Sabtu, 01 Juni 2013

:: Ketika Aku di Asrama :: Part 1




Tepatnya tahun 2001 bulan Juni (kalau tak salah) aku menginjakkan kakiku diasrama untuk yang pertama kalinya, ketika itu aku diantar oleh nenekku bersama temanku yang badannya lebih kecil dari aku dan juga lebih ganteng dari aku sedikit, mungkin ada yang bertanya siapa orang tersebut? Dia adalah Muhammad Ismail yang akrab dipanggil si Black, meskipun demikian dia tetap sahabatku dari SD, Ibtidai, SMP, Tsanawi, Muallimin, dan Qismul'ali. Dia juga jauh lebih pintar dari aku, lebih bersih dari aku dan juga lebih pendiam dari aku. Seingatku, aku adalah orang yang pertama kali menginjakkan kakiku diasrama daripada dia, karena kami dulu satu motor dan aku lebih dahulu turun dari motor ketimbang dia, berarti aku yang pertama masuk asrama ketimbang dia, hehe.


Walaupun begitu, entah mengapa dia yang pertama keluar asrama daripadaku dengan alasan yang tidak pernah diketahui oleh siapa pun, termasuk aku sendiri pun tak tau apa alasan kenapa dia tiba-tiba ingin keluar asrama.

Seperti biasanya, setiap orang yang menginjakkan kakinya diasrama harus mendapatkan titel, hanya saja titel ini bersifat sementara, berbeda dengan titel yang diperoleh ketika kuliyah S3 yaitu Doktor, titel ini bertahan sampai akhir hayat selagi titel tersebut tidak dicabut oleh lembaga yang bersangkutan.

Jetor, itulah titel yang kuperoleh diasrama, meskipun aku bukanlah orang yang pertama mendapatkan titel karena ada beberapa orang sebelum aku yang memperoleh titel itu, namun aku tetap bahagia dengan titel ku peroleh saat itu.

Maka sejak titel itu dinobatkan kepadaku, sejak itu pula aku dipanggil jetor oleh teman-teman yang ingin bercanda atau yang lagi kesal terhadapku.

Aku tak ingat siapa orang yang pertama kali memberi gelar terhormat tersebut, karena dulu tak ada niat untuk jadi penulis atau pengamat atau apalah namanya agar aku tau orang-orang yang memberi gelar dan orang yang diberi gelar disaat itu.

Soalnya, sayang sekali gelar/titel tersebut tidak diketahui kronologinya sehingga kurang begitu berkesan jika kita sudah tidak berada diasrama lagi.

Selain jetor, masih banyak titel-titel terhormat yang bertebaran diasrama tersebut seperti keling, cibun, manuk, ayam, kambing, pengap, gerot, gilo, buncit, parnap, lekung, cebol, kocik, tengkor dan masih baaaaanyak gelar-gelar yang lain.

Namun ketika kita keluar dari asrama, kita mulai rindu dengan sebutan-sebutan tersebut, kita merasa kangen dipanggil dengan gelar-gelar itu.

Kesan-kesanku diasrama bukan hanya sebatas gelar jetor, karena undangan juga sebuah kesan yang paling tidak bisa kulupakan, apalagi undangan yang pertama kalinya aku ikuti.

Demi undangan, aku rela minjam sendal nek Inod (Almarhumah Nek Nadriyah/ Ibu dari Almarhum Mu'allim Fakhrurrozi -Ghofarallahu lahuma-) yang ketika itu hendak melakukan shalat, aku berjanji untuk memulangi sendal itu, kebetulan aku belum punya sendal, aku kan masih dari kampung, aku hanya memakai sepatu, aku belum mengerti peraturannya ketika itu, makanya aku minjam sendal dan akhirnya dapat juga ikut undangan yang pertama kalinya.

Namun dasar manusia itu bagaikan kacang lupa kulitnya, sakingkan bahagianya bisa ikut undangan, begitu dapat amplop aku langsung lupa bentuk sendal yang kupinjam tadi, aku takut dimarahi pulang tanpa sendal, akhirnya aku tunggu aja sampai sendal terakhir, dan aku yakin itulah sendalnya, hehe..

Ini baru hari pertama diasrama tapi kok panjang banget ya ceritanya, ampe bosan nulisnya apalagi membacanya, haha, mungkin ada yang bisa bantu aku bercerita tentang diriku dan dirimu? Mungkin kita pernah berantem, atau pernah sekelas, atau pernah nyuruh-nyuruh aku, atau pernah nampar, nyiksa, atau pernah berebut cewek kali ya, haha..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar