Masyarakat kabupaten Batubara pada dasarnya berbahasa Indonesia yang di akhiri dengan huruf O, seperti kemana menjadi kemano, dia jadi dio, dan juga ditambah dengan logat khas melayu yang sangat lembut dan bernada menarik-narik, sehingga kalau kita berbicara dengan orang Batubara, ingin sekali kita mencubit pipinya karena geram atau bikin gimanaaa gitu ketika kita mendengar nada bahasanya..
Selain logat nada mereka, ada yang lebih menarik lagi yaitu tradisi masyarakat Batubara di dalam menyambut bulan suci Ramadhan yang sangat berbeda dengan cara-cara yang pernah dilakukan oleh suku, kota, atau ras lainnya.
Di dalam menyambut bulan suci Ramadhan, masyarakat Batubara khususnya yang berada di Pesisir pantai seperti di kecamatan Talawi mengadakan pesta tapai sebagai bentuk kegembiraan mereka dalam menyambut bulan Ramadhan.
Pesta tapai ini hanya ada setahun sekali di bulan Sya'ban sekitar 17 hari sebelum Ramadhan hingga 1 hari sebelum Ramadhan.
Biasanya para penjual dari kalangan masyarakan Batubara membuat lemang dan tapai khas melayu dan juga kue-kue yang bernuansa ke melayu-melayuan, sedangkan penjual dari luar Batubara menjual barang-barang selain lemang dan tapai, seperti mainan anak-anak, pakaian dll.
Menurut kronologinya, pesta tapai ini sudah ada sejak tahun 1890-an di zaman datuk Sumowangsa dan tradisi yang sangat baik ini terus menerus dilaksanakan hingga sampai saat ini.
Secara tidak langsung, keberadaan pesta tapai di Batubara yang berdurasi selama 17 harian ini telah banyak membantu perekonomian Batubara meskipun hanya sebentar, namun ini sangat berarti bagi para pemeras keringat demi membeli baju hari raya untuk keluarganya nantinya.
Namun sayangnya, tradisi yang telah berjalan lebih dari seratus tahun ini kurang begitu mendapat perhatian dari pemerintah dan juga dari kalangan ulama, sehingga terkadang banyak terjadi kesalahan-kesalahan disela-sela keramaian ini yang mengakibatkan keresahan seperti yang dilakukan para pengunjung dari luar Batubara dengan tujuan minum-minuman keras atau kumpul-kumpul gak jelas antara laki-laki dan prempuan. Keresahan ini biasanya terjadi akibat tidak adanya perhatian dari pemerintah atau ulama setempat, atau mungkin juga itu karena ketidakpahaman pengunjung di dalam mengahargai penyambutan bulan suci Ramadhan yang dilaksanakan oleh masyarakat Batubara ini.
Kedepannya kita berharap agar pesta tapai ini benar-benar diperhatikan dan tidak lupa juga kita berniat menyambut bulan suci ramadhan setiap langkah kita menghadiri pesta tapai ini karena inamal a'malu binniyyat..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar