Mungkin ada yg bertanya, kira-kira uang jajan sebulan di Ahgaff itu berapa ya?
Tergantung sih, ada teman disini yg dikirim 3 juta sebulan,
ada pula yg 2 juta sebulan, ada juga yg 1 juta sebulan, dan bahkan ada juga yg
500 ribu per bulan. Sejujurnya, saya dulu cuma dikirim 400 ribu sebulan, kadang
naik dikit jadi 500-600 ribu dan sering juga turun dikit jadi 300 ribu. Dan
pernah juga sempat tidak dikirim sebulan atau dua bulan, dan malah saya lebih
senang tidak dikirim daripada dikirim melulu, tapi ya bagaimana lagi, disini
uang memang bukan segalanya tapi segalanya butuh uang kecuali uang kuliyah,
uang asrama, dan uang makan tiga kali sehari.
Oya, bahkan seribu kali bahkan ne ya, ada teman saya yg
tidak pernah dikirim sama sekali kecuali ketika berada di semeter sembilan.
Sampai sekarang saya belum tau rahasianya tapi yg jelasnya hemat itu pasti
salah satu kuncinya.
Ada beberapa alasan kenapa mahasiswa disini butuh uang
saku/jajan:
1. Karena anak SD juga butuh uang saku apalagi mahasiswa.
2. Karena mahasiswa itu juga butuh peralatan baca tulis
seperti kitab, peralatan mandi/nyuci seperti sabun, dan pelaratan lainnya.
3. Karena mahasiswa cepat haus dan lapar apalagi ketika
ujian. Dan di Ahgaff, setahun itu ada enam kali ujian, kalau kamu takmili ya
mungkin bisa jadi sampai 10 kali ujian dalam setahun, dan sejujurnya ujian itu
capek sehingga butuh makanan dan minuman di luar jam sarapan pagi, makan siang,
dan makan malam. Dan nomor tiga inilah yg paling berpengaruh. Apalagi kalau
sudah berada di Tarim, kiri kanan ada kantin, bahkan mereka dengan baik hati
mempersilahkan kita untuk mengutang kepadanya, sehingga dengan mudahnya kita
makan ini dan minum itu, lalu tinggal bilang: sajjil/catat ya hutang saya..!
Ba'da syahar baadfa'/ ntar sebulan lagi saya bayar.
4. Karena mahasiswa di Ahgaff juga butuh biaya tak terduga
seperti ongkos bis jika belanja, uang kartu ujian setahun dua kali, uang
sedekah jika ada orang minta minta, dll.
5. Karena disini beasiswanya cuma makan, asrama, dan kuliah
saja, sehingga uang saku ditanggung sendiri. Berbeda jika kuliyah di timur
tengah lainnya yg diberi beasiswa kuliyah, dan uang saku tanpa diberi asrama
dan makan. Ada juga yg diberi beasiswa kuliyah, asrama, dan uang saku tanpa
diberi makan. Namun jarang sekali -bukan berarti tidak ada- yg memberikan
beasiswa kuliyah, makan, asrama dan uang saku, tapi kenyataannya meskipun
begitu tetap saja mereka masih atau pernah juga minta kiriman dari orang tua
mereka. Ya kedepannya kita berdo'a sajalah semoga Allah memudahkan Univ. Al
Ahgaff hingga suatu saat Ahgaff mampu memberikan uang saku, amin. Namun
bagaimana pun harus tetap bersyukur bisa diterima kuliyah di Ahgaff dan jangan
lupa untuk mendo'akan Abuya Abdullah Muhammad Baharun, Rektor Univ. Al Ahgaff
yg senantiasa berusaha, memikirkan dan mendo'akan para santri santrinya agar
bisa terus menuntut ilmu di negri auliya, di lingkungan auliya, dan bersama
auliya pula agar bisa menjadi orang yg bermanfaat ketika berada di Indonesia
nantinya.
6. Karena mahasiswa disini tidak diizinkan untuk bekerja
seperti teman teman yg berada di timur tengah lainnya. Mereka diizinkan bekerja
sehingga mereka tidak butuh kiriman uang lagi dari orang tua mereka, dan bahkan
mereka yg malah ngirim uang ke Indonesia. Adapun di Tarim, sebagian teman ada
yg diizinin masak nasi untuk dijual. Namun kalau tak salah kebanyakan dari
mereka adalah teman teman yg mustanhij/ngulang setahun sehingga mereka
diizinkan berjualan agar mereka bisa bayar uang maddah dan uang makan selama
setahun kepada pihak kuliyah. Makanya hati hati disini, usahakan jangan sampai
ngulang setahun. Kalau bisa hilangkan saja otak bisnis ketika kuliyah, agar
otak bisnis tidak mengganggu kuliyah kita. Kecuali jika memang sudah hebat
sekali sehingga sanggup menggabungkan antara berbisnis dan kuliah.
7. Karena harus bayar hutang kesana dan kemari. Dan ini
sudah menjadi tradisi, begitu dikirim uangnya langsung habis untuk bayar
hutang. Ya gali lobang tutup lobang gitu lah.
8. Karena yg namanya mahasiswa sukanya boros dan dan malas
berhemat, makanya butuh uang saku dari orang tua setiap bulannya.
Berbicara tentang hemat, saya jadi teringat sekitar satu
tahun atau dua tahun yg lalu di Grup ini juga (https://www.facebook.com/groups/ahgaff/), mungkin sudah banyak yg lupa
sih, ketika saya berusaha mengajak teman-teman disini khususnya anak baru untuk
berusaha menghemat alias menabung sebagian uang saku/uang jajan yg dikirim
orang tuanya sebulan sekali.
Namun sayang seribu kali sayang, sepertinya ajakan saya
untuk menabung uang itu belum terlaksana sampai sekarang, mungkin ada, ya
paling satu atau dua orang saja.
Padahal yg saya inginkan ketika itu adalah angkatan tersebut
(angkatan berapa itu ya, lupa saya) bisa umroh bareng ketika mereka berada di
akhir Mustawa lima nantinya.
Mungkin terlihat aneh, kenapa ketika itu saya hanya mengajak
anak baru yg berada di Mustawa Awal saja. Ya karena kesempatan mereka ngumpulin
uang itu lebih santai, lebih panjang dan lebih banyak. Kalau saya mengajak anak
Mustawa 2,3,4, apalagi lagi 5, ya mungkin mereka tidak sanggup karena sudah
terbiasa menghabiskan uang yg dikirm setiap bulannya, baik itu untuk beli buku
atau untuk jajan sana jajan sini. Dan juga karena waktunya yg terlalu sedikit
jika dibandingkan dengan waktu yg dimiliki oleh anak baru Mustawa Awal.
Oke, kembali ke tujuan awal yaitu menghemat uang saku agar bisa
umroh bareng satu angkatan, caranya gimana?
Tentunya kita harus sepakat kepada orang tua kita yg di
Indonesia, kira-kira mereka sanggup mengirim kita uang saku dalam sebulan
sekitar berapa rupiah?
Mungkin dulu ketika rupiah masih kuat dan dollar belum
tinggi seperti sekarang ini, 400 ribu itu cukuplah untuk sebulan. Tapi sayang
seribu kali sayang, sekarang rupiah melemah dan dollar melonjak tinggi. Dulu
saya masih sempat merasakan 500 ribu rupiah itu sekitar 12000 Reyal Yamani, dan
400 ribu rupiah itu sekitar 10.000 Reyal Yamani. Namun sekarang ini, dikirim
500 ribu rupiah cuma bisa diambil 8000 Reyal Yamani dan 400 ribu rupiah itu
hanya bisa diambil 6000 Reyal Yamani.
Jika begitu kenyataannya, maka setidaknya uang saku dalam
sebulan yg sebaiknya kalian sepakati dengan orang tua adalah 600 ribu rupiah
sebulan atau lebih banyak dikitlah, tergantung kemampuan orang tua masing
masing. 600 ribu rupiah itu sekitar 10.000 Reyal Yamani. Dan menurut saya uang
10.000 ini insya Allah sudah cukup untuk dijadikan uang saku untuk sebulan, dan
bahkan malah masih berlebih 2000 Reyal Yamani, karena jika kita berhebat
sebenarnya 8000 Reyal Yamani itu sudah sangat cukup untuk sebulan.
Jadi, 2000 Reyal Yamani itu ditabung setiap bulannya
sehingga jika sampai setahun maka itu akan menghasilkan 24000 Reyal Yamani, dan
jika sampai lima tahun tepatnya ketika berada di Mustawa Lima Akhir, uangnya
sudah mencapai 120.000 Reyal Yamani, mungkin sekitar 7 juta setengah gituanlah.
Terus hubungannya dengan umroh apa?
Dengan bermodalkan uang 120.000 Reyal Yamani, insya Allah
sudah bisa berangkat umroh. Sebab ongkos umroh itu sekitar 500 Dollar Amerika.
Sekarang, 100 Dollar itu sekitar 21500 Reyal Yamani, anggap saja lah 22000
Reyal Yamani. Jadi 500 Dollar itu sekitar 110000 Reyal Yamani jika 100
Dollarnya 22000 Rayal Yamani, atau sekitar 107500 Reyal Yamani jika 100
Dollarnya 21500 Reyal Yamani.
Intinya adalah dalam lima tahun teman-teman sudah menabung
uang sebesar 120.000 Reyal Yamani, dan jumlah itu melebihi ongkos umroh yg
hanya 500 Dollar atau sekitar 10.7500 atau 110.000 Reyal Yamani.
Sebetulnya sih, ini semua tergantung Dollarnya. Jika
Dollarnya naik melonjak tinggi sekali, maka itu butuh penghitungan baru lagi,
tapi sih mudah-mudahan Dollar tidak bakalan naik lagi, kalau pun naik, saya
yakin tidak terlalu melonjak, dan mudah-mudahan Dollar itu turun seturun
turunnya dan rupiah segera menguat. Sebab setiap kali Dollar naik mahasiswa
disini langsung gigit jari. Apalagi kalau sempat Dollar naik dan rupiah ikut
turun, lengkap dah gigit jarinya..
Gimana gak gigit jari, bayangkan saja, dulu jika ada teman
yg dikirim 1 juta rupiah, maka dengan bangganya dia bisa mengantongi uang
sebesar 23 atau 24 ribu Reyal Yamani, sebagai tasyakurannya bisa beli anggur
lah untuk dimakan bersama di kamar. Sekarang, 1 juta cuma bisa diambil 16000
Reyal Yamani, mau tasyakuran pun harus mikir dua kali, hihi.
Oke, sampai disini sajalah catatan saya. Saya gak tau ini
bakal dibaca atau tidak, kalau pun dibaca saya juga tidak tau apakah ini bakal
terlaksana atau tidak. Yg jelasnya niat saya baik agar antum semua satu
duf'ah/angkatan bisa berangkat umroh bareng bareng..
Mungkin catatan saya ini agak berbeda dengan catatan teman
teman saya yg lainnya. Sebab teman teman saya itu orangnya hebat hebat, dan
tentunya mereka sudah memberitahukan disini bagaimana kehidupan, cara belajar,
dan bahkan kitab-kitab yg akan dipelajari di Ahgaff baik itu ketika di Mukalla
atau pun di Tarim. Eh, malah catatan saya ini berbau uang dollar lah, rupiah
lah, dan reyal lah. Jadi ya agak mengarah ke dunia gitu lah. Tapi ya BI
SHIDQINNIYYAH, insya Allah catatan ini ada manfatannya.
Mungkin ada lagi yg mau bertanya, emangnya yg nulis ini udah
umroh?
Jujur, saya malu menjawabnya, sebab sampai sekarang saya
belum berangkatkan kesana. Bukan karena saya tidak ada uang, tapi karena tidak
ada orang yg mau mengingatkan atau mengajak saya dan teman teman seangkatan
saya ketika Mustawa Awal dulu agar menabung setiap bulan sekitar 2000 Reyal
Yamani. Paling mereka cuma pernah bilang: nanti kita umroh bareng satu duf'ah.
Tapi kalau tidak menabung dari dulu, ya bagaimana bisa berangkat. Bisa sih
berangkat, tapi ya harus minta ke orang tua lagi, dan jujur, saya malu.
Ya, mudah-mudahan program umroh bareng ini bisa terlaksana,
baik itu untuk duf'ah sekarang ini ataupun untuk duf'ah manapun. Dan saya
berharap seribu kali berharap agar ada diantara kalian nantinya yg akan
berusaha untuk menggerakkan impian umroh bareng satu duf'ah ini. Dan jika
berhasil maka Duf'ah kalian akan menjadi contoh teladan bagi Duf'ah-Duf'ah
Ahgaff yg akan datang.
masya Allah, kpn y bisa kuliyah di ahgaff itu???
BalasHapusKalau haji bareng bisa gak?
BalasHapusberapa ongkosnya?