Tepatnya tahun 2001 bulan Juni (kalau tak salah) aku menginjakkan
kakiku diasrama untuk yang pertama kalinya, ketika itu aku diantar oleh nenekku
bersama temanku yang badannya lebih kecil dari aku dan juga lebih ganteng dari
aku sedikit, mungkin ada yang bertanya siapa orang tersebut? Dia adalah
Muhammad Ismail yang akrab dipanggil si Black, meskipun demikian dia tetap
sahabatku dari SD, Ibtidai, SMP, Tsanawi, Muallimin, dan Qismul'ali. Dia juga
jauh lebih pintar dari aku, lebih bersih dari aku dan juga lebih pendiam dari
aku. Seingatku, aku adalah orang yang pertama kali menginjakkan kakiku diasrama
daripada dia, karena kami dulu satu motor dan aku lebih dahulu turun dari motor
ketimbang dia, berarti aku yang pertama masuk asrama ketimbang dia, hehe.
Walaupun begitu, entah mengapa dia yang pertama keluar asrama
daripadaku dengan alasan yang tidak pernah diketahui oleh siapa pun, termasuk
aku sendiri pun tak tau apa alasan kenapa dia tiba-tiba ingin keluar asrama.
Seperti biasanya, setiap orang yang menginjakkan kakinya diasrama
harus mendapatkan titel, hanya saja titel ini bersifat sementara, berbeda
dengan titel yang diperoleh ketika kuliyah S3 yaitu Doktor, titel ini bertahan
sampai akhir hayat selagi titel tersebut tidak dicabut oleh lembaga yang bersangkutan.
Jetor, itulah titel yang kuperoleh diasrama, meskipun aku bukanlah
orang yang pertama mendapatkan titel karena ada beberapa orang sebelum aku yang
memperoleh titel itu, namun aku tetap bahagia dengan titel ku peroleh saat itu.
Maka sejak titel itu dinobatkan kepadaku, sejak itu pula aku
dipanggil jetor oleh teman-teman yang ingin bercanda atau yang lagi kesal
terhadapku.
Aku tak ingat siapa orang yang pertama kali memberi gelar terhormat
tersebut, karena dulu tak ada niat untuk jadi penulis atau pengamat atau apalah
namanya agar aku tau orang-orang yang memberi gelar dan orang yang diberi gelar
disaat itu.
Soalnya, sayang sekali gelar/titel tersebut tidak diketahui
kronologinya sehingga kurang begitu berkesan jika kita sudah tidak berada
diasrama lagi.
Selain jetor, masih banyak titel-titel terhormat yang bertebaran
diasrama tersebut seperti keling, cibun, manuk, ayam, kambing, pengap, gerot,
gilo, buncit, parnap, lekung, cebol, kocik, tengkor dan masih baaaaanyak
gelar-gelar yang lain.
Namun ketika kita keluar dari asrama, kita mulai rindu dengan
sebutan-sebutan tersebut, kita merasa kangen dipanggil dengan gelar-gelar itu.
Kesan-kesanku diasrama bukan hanya sebatas gelar jetor, karena
undangan juga sebuah kesan yang paling tidak bisa kulupakan, apalagi undangan
yang pertama kalinya aku ikuti.
Demi undangan, aku rela minjam sendal nek Inod (Almarhumah Nek
Nadriyah/ Ibu dari Almarhum Mu'allim Fakhrurrozi -Ghofarallahu lahuma-) yang
ketika itu hendak melakukan shalat, aku berjanji untuk memulangi sendal itu,
kebetulan aku belum punya sendal, aku kan masih dari kampung, aku hanya memakai
sepatu, aku belum mengerti peraturannya ketika itu, makanya aku minjam sendal
dan akhirnya dapat juga ikut undangan yang pertama kalinya.
Namun dasar manusia itu bagaikan kacang lupa kulitnya, sakingkan
bahagianya bisa ikut undangan, begitu dapat amplop aku langsung lupa bentuk
sendal yang kupinjam tadi, aku takut dimarahi pulang tanpa sendal, akhirnya aku
tunggu aja sampai sendal terakhir, dan aku yakin itulah sendalnya, hehe..
Ini baru hari pertama diasrama tapi kok panjang banget ya
ceritanya, ampe bosan nulisnya apalagi membacanya, haha, mungkin ada yang bisa
bantu aku bercerita tentang diriku dan dirimu? Mungkin kita pernah berantem,
atau pernah sekelas, atau pernah nyuruh-nyuruh aku, atau pernah nampar, nyiksa,
atau pernah berebut cewek kali ya, haha..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar