Rabu, 08 Oktober 2014

Rihlah Ke Kota Huraidoh

Senin, 29 Semtember 2014

Setelah mempersiapkan segala perbekalan untuk rihlah, kami pun berangkat dari sakan dakhili, Kuliyah Syari'ah, univ. Al Ahgaff dengan sebuah mobil yg lumayan mewah yg cukup berisikan enam orang. Dua orang di depan dan empat orang di belakang. Mobil pun mulai bergerak dari jam 06:00 pagi. Tujuan rihlah pertama kami adalah berziarah ke Makam Al Habib Muhammad bin Alawi di daerah Bait Al Juber.

Beliau adalah orang yg wara', zuhud, dan juga kuat beribadah sehingga beliau digelar dengan Shohibussauma'ah yang berarti orang yg memiliki termpat peribadahan tersendiri..

Beliau dilahirkan di daerah Bait Al Juber, Hadhramaut dan dibesarkan disana. Beliau mengambil ilmu langsung dari ayah Alawi Bin Ubaidillah dan juga dari tokoh-tokoh ulama yg hidup di zamannya, beliau wafat pada umur 56 tahun disana juga..


Tidak sampai dua puluh dari Tarim kami pun sampai di Bait Al Juber dan langsung menuju ke Makam Al Habib Muhammad Bin Alawi. Sampai disana kami mengucapkan salam sebagaimana yg telah dianjurkan kepada kita agar mengucapkan salam kepada Ahlul Kubur.

Niat rihlah kami yg berupa berziarah ke makam-makam para Auliya di Bumi Hadhramaut ini adalah niat sholeh yg pernah diniatkan oleh para Salafussholeh ketika berziarah ke Makam orang-orang sholeh.

Adapun aktifitas ziarah kami yg pertama ini hanyalah membacakan Alfatihah yg dihadiahkan kepada Al Habib Muhammad Bin Alawi dan tak lupa juga berdo'a dan memohon kepada Allah Swt agar Allah memberikan karuniaNya kepada kami yg berziarah dan juga kepada kaum muslimin di seluruh penjuru dunia..

Dan tentunya masing-masing dari kami juga meminta sesuatu kepada Allah berkat Shohibul Maqom agar Allah mengabulkan segala permintaan kami.

Setelah ritual ini, kami pun segera bergerak menuju Makam Auliyaullah yg berikutnya, namun tak lupa untuk menyimpan memori ziarah ke dalam sebuah potret bersama di depan makam beliau.

Dan beginilah secara ringkas jejak rihlah kami dari makam ke makam..

Setelah menyimpan beberapa memori, kami pun langsung bergegas naik mobil yg disupiri oleh Kang Salikhin itu. Penunjuk jalan kami (Mas Ubed) pun langsung memberi aba aba ke supir agar kita langsung menuju ke makam Habib Alawi Bin Ubaidillah, ayah kandung dari Habib Muhammad Bin Alawi yg barusan kami ziarahi..
Mungkin sekitar 15 menit kami pun sampai di Makam Al Habib Alawi. Nama beliau secara lengkap adalah Alawi Bin Ubaidillah Bin Ahmad Al Muhajir Bin Isa Arrumi Bin Muhammad Annaqib Bin Ali Al Uraidi Bin Ja'far Asshodik Bin Muhammad Al Baqir Bin Ali Zainal Abidin Bin Husain Bin Sayyidina Ali suami Sayyidah Fatimah Binti Rasulullah Sallallahu Alaihi Wassallam..

Beliau dilahirkan di Hadhramaut dan dibesarkan disana. Sejak kecil, beliau telah dididik oleh ayahnya Ubaidillah Bin Al Imam Ahmad Al Muhajir. Beliau gemar mendalami ilmu dan selalu menyibukkan dirinya untuk menuntut ilmi ilmu Islam sehingga beliau berhasil mengusai berbagai macam ilmu pengetahuan. Selain di Hadhramaut, beliau juga pernah menyambungkan pembelajarannya di Makkah dan Madinah..

Semua keturunan Bani Alawi atau Ba'alawi atau Alawiyyin itu berasa dari Habib Alawi Bin Ubaidillah ini..

Sebuah keberuntungan bagi kami bisa berziarah ke asal usul Bani Alawi, alhamdulillah. Seperti sebelumnya ziarah kami ini dipenuhi dengan alfatihah, do'a dan potret memori..

Tujuan kami berikutnya adalah ayahnya Habib Alawi yaitu Imam Ubaidillah Bin Imam Ahmad Al Muhajir. Namun sampai disana kami ziarah dulu ke Nabi Hanzholah Bin Shofwan yg pernah diutus Allah Swt untuk Ashaburrass yg pernah disebutkan kisahnya di dalam Al Qur'an..

Sesampainya kami di Makam nabi Hanzholah yg bertempat di daerah Buur, kami langsung duduk ta'zim dan ritual kami pun bukan hanya sebatas Al Fatihah dan do'a, namun juga ditambah dengan pembacaan Surat Yasin..

Setelah itu kami pun bergegas menuju Makam anaknya Al Imam Al Muhajir yaitu Al Imam Ubaidillah yg berada di Desa Sumal..

Beliau adalah ayah dari Al Habib Alawi atau anak dari Imam Ahmad Al Muhajir. Sejak kecil beliau sudah dididik oleh Imam Al Muhajir. Selain itu beliau juga berguru kepada tokoh ahlussunnah yaitu Syekh Abu Tholib Al Makki. Dibawah asuhan gurunya tersebut, beliau telah berhasil menamatkan kitab Al Quutul Quluub..

Setelah ayahandanya Imam Ahmad Al Muhajir wafat, Imam Ubaidillah berpindah ke Sumal dan beliau pun meninggal disana pada tahun 383 H.

Setelah berziarah ke Habib Muhammad Bin Alawi, Habib Alawi Bin Ubaidillah, dan Habib Ubaidillah Bin Ahmad Al Muhajir. Kini saatnya kami berziarah ke Ahlul Bait yg pertama kali ke Hadhramaut, yaitu Al Imam Al Muhajir Ilallah Ahmad Bin Isa Arrumi..

Hanya dengan sekejab, kami berenam pun (Salkhin, Ubed, Tajab, Dori, Udin, dan saya) akhirnya sampai ke Makam Imam Muhajir yg berada di kota Husaisah..
Imam Muhajir dilahirkan di kota Bashrah, Iraq. Beliau dibesarkan dalam lingkungan keluarga yg amat mulia. Beliau juga seorang yg faqih, dan sangat alim, serta memiliki hati yg bersih dan sangat wara'. Di Kota Bashrah, beliau sangat dihormati dan sangat dimuliakan oleh orang ramai..

Pada tahun 317 H beliau bersama tujuh puluh orang termasuk keluarganya berhijrah dari Kota Bashrah karena di Bashrah saat itu terjadi fitnah Qoromithah, dan akhirnya sampai di Hadhramaut pada tahun 319 H. Oleh karena hijrah itulah Imam Ahmad digelar Al Muhajir..

Di Hadhramaut, beliau menetap di daerah Hajrain selama beberapa tahun, dan setelah itu pindah ke desa Jusyair dan tak lama setelah itu beliau pergi ke Husaisah dan menetap disana dan akhirnya juga wafat disana pada tahun 345 H.

Imam Muhajir bermazhab Imam Assyafi'i. Dan beliaulah orang yg pertama berhasil memasukkan Mazhab Syafi'i ke Hadhramaut yg sebelumnya bermazhab Ibadi, dan hingga saat ini mazhab Imam Syafi'i masih terus berkembang di Hadhramaut berkat keikhlasan Imam Muhajir dan seluruh kuturunannya di dalam menyebarkan dakwah Islam di Hadhramaut..

Setelah melaksanakan rutinitas do'a-do'a di Makam Imam Muhajir, kami ingin langsung melanjutkan perjalanan, namun karena jumlah kami berkurang satu sebab penunjuk jalan kami sedang berada di kamar mandi. Sementara menunggu, kami tak lupa kami mengabadikan memori yg cukup banyak disana, sebab pemandangan dari Makam Imam Muhajir memang sangat indah untuk diabadikan..

Setelah kami berenam lengkap, kami pun langsung menuju ke Makam Syaikhoh Sulthonah yang letaknya tidak berapa jauh dari makam Imam Muhajir.

Kalau di kota Bashrah terkenal dengan Rabiatul Adawiyahnya, maka di Hadhramaut juga terkenal dengan Syaikhah Sulthonahnya, beliau adalah seorang kekasih Allah yang sedari kecilnya sudah menjalani kehidupan seorang shufi..

Beliau adalah Sulthonah Binti ‘Ali Azzabidi iaitu dari keluarga Azzabidi. Beliau sangat cinta dengan Ahlul Bait dan juga mengerti dan menyadari bagaimana kewajiban yg dipikul oleh Ahlul Bait. Syaikhah Sulthonah wafat pada tahun 843H, dan beliau dimakamkan dikampungnya yang dikenali sebagai Hauthoh Sulthonah..

Ketika kami sampai ke makam beliau, kami melihat pintu kubahnya terkunci dan kami berusaha mencari pintu yg terbuka agar kami bisa masuk, namun tetap tidak kami temukan pintu untuk masuk. Dan kami berusaha memeriksa jendela satu persatu dan hasilnya juga tidak ada yg terbuka..

Tiba-tiba saya mendengar salah satu teman saya berkata melalui sebuah lubang dari salah satu jendela yg tertutup: Wahai Syaikhah Sulthunah, kami ingin menziarahimu..

Setelah itu teman saya ini memperhatikan kembali pintu yg kami sangka terkunci dengan gembok atau memang benar-benar terkunci dengan gembok itu ternyata tidak terkunci dan akhirnya pintunya terbuka dan kami pun serentak mengatakan alhamdulillah, karena pintunya terbuka dan kamu pun dengan mudahnya masuk dan melalukan rutinitas kami..

Setelah melakukan rutinitas di makam Syaikhah Sulthanah, kami ingin melanjutkan perjalan ke Makam Habib Ali Bin Muhammad Al Habsyie, pengarang Maulid Sumtuddurar di kota Seyun, Namun sayangnya ketika itu kami belum sarapan, dan sebagian dari kami perutnya sudah mulai keroncongan sehingga kami berniat untuk sarapan dahulu di sebuah Restoran yg bernama Arrayan, dan tak lupa untuk mengabadikan foto kami yg sedang sarapan di Restoran tersebut..

Setelah sarapan, kami langsung ke mobil dan bergerak menuju tujuan kami selanjutnya. Di mobil kami mulai berbincang-bincang membicarakan tujuan berikutnya, dan tak lupa untuk membeli anggur diperjalan sebagai makanan ringan di mobil. Akhirnya kami sepakat untuk melanjutkan perjalanan kami ke kota Syibam, sebuah kota yg berperadapan tinggi dan juga dikenal dengan kota gedung pencakar langit yg terbuat dari tanah labin. Sehingga kami harus mengundurkan niat kami untuk berziarah ke makam pengarang Maulid Sumtuddurar. Dan kami berniat untuk berziarah kesana setelah pulang dari Kota Huraidoh saja..

Akhirnya kami pun sampai di kota Syibam, dan kami pun langsung menuju ke pemakaman para masyaikh, ulama dan habaib yg ada disana seperti Al Habib Umar bin Sumait dan tak jauh dari sana juga terlihat makamnya Assyekh Abdullah Al Qodim Bin Muhammad Ba'abbad..

Seperti biasanya, setelah melakukan rutinitas, kami langsung menuju ke Kota Huraidoh, sebuah kota yg pernah disebut oleh Imam Ali Al Habsyie di dalam bait syairnya: Fi Huraidoh Qod Hadornaa Majma'al Qoumil Kirami, Wa Balaghnas Maa Thalabnaa Min Mathaalib Wa Maroomi..

Tak disangka jam menunjukkan angka 11: 45 siang, dan kami pun sampai di kota Huraidoh dengan disambut oleh kumandang azan Zuhur, dan kami pun melakukan shalat jama' taqdim disana tepatnya di Masjid Al Hawi..

Setelah shalat kami langsung menuju pemakaman Habaib, Masyaik, dan Ulama yg berada disana. Dan kebetulan sekali kami bertemu seseorang yg sudah sepuh, yg menggunakan tongkat juga menuju ke kubah yg berada di pemakaman tersebut. Dan akhirnya kami mengikuti beliau dan menunjukkan kepada kami makam makam auliya yg berada di kubah tersebut satu persatu, dari mulai Makam Habib Umar Bin Abdurrahman Al Attos dan kedua anaknya, Habib Ahmad Bin Hasan Al Attos dan hingga Al Habib Abu Bakar Bin Abdullah Al Attos..


Mumpung ada beliau, akhirnya kami menyerahkan rutinitas kami kepada beliau. Dan kami akhirnya mengikuti dan mengaminkan do'a-do'a yg beliau panjatkan. Lalu kami membaca Yasin bersama dan setelah itu beliau menyuruh kami untuk membaca Surat Al Waqi'ah bersama-sama..

Setelah itu saya ingin ada diantara kami yg akan membaca sebuah Qosidah karangan Imam Haddad yg sangat disukai oleh Habib Umar Bin Abdurrahman Al Attos, namun semuanya pada malu, akhirnya saya memberanikan diri untuk membaca Qosidah tersebut setelah beberapa kali saya tawarkan kepada yg lain yaitu Qosidah yg awalnya: Idza Syikta An Tahya Sa'idan Madal Umri..

Setelah membaca Qoshidah itu, akhirnya seseorang yg sudah sepuh tadi bercerita dan juga sedikit memberikan siraman rohani kepada kami. Setelah itu teman saya Khudori bertanya siapa nama beliau, ternyata nama beliau adalah Abdul Qodir Bin Sholeh Bin Zein Al Attos, beliau adalah salah satu keturunan dari beberapa makam yg kami ziarahi saat itu. Kemudian beliau juga bertanya kepada kami siapa nama kami satu persatu..

Setelah itu beliau pamit pulang duluan sebab beliau juga harus mengurus anak-anaknya dan sedangkan kami masih belum ingin pulang karena karena kota Huraidoh ini adalah kota tujuan kami yg datang dari Tarim..

Awalnya kami ingin membacakan Yasin 41 kali dibagi enam orang di depan makam Al Habib Abu Bakar Bin Abdullah Al Attas, namun karena waktu kami tidak cukup maka setiap dari kami memohon kepada Allah dan membacakan apa yg sanggup dibaca saja..

Sepintas kulihat tetesan air mata temanku yg sedang bermunajat kepada Allah yg berada tepat di depan makam Al Habib Abu Bakar Bin Abdullah Al Attos..

Oya, saya belum bercerita tentang Al Habib Abu Bakar Al Attos, Al Habib Ahmad Bin Hasan Al Attos dan Al Habib Umar Bin Abdurrahman Al Attos..

Saya akan mulai dari Al Habib Umar Bin Abdurrahman Al Attos yg saya kutip dari sebuah tulisan..

Nama beliau adalah Umar bin Abdurrahman bin Agil bin Salim bin Ubaidullah bin Abdurrahman bin Abdullah bin Syeikh al Ghauts Abdurrahman Asseggaf bin Muhammad Maulah Dawilah bin Ali bin Alawi al Ghoyur bin Sayyidina al Faqih al Muqaddam Muhammad bin Ali binl Imam Muhammad Shahib Mirbath bin Ali bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidullah bin Imam al Muhajir Ahmad bin Isa bin Muhammad an Naqib binl Imam Ali al Uraidhi bin Jaafar as Shadiq bin Imam Muhammad al Baqir bin Imam Ali Zainal Abidin bin Imam Hussein as Sibith bin Imam Ali bin Abi Thalib dan bin Batul Fatimah az-Zahra binti Rasullullah S.A.W.

Asal mula dinamakan 'Al Attos'

al-Faqih Abdullah bin Umar Ba'ubad pernah bercerita:

"Beliau dinamakan al Attos yang bermakna orang yg bersin, kerana beliau pernah bersin ketika masih berada di dalam perut ibunya".

Kata Al Habib Ali bin Hassan al Attos: "Sebenarnya apa yang diucapkan oleh Syeikh al Faqih Abdullah bin Umar Ba'ubad adalah benar, hanya saja menurut kabar yang paling benar dikatakan bahwa pertama kali bersin ketika masih berada di perut ibunya adalah Habib Aqil, namun yang terkenal hanya Habib Umar bin Abdurrahman al Attos, sehingga berita itu hanya dikenal pada diri beliau dan anak beliau dan anak cucu Aqil dan Abdullah, saudara beliau. Sedangkan anak cucu Sayyidina Aqil bin Salim yang lain dikenal dengan nama keluarga Aqil bin Salim".

Jadi semua keturunan Al Attos berasal dari beliau yaitu Habib Umar Bin Abdurrahman Al Attas.

Beliau dilahirkan di desa Lisk dekat dengan desa Ainat, di bahagian bawah negeri Hadhramaut, di akhir abad ke-10 H.


Sejak kecilnya beliau diasuh dan dididik oleh ayah beliau sendiri, Habib Abdul Rahman bin Aqil. Meskipun mata beliau buta sejak kecil, tetapi Allah memberinya kecerdasan otak dan pandangan hati ( Bashirah ), sehingga beliau mudah menghafal apa saja yang pernah didengarnya. Beliau berguru dari orang-orang yang pernah berguru dari Sayyidina Syeikh Abu Bakar bin Salim, terutama dari putra-putranya, iaitu al-Habib Muhdhor bin Syeikh Abu Bakar, al-Habib Hussein bin Syeikh Abu Bakar dan al- Habib Hamid bin Syeikh Abu Bakar.

Al-Habib Umar sangat mengagungkan dan menghormati guru beliau yang bernama al-Habib Hussein bin Syeikh Abu Bakar bin Salim.


Pada suatu hari al-Habib Umar bersama sekelompok para tokoh Alawiyin datang ke tempat al-Habib Hussein bin Syeikh Abu Bakar bin Salim, pada waktu itu al-Habib Umar merupakan satu-satunya orang yang paling merendahkan diri dan memakai pakaian ang paling sederhana, ditambah lagi kedua matanya tidak dapat melihat. Ketika al-Habib Hussein melihat al-Habib Umar berada di paling belakang rombongan itu, maka al-Habib Hussein berubah wajahnya, kemudian beliau berkata kepada orang-orang yang terkemuka dari rombongan itu: "Sesungguhnya kalian hanya lebih mengutamakan penampilan lahiriah, dan kalian tidak mau memuliakan orang yang paling mulia menurut kedudukan yang sepantasnya, andakata kalian tahu kemuliaan lelaki ini, iaitu al-Habib Umar, pasti kedudukan kalian tidak ada artinya, leher-leher kalian akan menunuduk dan ruh serta jasad kalian akan rindu kepadanya". Kemudian beliau menyebutkan keutamaan-keutamaan al-Habib Umar yang menyebabkan mereka berasa betapa kecilnya dirinya masing-masing".

Al-Habib Umar selalu menghabiskan waktunya untuk muzakarah segala cabang ilmu pengetahuan, untuk keperluan yang satu ini, beliau suka menghabiskan waktu satu malam penuh. Adakalanya tiba waktu fajar, sedangkan beliau masih menerangkan berbagai macam hakikat ketuhanan (Hakaik) kepada murid-murid beliau. Pokoknya tidak satu waktupun beliau lewatkan, kecuali beliau lewatkan dengan ibadah dan menimba ilmu atau mendengar suatu bacaan. Biasanya jika ada sekelompok orang duduk di malam hari bersama beliau, maka beliau melayani mereka, sampai ketika mereka bubar, maka beliau berkata kepada Syeikh Ali Baras: "Wahai Ali, apakah masih ada orang lain selain kita?". Jika dijawab tidak, maka beliau berkata: "Ambilkan kitab itu, untuk kita baca bersama".


Al-Habib Umar suka mendengar qasidahnya al-Habib Abdullah ibnu Alwi al-Haddad, yang awal mula baitnya adalah: iza syikta an tahya saidan madal umri..

Jika qasidah ini dikumandangkan oleh seseorang di depan Habib Umar, maka beliau suka menyuruh orang itu untuk mengulanginya, sebab beliau sangat menyayangi dan merasa kagum qasidah itu.

Al-Habib Ahmad ibnu Hasyim al-Habsyi berkata: "Dulunya aku dan as-Sayid Abdullah al-Haddad sering berkunjung kepada al-Habib Umar al-Attas, tidak lama, maka al-Habib Abdullah mendapat pancaran Ilahi (Futuh) sebelum aku mendapatkannya, sehingga minatku kepada beliau berkurang. Ketika aku adukan keadaanku kepada Habib Umar, maka beliau menghadap kepadaku dan mendo'akanku untuk mendapatkan seperti yang didapati al-Habib Abdullah al-Haddad. Maka sejak saat itu akupun mendapat pancaran Ilahi.

Di antara murid-murid yang pernah belajar dari Habib Umar adalah: Putra-putra beliau, di antaranya adalah Habib Husin, Habib Salim, Habib Abdurahman, saudara- saudara beliau Habib Aqil, Habib Abdullah al-Haddad, Habib Isa bin Muhammad al-Habsyi, Habib Ahmad bin Hasyim al-Habsyi, Habib Abdullah bin Ahmad Balfaqih, Habib Muhammad bin Abdurrahman Madihij, dll.

Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad berkata: "Al-Habib Husin bin Syeikh Abu Bakar sangat sangat bangga dikarenakan Habib Umar menuntut ilmu dari beliau". Habib Ali al-Attas berkata: "Habib Umar al-Attas sangat bangga dikarenakan Habib Abdullah al-Haddad menuntut ilmu dari beliau".


Disebutkan oleh salah seorang murid Habib Abdullah al- Haddad, bahawa ketika aku berada di majlis Habib Abdullah al-Haddad, maka tergerak hatiku untuk menanyakan kepada beliau tentang sifat Habib Umar al- Attas. Maka secara spontan Habib Abdullah al-Haddad berkata: "Seorang yang mengenali Habib Umar al-Attas, maka ia akan dapati sifat Habib Umar al-Attas mirip dengan Sayyidina Abdurrahman as-Seggaf". Kata al-Habib Abdullah al-Haddad: "Habib Umar al-Attas adalah ibarat hati dan kebenaran yang dimiliki oleh seseorang dan orang itu tidak memiliki nafsu apapun."

Ketika Habib Abdullah al-Haddad ditanya seseorang, apakah Habib Umar al-Attas meninggalkan karya tulis atau bait-bait puisi?" Jawab Habib Abdullah: "Yang ditinggalkan oleh Habib Umar adalah orang-orang seperti aku, Syeikh Ali Baras dan Syeikh Muhammad Bamasymus".

Habib Umar menghembuskan nafasnya yang terakhir di tengah malam , iaitu malam Khamis tanggal 23 Rabi'ul Akhir 1072H.

Berikutnya adalah Al Habib Ahmad Bin Hasan Al Attos..
Nama beliau adalah Ahmad Bin Hasan Bin Abdullah Bin Ali Al Attos. Beliau lahir pada tahun 1257 H dan semenjak kecil sudah didik oleh keluarganya. Dan beliau juga diasuh dan sangat diperhatikan oleh Imam Ahlil Kasyf Al Habib Sholeh Bin Abdullah Bin Ahmad Al Attos dan kemudian beliau juga dididik Quthbul Ma'arif Al Habib Abu Bakar Bin Abdullah Al Attos.

Sejak kecil Al Habib Ahmad Bin Hasan Al Attos ini sudah tidak dapat melihat, namun Allah Swt senantiasa memuliakannya dengan penglihatan bashirahnya..

