Senin, 10 Juni 2013

Buku Semut Merah Sungguh "Menghipnotis"



          Sungguh "Menghipnotis" Begitulah kesan pertama yang disampaikan oleh Habib Fikri Al-Muhdor, seorang mahasiswa jurusan syari'ah di Universitas Al-Ahgaff yang sedang duduk di semester empat asal Sumatera Barat itu. Pada awalnya beliau tidak sengaja membaca teks naskah tulisan yang ada di Notebook temannya. Seperti biasanya, beliau selalu membaca novel-novel dan kisah-kisah yang ada di Notebook milik temannya. Namun tak disangka, beliau melihat sebuah teks yang berjudul "Ketika Bulan Bertasbih" dan langsung membacanya dari awal sampai abis.

         Tiba-tiba pemilik Notebooknya datang, dan Habib Fikri pun tersenyum seraya melemparkan sindiran-sindiran buat sipenulisnya.


         Beliau meringkas isi tulisan tersebut dan menyimpannya dibenaknya lalu mulai bermain kata dengan Muhammad Zein sipemilik Notebook dan juga sipenulis cerpen tersebut.

        "Wah, kasian sekali ya, calon istrinya meninggal dihari H pernikahannya" kata Habib Fikri bergurau kepada Zein, spontan saja si Zein terperanjat dan langsung berkata "cerpen saya dibaca ya? Waaaaah, rahasia tuuuu, dilarang membaca tanpa seizin penulis" Kata zein sambil tertawa malu-malu.

       "Gak nyangka, ternyata tulisanmu sungguh mengharukan sekali, Zein" kata Habib Fikri memuji tulisan si Zein.  "Setiap paragrafnya mengandung kesan-kesan tertentu dan mungkin beberapa tahun lagi bakal muncul ne penulis Fenomenal dari Yaman yang akan menyaingi Habiburrahman Assirozi Sang Penulis dari Mesir itu, soalnya gaya bahasamu mirip sekali dengan Habiburrahman" begitu pujian lebai dari Habib Fikri yang langsung ditangkis oleh si Zein "ah, ngaco, gak mungkinlah orang kayak saya bakal jadi penulis terkenal, semua orang juga bisa nganyal bikin cerpen seperti itu, bib"

          "Oya, ini ya cerpen yang kamu kirim ke Semut Merah 75 itu ya?" Tanya Habib Fikri penasaran, "iya" jawab Zein dengan singkat, "aku juga gak nyangka kok bisa cerpen yang sederhana ghitu bisa lolos ke Buku Semut Merah 75" lanjut si Zein, "kamu terlalu merendah Zein, siapa bilang cerpenmu itu sederhana? Cerpenmu keren banget, aku aja membacanya sampai tertawa dan terharu sekali" kata Habib Fikri membangkitkan semangat si Zein. kebetulan liburan ini aku mau pulang ke Indonesia dan tentunya tidak lupa untuk membeli Buku Semut Merah 75, aku yakin buku Semut Merah 75 ini sungguh "menghipnotis" para pembacanya, kenapa tidak? tulisan kamu aja keren apalagi tulisan teman-teman dari pelajar Indo yang berada di Benua lain yang lolos masuk ke Buku Semut Merah 75 tersebut pastinya lebih keren dari tulisanmu Zein, hahaha" kata Habib Fikri sambil bercanda dan tertawa terbahak-bahak.

           "Iya, Bib, saya sendiri penasaran dengan buku SM75 itu, apakah beneran cerpen saya dimuat disana atau jangan-jangan salah nama lagi, soalnya sampai sekarang buku tersebut belum sampai ke Yaman, ne nunggu antum pulang ke Indo dan balik lagi kesini dengan membawa oleh-oleh berupa Buku Semut Merah 75" kata Zein dengan penuh harapan.

          "Kapan kamu nulis cerpen itu Zein?" Tanya Habib Fikri lagi, "ceritanya panjang Bib, tapi jangan kasi tau orang ya?" "oke, beres," kata Habib Fikri. "Sebetulnya cerpen itu udah lama aku tulis, dulu PPI Yaman sempat mengadakan SCMI (Sayembara Cerita Mini Internasional) yang dimuat di Antologi "Simponi Balqis" ketika itu aku lagi kepengen nulis aja dan kuberi judul "Aku dan Bulanku" namun karena aku masih pemula dan banyaknya kekurangan didalam tulis menulis jadi kurang beruntung dan tulisanku pun tidak dimuat di Simponi Balqis, namun tiba-tiba FLP Hadhromaut menunut kami untuk menulis naskah cerpen kisah inspiratif untuk dikirim ke Semut Merah 75, dan kebetulan aku lagi malas nulis jadi aku gak nulis, dan aku teringat bahwa aku pernah punya cerpen, lalu kubaca lagi dan ku edit, ku tambah dan ku buang yang tak penting sehingga naskahnya sangat "mutaghoyyir" (berubah) demi memberikan pesan dan kesan yang inspiratif buat para pembacanya, dan ternyata upayaku sangat tidak sia-sia, karena tiba-tiba temanku yang dulunya sekelasku namun sekarang berada di Suria dan sekarang menjadi Presiden PPI Suria mengirim pesan dikronologi Facebookku "Selamat ya Zen, tulisannya dah masuk ke Semut Merah 75" sambil memberikan Link nama-nama para penulis SM75, spontan saja aku tidak percaya karena aku masih merasa cerpenku masih amburadul alias jelek makanya aku balas pesannya dikomentar dindingku "hahaha, gak nyangka cakar ayam bisa masuk ke Semut Merah 75" aku tidak bermaksud meremehkan apalagi merendahkan kirimannya, aku hanya berusaha untuk belajar tawadhu' namun komentar itu secara tidak langsung mungkin menyinggung perasaan beliau yang telah memberikan informasi, bukannya aku ngucapin terima kasih, atau bahagia gimana ghitu karena tulisanku dah masuk ke Semut Merah, eh malah bilang cakar ayam, padahal cakar ayam itu ibarat dari tulisan yang jelek sekali seperti ayam yang sedang mencakar-cakar ditanah, makanya akhirnya aku menghapus komentar dindingku karena aku merasa telah melukai perasaannya" ungkap Zein dengan panjang lebar dan muka menunduk kebawa seolah-olah ada penyesalan karena menurutnya dia telah menulis komentar yang mungkin melukai perasaan temannya sendiri.

          Lalu Habib Fikri nanya lagi "kalau tak salah kamu dulu ngirim dua naskah deh, yang satu berjudul "Ketika Bulan Bertasbih" dan satunya lagi berjudul "Sang Facebooker" soalnya dulu kan judul cerpen kalian terpampang di Mading Sakan (asrama) sebagai cerpen yang diterima untuk diseleksi di SM75, cerpen sang facebooker itu gak lolos masuk buku SM75 ya Zein?"  "Iya bib, dulu aku memang ngirim dua naskah tapi cuma satu yang beruntung mungkin Sang Facebooker bahasanya masih amburadul karena nulisnya cuma dua jam doank, jadi ya ghitu dehhh, kapan-kapan saya edit lagi tu, dan Insya Allah bakal juara, hehe," ungkap Zein dengan semangatnya. "Saya jadi penasaran Zein ingin membaca Sang Facebooker" kata Habib Fikri, "jangan Bib, bahasanya hancur banget, malu saya" kata Zein,  "pokoknya ntar kalau notebook kamu nongkrong saya baca tu Sang Facebooker" tantang Habib Fikri, "haha, cari aja kalau dapat, ntar bakal ana sembunyikan" kata Zein sambil tertawa.          

Tidak ada komentar:

Posting Komentar