Kebaikan apa yang aku lakukan hari ini ya Rabb, ungkapku dalam hati dengan penuh tanda tanya?
Hari ini adalah hari mulainya ijazah tahdiriyah (Libur Tenang) karena tanggal 15 Juni ini kami akan menghadapi ujian semester tahun ajaran 2012-2013 M.
Selesai sarapan pagi tepatnya jam 08:15 aku menuju kamarku yang baru di sakan dakhili ghurfah an-Naqsyabandi. Karena kekenyangan dan kelelahan akibat belum tidur malam, aku pun langsung menuju kasurku yang tidak ada kepindingnya itu soalnya masih anak baru di kamar jadi belum kenalan dengan kepinding. Aku ingin langsung memejamkan mata namun tak lupa buka facebook dulu, mana tau ada pemberitahuan baru. Tak disangka kelopak mataku pun mulai sayup-sayup bak daun kelapa yang ditiup angin sepoi-sepoi turun naik turun naik, dan "cling" aku pun tertidur.
Tiba-tiba aku bangun dari tidur tanpa mimpi sama sekali dan langsung terdengan azan zuhur di Mushollah yang sangat berdekatan dengan kamarku.
Badanku rasanya pegal-pegal sekali, mungkin ini pengaruh dari ngangkat barang-barang sendirian dari sakan Quhum lantai tiga paling pojok dekat kamar mandi musholla menuju Sakan Dakhili lantai dua yang juga dekat kamar mandi dan musholla. Mataku pun masih perih, mungkin karena kurang tidur, ini yang mengkibatkan mataku makin sipit kayak orang Jepang atau orang China. Dengan rambut yang acak-acakan yang udah mulai panjang karena aku gak sempat mangkasnya sebab langkah sekali mendapatkan tukang pangkas yang handal di sakan ini, mau pergi ke tukang pangkas takut kemahalan, ya terpaksa kubiarkan saja lah rambut ini, ntar juga pendek sendiri, ungkapku dalam hati dengan pura-pura tolol.
Ku rebahkan badanku dan kuangkat tangan ku keatas "eits" jangan tinggi-tinggi, soalnya diatas ada kipas angin yang hanya berjarak tiga jengkal dari kepalaku kalau dalam posisi duduk, yang jelasnya kalau berdiri tegak kepala siapa pun akan melayang "wow" cukup menyeramkan bukan, dan aku mulai mencoba mendarat kebawah karena aku berada dikasur tingkat dua, mungkin nunggguin anak mustawa lima pulang ke Indo barulah aku bisa dengan tenang tidur di kasur tingkat satu tanpa harus susah payah naik turun naik turun dan juga tentunya tak perlu memperhatikan kipas angin yang cukup wow itu.
waaaah, ceritanya kepanjangan ne, langsung aku next next aja ya. Setelah turun dari kasur aku langsung mandi, setelah mandi aku pakaian, setelah pakaian ternyata jama'ah shalatnya sudah abis. Aku keliling-keliling sebentar dari kamar ke-kamar mencari orang yang belum shalat, karena aku tau mushalla tingkat atas dan bawah tidak akan pernah mencukupi jumlah mahasiswa yang tinggal disana untuk shalat berjama'ah.
namun (ini baru mulai ceritanya, kayak Reff ghitulah, bagian terpenting dalam cerita ini) ketika aku menuju ke kamar ujung, tiba-tiba aku dikejutkan oleh temanku yang bernama Muhammad Fu'ad Mas'ud, beliau ini kalau komen distatusku selalu ku hapus komennya atau bahkan sekalian statusku yang ku hapus, soalnya komennya pasti yang pedas-pedas. Tiba-tiba si Fuad bilang ke aku, hei "wi" (sapaanku banyak sekali, bisa "wi" singkatan dari al-hudawi, atau "za" singkatan dari Muza yang Muza itu sendiri juga singkatan dari Muhammad Zain Al-Hudawi, kata Habib Musawa sih Muza itu nama kucingnya Rasulullah SAW, "kamu jangan malu karena sapaanmu nama kucing, kamu sebetulnya harus bangga karena kucing tersebut dinisbahkan ke Rasulullah, terlepas dari benar tidaknya itu nama kucing Rasulullah SAW, yang jelas itu adalah singkatan dari nama yang sangat mulia).
