Tiba-tiba pemilik Notebooknya datang, dan Habib Fikri pun
tersenyum seraya melemparkan sindiran-sindiran buat sipenulisnya.
Beliau meringkas isi tulisan tersebut dan menyimpannya
dibenaknya lalu mulai bermain kata dengan Muhammad Zein sipemilik Notebook dan
juga sipenulis cerpen tersebut.
"Wah, kasian sekali ya, calon istrinya meninggal dihari
H pernikahannya" kata Habib Fikri bergurau kepada Zein, spontan saja si
Zein terperanjat dan langsung berkata "cerpen saya dibaca ya? Waaaaah,
rahasia tuuuu, dilarang membaca tanpa seizin penulis" Kata zein sambil
tertawa malu-malu.
"Gak nyangka, ternyata tulisanmu sungguh mengharukan
sekali, Zein" kata Habib Fikri memuji tulisan si Zein. "Setiap paragrafnya mengandung kesan-kesan
tertentu dan mungkin beberapa tahun lagi bakal muncul ne penulis Fenomenal dari
Yaman yang akan menyaingi Habiburrahman Assirozi Sang Penulis dari Mesir
itu, soalnya gaya bahasamu mirip sekali dengan Habiburrahman" begitu pujian lebai dari Habib Fikri yang langsung ditangkis oleh si
Zein "ah, ngaco, gak mungkinlah orang kayak saya bakal jadi penulis
terkenal, semua orang juga bisa nganyal bikin cerpen seperti itu, bib"
"Oya, ini ya cerpen yang kamu kirim ke Semut Merah 75
itu ya?" Tanya Habib Fikri penasaran, "iya" jawab Zein dengan
singkat, "aku juga gak nyangka kok bisa cerpen yang sederhana ghitu bisa
lolos ke Buku Semut Merah 75" lanjut si Zein, "kamu terlalu merendah
Zein, siapa bilang cerpenmu itu sederhana? Cerpenmu keren banget, aku aja
membacanya sampai tertawa dan terharu sekali" kata Habib Fikri
membangkitkan semangat si Zein. kebetulan liburan ini aku mau pulang ke
Indonesia dan tentunya tidak lupa untuk membeli Buku Semut Merah 75, aku yakin
buku Semut Merah 75 ini sungguh "menghipnotis" para pembacanya, kenapa tidak? tulisan
kamu aja keren apalagi tulisan teman-teman dari pelajar Indo yang berada di
Benua lain yang lolos masuk ke Buku Semut Merah 75 tersebut pastinya lebih
keren dari tulisanmu Zein, hahaha" kata Habib Fikri sambil bercanda dan
tertawa terbahak-bahak.
"Iya, Bib, saya sendiri penasaran dengan buku SM75 itu,
apakah beneran cerpen saya dimuat disana atau jangan-jangan salah nama lagi,
soalnya sampai sekarang buku tersebut belum sampai ke Yaman, ne nunggu antum
pulang ke Indo dan balik lagi kesini dengan membawa oleh-oleh berupa Buku Semut
Merah 75" kata Zein dengan penuh harapan.
"Kapan kamu nulis cerpen itu Zein?" Tanya Habib
Fikri lagi, "ceritanya panjang Bib, tapi jangan kasi tau orang ya?"
"oke, beres," kata Habib Fikri. "Sebetulnya cerpen itu udah lama
aku tulis, dulu PPI Yaman sempat mengadakan SCMI (Sayembara Cerita Mini
Internasional) yang dimuat di Antologi "Simponi Balqis" ketika itu
aku lagi kepengen nulis aja dan kuberi judul "Aku dan Bulanku" namun
karena aku masih pemula dan banyaknya kekurangan didalam tulis menulis jadi
kurang beruntung dan tulisanku pun tidak dimuat di Simponi Balqis, namun
tiba-tiba FLP Hadhromaut menunut kami untuk menulis naskah cerpen kisah
inspiratif untuk dikirim ke Semut Merah 75, dan kebetulan aku lagi malas nulis
jadi aku gak nulis, dan aku teringat bahwa aku pernah punya cerpen, lalu kubaca
lagi dan ku edit, ku tambah dan ku buang yang tak penting sehingga naskahnya
sangat "mutaghoyyir" (berubah) demi memberikan pesan dan kesan yang
inspiratif buat para pembacanya, dan ternyata upayaku sangat tidak sia-sia,
karena tiba-tiba temanku yang dulunya sekelasku namun sekarang berada di Suria
dan sekarang menjadi Presiden PPI Suria mengirim pesan dikronologi Facebookku
"Selamat ya Zen, tulisannya dah masuk ke Semut Merah 75" sambil
memberikan Link nama-nama para penulis SM75, spontan saja aku tidak percaya
karena aku masih merasa cerpenku masih amburadul alias jelek makanya aku balas
pesannya dikomentar dindingku "hahaha, gak nyangka cakar ayam bisa masuk
ke Semut Merah 75" aku tidak bermaksud meremehkan apalagi merendahkan
kirimannya, aku hanya berusaha untuk belajar tawadhu' namun komentar itu secara
tidak langsung mungkin menyinggung perasaan beliau yang telah memberikan
informasi, bukannya aku ngucapin terima kasih, atau bahagia gimana ghitu karena
tulisanku dah masuk ke Semut Merah, eh malah bilang cakar ayam, padahal cakar
ayam itu ibarat dari tulisan yang jelek sekali seperti ayam yang sedang
mencakar-cakar ditanah, makanya akhirnya aku menghapus komentar dindingku
karena aku merasa telah melukai perasaannya" ungkap Zein dengan panjang
lebar dan muka menunduk kebawa seolah-olah ada penyesalan karena menurutnya dia
telah menulis komentar yang mungkin melukai perasaan temannya sendiri.
Lalu Habib Fikri nanya lagi "kalau tak salah kamu dulu
ngirim dua naskah deh, yang satu berjudul "Ketika Bulan Bertasbih"
dan satunya lagi berjudul "Sang Facebooker" soalnya dulu kan judul
cerpen kalian terpampang di Mading Sakan (asrama) sebagai cerpen yang diterima
untuk diseleksi di SM75, cerpen sang facebooker itu gak lolos masuk buku SM75 ya Zein?" "Iya bib, dulu aku memang ngirim dua
naskah tapi cuma satu yang beruntung mungkin Sang Facebooker bahasanya masih
amburadul karena nulisnya cuma dua jam doank, jadi ya ghitu dehhh, kapan-kapan
saya edit lagi tu, dan Insya Allah bakal juara, hehe," ungkap Zein dengan
semangatnya. "Saya jadi penasaran Zein ingin membaca Sang Facebooker"
kata Habib Fikri, "jangan Bib, bahasanya hancur banget, malu saya"
kata Zein, "pokoknya ntar kalau
notebook kamu nongkrong saya baca tu Sang Facebooker" tantang Habib Fikri,
"haha, cari aja kalau dapat, ntar bakal ana sembunyikan" kata Zein
sambil tertawa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar