Saya membacanya sedih dan juga sambil tersenyum..
Kisah Salman Al-Farisi yg ingin meminang seorang prempuan dari Bani Laits. Namun sayangnya Salman Al-Farisi malu secara langsung untuk meminang gadis tersebut. Lalu Salman Al-Farisi mengajak sahabatnya yg bernama Abu Dardak agar segera meminang gadis tersebut untuk Salman Al-Farisi. Lalu Abu Dardak pun ke rumah gadis tersebut untuk menemui keluarga gadis tersebut guna meminangnya untuk Salman Al-Farisi. Abu Dardak pun menyampaikan tujuan maksudnya dan menyebutkan segala kebaikan dan pujian untuk Salman Al-Farisi.
Namun, sayang seribu kali sayang, yg terjadi malah sangat mengharukan. Keluarga gadis tersebut tidak mau menikahkan gadisnya dengan Salman Al-Farisi, mereka hanya menikahkan gadisnya dengan Abu Dardak. Dan singkatnya Abu Dardak pun menikahi gadis tersebut.
Lalu Abu Dardak menemui sahabatnya Salman Al-Farisi dan sungguh ia sangat malu untuk menceritakan kejadiannya, namun setelah dipaksa akhirnya Abu Dardak pun menceritakan semuanya.
Lalu apa kata Salman Al-Farisi? Apakah dia marah terhadap sahabatnya karena tidak bisa menerima kenyataan?
Saya gak nyangka bahwa begitu lembutnya hati Salman Al-Farisi, sehingga pantas sekali pengarang kitab Qososul Auliya (Muhammad Kholid Tsabit) menyebutkan kisah Salman Al-Farisi ini di peringkat pertama pada bagian Zuhudnya Para Wali-Wali Allah.
Salman Al-Farisi berkata kepada Abu Dardak yang telah menceritakan semuanya dengan penuh rasa malu: Sebenarnya saya lah yg lebih berhak malu daripada engkau wahai sobatku, sebab bagaimana mungkin aku hendak memimang gadis itu sedangkan gadis itu telah ditakdirkan oleh Allah untukmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar