhadap habaib tersebut bahwa mereka  adalah keturunan Rasulullah yang kalau kita berpegang dengan mereka, maka kita tidak akan tersesat didunia ini selama lamanya , itulah perbedaan hadhromaut dan negara negara arab lainnya.
             Setelah salaman dan mencium tanagn mereka dengan niat tabarruk dengan habaib dan orang orang soleh, aku pun menghampiri sepedaku yang telah berumur satu tahun itu, karena aku membelinya satu tahun yang lalu kurang lebih sebulan setelah kedatangan kami kekota Tarim ini, aku membeli sepeda itu dalam keadaan baru lengkap dengan lampu depan dan belakang, meskipun sebulan setelah itu lampunya sudah hilang, maklumlah, lampunya kan imoet jadi anak anak kecil paling suka cabut sana cabut sini, tapi Alhamdulillah roda, stang dan rem masih ada, itu pun karena bentuknya enggak imoet , kalau imuet mungkin sudah dimakan ama anank anak itu. Ketika aku ingin mendayung sepedaku, dan telah berjalan sepanjang dua meter, tiba tiba  aku merasakan berat  sekali entah kenapa, tapi setelah itu aku tak heran lagi karena aku yakin pasti itu yang terjadi, aku yakin pasti itu dan benar itu dia, ini bukan yang kesekian kalinya dia bocor karena satu hari sebelum kejadian ini ban sepedaku juga bocor, mau tak mau aku harus mendorong sepedaku menuju kuliyah karena kalau tidak aku bisa mati kelaparan saat itu soalnya paginya aku enggak sarapan, maklumlah hari jum’atkan liburan jadi dari mulai setelah shalat subuh aku langsung star untuk tidur lagi sampai dibangunkan oleh harist (satpam) tepatnya jam 10:30 dengan bellnya sangat  khas suaranya yang muz’ij (bising) itu karena biasanya  gerbang sakan (asrama) kami akan dikunci jam 11:00. Aku terus mendorong sepedaku yang jaraknya cukup melelahkan itu, aku berharap masih mendapatkan kartu untuk makan siang, karena  seperti biasanya sebelum makan kami harus berebut mengambil kartu dan sudah menjadi kebiasaan kami dalam segala sesuatu harus berebut  dan berebut.
             Ku dorong dan ku dorong sepedaku dengan cepat agar aku gak ketinggalan mengambil kartu memingat hari jum’at adalah hari yang paling istimewa didalam seminggu, karena dimalam jum’at ahli Tarim mengadakan bebagai macam ritual yang berbau bau ibadah dan keilmuan seperti membaca Riyadhussholihin di masjid Sahal dan membaca Maulid Diya’ allamik di Darul Mushtofa yang diasuh oleh Habib Umar bin Hafizd dan juga Maulid dan Muhadoroh muhadoroh di masjid masjid lainya, kalau malamnya dipenuhi dengan ritual ibadah, siangnya – jum’at- juga tidak ketinggalan, sampe sampe makanan hari jum’at itu berbeda dengan hari hari lainya yang hanya berupa ikan, dihari jum’at lawuknya ayam dan ayam itulah yang membuat aku tergesah gegah dalam mendorong sepedaku yang bocor itu, semakin kuingat ayam semakin berbunyi perutku dan semakin za’lan (marah) pula aku dengan sepedaku yang kubeli seharga 13.750 real itu, aslinya harganya 14.000 real tapi karena kami beli dua jadi harganya dikurang  dikitlah,  untukku dan untuk teman sekampungku yang sampe sekarang sepedanya masih bisa jalan walau terkadang aku juga melihatnya mendorong dorong. Aku sih tak terlalu za’lan dengan keadaan sepedaku hampir  tiap hari kespes bannya, karena memang terkadang  tak ada duri atau paku pun sepedaku tetap kespes atau bocor,  itu semua karena suasananya berbeda bukan karena ban sepedaku harganya murah melainkan karena mataharinya yang begitu panas khususnya dihari jum’at, dan sayagnnya dihari jum’at tidak ada bengkel yang buka jam segitu, padahal hari hari biasa jam segitu masih buka bengkel sampe jam 01:15.
             Tapi akhirnya aku sampai juga ke kuliyah dan aku heran kenapa orang orang pada berpaling arah mau pulang, jangan jangan sipembagi kartu sudah beranjak pergi, oh tidak pikirku, aku terus saja menuju dapur dan melihat lihat dimana orang yang biasa membagi kartu itu, tapi kok enggak ada ya? Bisikku dalam hati, aku pun mulai jengkel dengan sepedaku yang kusandar didekat pohon tak bernama disamping kuliyah kami, keadaan yang seperti itu lah membuat aku ingin menjual sepeda itu, bahkan aku merasa nyesal mendorongnya dari masjid sampe kuliyah yang hanya membuatku tambah lapar, aku ingin nangis, aku ingin marah, aku ingin menjerit karena hari jum’at aku kelihangan ayam khas kuliyah kami, yang hanya mungkin aku dapati jum’at depan, tapi subhanallah tiba tiba aku menoleh kearah kanan dari dapur tepatnya sebelah kanan dari kuliyah ada orang hitam yang sedang berdiri memegang beberapa sisa kartu, aku sangat mengenal orang itu, dia adalah orang Tanzania yang bertugas membagikan kartu tiap hari, sepontan aku mengarah menghampirinya dan dia langsung memberikan kartu itu kepadaku, sakingkan girangnya (bahagia) aku tidak teringat lagi dengan sepeda yang menjengkelkan itu.
              Mulai sejak kejadian itu aku sangat geram dengan sepedaku, aku ingin menjualnya separoh harga, meskipun pada hakikatnya aku paling tidak suka menjual barang barangku, apalagi sepeda itu dulunya diamanahkan untuk pergi tahfizd, tapi apa boleh buat, aku sudah keluar dari madrasah tahfizd, dan kalau dihitung hitung biaya perobatan sepeda itu aja dalam setahun ini kurasa sudah bisa membeli dua buah sepeda ontel yang baru. Biarlah aku jalan kaki berangkat kuliyah, kemasjid untuk shalat jum’at dari pada berangkat naik sepeda pulang pulangnya malah mendorong.
Sudah lebih sebulan aku kuliyah jalan kaki, ke Darul Musthofa jalan kaki, bahkan  ke masjid untuk shalat jum’at pun aku tetap jalan kaki, hanya saja enggak ke masjid Jami’ yang banyak dihadiri para habaib dan masyaikh, melainkan kemesjid yang agak dekat dari kuliyah walaupun agak capek juga jalan dari masjid itu ke kuliyah, selama sebulan itu juga sepedaku belum ada orang yang mau beli, sepeda tersebut masih dalam keadaan bocor, bukan karena kejadian di masjid dulu, tapi kejadian baru yang aku alami setelah pulang kuliyah.



By: Muhammad Zain Alhudawie yang lebih dikenal muza
mustawa 3 syari’ah di ahgaff

Tidak ada komentar:

Posting Komentar