Beliau berguru bukan hanya di kota Huraidhoh, melainkan juga di Makkah dan Madinah seperti Syekh Ahmad Zaini Dahlan. Dan beliau juga menuntut ilmu di kota Tarim bersama Habib Muhammad Bin Ibrohim Balfaqih dll..

Al Habib Ahmad Bin Hasan Al Attos pernah berkata: Ada tiga hal yang diperlukan bagi mereka yg tinggal di kota Tarim yaitu tawadhu', adab, dan hidup sederhana. Saya sendiri di hadapan makam beliau memohon kepada Allah agar Allah memberikan kepada saya sifat Tawadhu', Beradab, dan bisa hidup sederhana..

Beliau meninggal dunia pada lima Rajab tahun 1334 H dan dimakamkan di samping makam Habib Umar Bin Abdurrahman Al Attos..

Dan yg terakhir adalah Habib Abu Bakar Bin Abdullah Bin Tholib Bin Husain Bin Umar Al Attos. Beliau lahir pada tahun 16 Jumadil Awal thn 1216 H. Beliau adalah guru futuh Habib Ali Bin Muhammad Al Habsyie, pengarang Maulid Sumtuddurar dan juga guru Habib Ahmad Bin Hasan Al Attos. Dan bahkan Al Habib Abdullah Muhammad Baharun Rektor Univ. Al Ahgaff pernah berkata bahwa Al Habib Abu Bakar Al Attos ini adalah guru futuh beliau, meskipun beliau tidak sezaman dengan Al Habib Abu Bakar Al Attos..

Al Habib Toha Bin Hasan Asseggaf pernah berkata di ta'likannya di kitab Al Amali karangan Ahmad Bin Abdurrahman Asseggaf, bahwa Al Habib Abu Bakar Al Attos adalah seseorang yang masyhur kewaliyannya dan memiliki karomah yg banyak sekali, dan beliau juga orang yg selalu berjumpa dengan Rasulullah Saw secara Yaqozhoh. Sehingga banyak sekali ulama dan habaib setelah beliau yg menulis riwayat hidup tentang beliau seperti Habib Abdullah Bin Abu Bakar menulis biografi tentang beliau di kitabnya Halawatul Qirthos, dan biografi beliau juga ditemukan di kitab Tajul A'raas, kitab Fuyudhotul Bahri, dan juga di kitab Fathullahil Ali dan juga di kitab-kitab lainnya..

Habib Toha Assegaff juga pernah bilang bahwa Al Habib Abu Bakar Al Attos itu sering sekali memperlihatkan Nabi Muhammad Saw kepada Muridnya Habib Ali Muhammad Al Habsyie..

Al Habib Abu Bakar Al Attos meninggal dunia pada 17 Dzul Qo'dah 1281 H di Kota Huraidah..

Dan Alhamdulillah kami berenam bisa berkunjung dan berziarah kepada Al Habib Umar Bin Abdurrahman Al Attos, Al Habib Ahmad Bin Hasan Al Attos dan Al Al Habib Abu Bakar Bin Abdullah Al Attos..

Setelah semua ritual telah kami nikmati dan kami lalui bersama, kami ingin sedikit melanjutkan perjalan Kota Masyhad tempat dimana Al Habib Ali Bin Hasan Al Attos cucunya Al Habib Umar Bin Abdurrahman dimakamkan sekaligus disana tempat kami makan siang dan istirahat..

Setelah istirahat sekitar satu jam, kami langsung masuk ke kubah dimana Al Habib Ali Bib Hasan Al Attos dimakamkan. Beliau lahir pada tahun 1121 H dan meninggal pada tahun 1172 H.

Setelah itu kami langsung pulang menuju kota Tarim Al Ghonna, dan sayang seribu kali sayang kami tidak sempat singgah ke Makam Habib Ali Bin Muhammad Al Habsyie yg berada di Seyun sesuai yg pernah kami rencanakan, dan akhirnya kami sampai di Tarim tepatnya jam 06: 45 Malam..















































Lihat foto selengkapnya di https://www.facebook.com/arandimo1231/media_set?set=a.1480805855538081.1073741835.100008260419632&type=1




Tidak ada komentar:

Posting Komentar