Oke, lanjut kecerita kita tadi ya, "Hei Za," kata fuad. Kamu enggak taqdim ya kemaren? Taqdim adalah surat pengajuan permohonan. "Taqdim apaan" tanyaku penasaran, "alahhhh, kamu udah tau kan? Pura-pura gak tau lagi," katanya. "Iya, beneran aku gak tau apa-apa, aku aja baru bangun tidur ne" kataku dengan serius. "Kamu kan MAHRUM dua pelajaran gara-gara Ghiyab" mahrum adalah istilah khusus di Universitas Al-Ahgaff yang berarti tidak boleh mengikuti ujian, dan Ghiyab berarti Absen, karena bagi mahasiswa yang Absen lebih dari tiga kali maka dia tidak boleh mengikut ujian) "Apppaaaaa?" tanyaku, "yang beneran ne?" lanjutku bertanya, "iya" kata si Fuad, "kamu itu mahrum dua pelajaran gara-gara banyak absen, emangnya kemaren kamu gak taqdim ghitu?" wajahku langsung pucat, aku langsung berbegas menuju kuliyah yang hanya berjarak 50 meter dari sakanku dan ternyata benar, disana terpampang namaku Muhammad Zain Al-Hudawi dan puluhan nama-nama mahasiswa lainnya yang mahrum untuk mengikuti ujian semester kali ini, aku ingin menangis, aku langsung membayangkan di waktu liburan nanti aku harus bersiap-siap ujian lagi, aku sudah membayangkan ketika teman-temanku sudah menginjakkan kakinya di semester sembilan sedangkan aku masih ujian ulangan, karena sistem ujian disini dua kali, bagi yang tidak lulus ujian akan ada ujian Takmili atau disebut dengan ujian ulangan, kalau gak lulus juga disini ya terpaksa harus mengulang satu tahun. Tapi itu tergantung berapa pelajaran yang tidak lulus, kalau tiga pelajaran asasi seperti Fiqih, Usul dan Nahu tidak lulus maka langsung i'adah (mengulang satu tahun) tanpa bisa mengikuti ujian ulangan. Sedangkan aku belum ujian semester, namaku sudah terpampang tidak lulus di dua pelajaran yaitu Dirosah Mazhabiyah dan Dirosah Lughowiyah, selain itu aku juga belum lulus di ujian al-Qur'an, berati aku harus ujian ulangan tiga pelajaran.
Dan ini tentunya sangat berat bagiku, karena belum tentu aku bisa lulus dipelajaran lainnya seperti Dirosah Usuliyah, sorof dan Iqtishod diujian yang akan dimulai tanggal 15 nanti. Kalau saja aku tidak lulus di dua atau salah satu pelajaran ini, mungkin aku langsung bakalan ngulang setahun tanpa bisa ikut ujian ulangan lagi.
"Wah, malangnya nasibku tahun ini," bisikku dalam hati, "okelah kalau aku bisa lulus dipelajaran Dirosah Usuliyah, Sorof dan Iqtishod" bagaimana dengan ujian ulangan dua pelajaran yang mahrum gara-gara banyak absen ini? minjam uang darimana lagi untuk bisa mengikuti ujian itu? Soalnya syarat untuk mengikuti ujian ulangan itu harus bayar 500 Reyal Yamani sekitar 25 ribu rupiah, dua pelajaran berarti 50 ribu, kalau di Indonesia lumayanlah bisa nonton bioskop berduaan tu, hehe. Untung saja ujian ulangan al-Qur'an tidak bayar, coba kalau bayar bisa 75 ribu tu, dah bisa jalan-jalan tu, iya gak, hehe..
Aku langsung bertanya ke Mahmudin temanku yang lumayan berpengalaman berhadapan dengan pihak kantor, apa yang harus aku lakukan disaat-saat begini, karena ada tiga alasan kenapa seseorang itu bisa mahrum dari ujian, mungkin karena Ghiyab, atau mungkin karena nilai ujian bulan pertama dan kedua tidak mencapai enam belas, atau mungkin juga karena kedua-duanya yaitu karena banyak absen dan karena nilai tidak mencukupi untuk masuk ujian semester.
Mahmudin mengajakku menuju ke kantor dan bertemu langsung dengan Dr. Muhammad Bin Abdul Qodir Al-Idrus selaku Dekan Fakultas Syari'ah.
Sebelum bertemu dengan Pak Dekan, aku harus bertemu dengan asistennya dulu, dan asistennya bertanya "ada apa gerangan kalian kesini? Mahrum ya? Tunggu disana, karena pak dekan sedang ada tamu dikantor" kata asistennya.
Jam setengah satu aku dan Mahmudin menunggu diruang tamu hingga jam 1 kurang seperempat belum juga keluar tamunya, Mahmudin pun pamitan dan tinggal aku dan beberapa orang yang kelihatannya persis sepertiku problemnya, aku tanya dia, antum kenapa harus bertemu dengan pak dekan, dia jawab "aku kena empat pelajaran" aku terkejut seraya berkata "wow" dalam hati. Ada juga yang cuma satu pelajaran. Namun semakin ditunggu tamunya semakin tidak keluar, hingga akhirnya tinggal aku dan orang yang kena empat pelajaran tadi. Jam pun menunjukkan angka satu, setengah jam sudah penantianku tapi aku tidak mau menyerah hingga akhirnya tamunya keluar dan pak dekan pun ikut keluar.
Pak dekan pun langsung melihat aku dan peci merahku yang sudah lama menjadi profilku, aku tau pak dekan mengenaliku meskipun beliau lupa siapa nama aku. Sebelum aku menyapanya beliau terlebih dahulu menyapa sambil menggenggam hape sepertinya ada orang yang menelpolnya, sebelum menjawab telepon, dia sempatkan bertanya kepadaku "gimana kabarnya? Ada perlu apa? Kamu kan murid saya yang mumtaz dan rajin itu, kok kamu bisa bermasalah sih? Sebelumnya aku beritahukan kepada kalian bahwa ketetapan yang telah ditulis oleh pihak kantor tidak akan bisa berubah lagi," Begitu kata pak Dekan kepadaku, dikelas aku memang suka bertanya apalagi jika beliau sedang mengajar kami, ya meskipun pertanyaanku kadang gak nyambung dengan pelajaran namun bertanya adalah makananku, mungkin itu alasan kenapa beliau memanggilku tholib mumtaz, atau mungkin juga itu hanya sekedar basa basi saja dari beliau.
Sebelum aku menjawab pertanyaan-pertanyaaanya, beliau mengangkat hape dan berbicara sekitar lima menit lalu kembali ke kantor, sepertinya hari ini beliau memang sangat sibuk.
Aku merasa putus asa sekali karena ketetapan yang telah terpampang tidak bisa diganggu gugat lagi, aku masih mengharapkan keringan dari beliau, karena tanda tangan atau perkataan beliau lah yang sanggup mengubah ketetapan tersebut.
Beliau melanjutkan pertanyaannya, sambil ingin keluar, sepertinya beliau ingin pulang, "kamu kena pelajaran apa?" "saya kena di pelajaran Bapak yaitu Dirosah Lughowiyah dan pelajaran lain Dirosah Mazhabiyah" kataku dengan polosnya, loh kok bisa? Pasti absen kamu banyak sekali sehingga tidak bisa tertolong lagi karena pihak kantor telah memberikan keringan satu jam dan aku menambah keringanan satu jam lagi berarti kalau kamu absen 5 kali itu tandanya kamu mendapat keringanan dua, dan kamu akan masuk ujian semester karena absen kamu tidak melebihi tiga kali" kata pak dekan dengan serius. "Terus gimana lagi ne, saya mohon sekali keringanan dari Bapak" aku mengemis-ngemis dikantornya. "Sudah tidak bisa lagi, ketetapan itu sudah tidak bisa diganggu-gugat lagi, karena saya telah memberikan banyak keringanan," kataya.
Akhirnya harapanku pun sia-sia, kami pun turun bersamaan dan kebetulan beliau melewati papan pengumuman tersebut yang telah dikerumani oleh mahasiswa, "coba lihat lagi nama kamu disana, karena ini adalah pengumuman yang kedua kalinya dan itu tidak akan diganggu-gugat lagi," kata Bapak Dekan kepadaku sambil meletakkan telepon genggamnya ditelinganya seolah-olah memanggil seseorang untuk mengantarnya pulang.
Ketika aku lihat kembali, ternyata sungguh mengejutkan, kebaikan "apa yang aku lakukan hari ini?" tanyaku dalam hati, ternyata namaku sudah tidak ada lagi di jadwal orang-orang yang mahrum, mungkin aku perkirakan ada sekitar lima atau tujuh orang yang tertolong dari sekitar tiga puluhan orang-orang yang mahrum ujian semester kali ini, kebetulan Bapak Dekan masih ada, langsung aku datangi dia dan aku bilang "Pak, Nama saya sudah tidak ada lagi disana, ternyata kertasnya sudah berubah sekitar dua puluh menit yang lalu" aku memberikan kabar kepada beliau dengan senyuman dan wajah yang sangat cerah, ku ambil tangannya, dan langsung ku cium tangannya" "iya, memang sudah berubah dari tadi, kamunya aja yang mimpi gak masuk ujian, orang saya aja gak merasa sama sekali memahrumkan kamu." kata Bapak Dekan sambil tersenyum bahagia melihat aku bisa selamat dari kemahruman, karena aku yakin beliau itu sebenarnya sedih sekali kalau sempat melihat aku tidak masuk ujian.
Ya Rabb, kebaikan apa yang aku lakukan hari ini? Apa mungkin gara-gara dua gelas kecil teh susu dan dua buah bakwan tadi pagi? Dan tentunya ini tak lepas dari do'a-do'a keluarga, sahabat, dan teman-temannya lainnya.
Ini adalah sejarah peristiwa yang terbesar dalam hidupku, Engkau telah menyelamatkanku dari kemahruman, maka selamatkan juga teman-teman seperjuanganku ya Rabb dalam menghadapi ujian semester kali ini dan juga ujian ulangan nantinya, serta mudahkanlah aku menghafal Al-Qur'an agar bisa lolos masuk ke semester berikutnya dan juga bisa mengamalkan isi al-Qur'an tersebut, Amiiiiin..
Sekian dari saya..
di-http://www.facebook.com/Auditoriumahgaff
di-http://www.facebook.com/Auditoriumahgaff

Tidak ada komentar:
Posting Komentar