Aku jadi teringat cerita itu, cerita yang sering diputar
untuk penyemangat bagi mahasiswa yang harus mengulang satu tahun, cerita yang
sangat sedih namun mampu membangkitkan semangat...
dia adalah seorang mahasiswa yang pernah duduk di Kuliyah
Syari'ah tepatnya dikota Tarim, Hadhromaut. Dia dikenal orang yang sangat rajin
membaca, muroja'ah (mengulang pelajaran) dan bahkan dia juga sering membantu
teman temannya yang sulit dalam memahami pelajaran.
namun, ketika ujian semester tiba, sungguh sangat-sangat
mengejutkan, orang yang tadinya kita anggap akan meraih nilai yang mumtaz (
alif ) atau paling tidak jayyid jiddan ( ba ), tapi kok malah terlihat huruf
" ha " yang berarti harus mengulang satu tahun tepatnya dipelajaran
nahwu, kok bisa ya??? begitulah cobaan untuk seorang mahasiswa yang di Tarim,
namun beliau tidak pernah putus asa sebagaimana teman-teman yang lain, yang
ketika ditimpa musibah harus mengulang satu tahun, ia langsung putus asa dan
memutuskan untuk pulang ke Indonesia, atau menikah atau yang lainnya yang
penting keluar dari Kuliyah yang telah membuatnya mengulang satu tahun, padahal
satu tahun bukanlah waktu yang sangat lama bagi seorang mahasiswa, namun
bagaimana pun begitulah cobaan dari Allah untuk menguji kesabaran Tholibul
Ilmi.
dan Alhamdulillah, beliau tidak seperti mereka mereka ini,
beliau rela mengulang setahun dengan harapan tahun depan bisa lulus di mata
pelajaran Nahwu.
hari demi hari beliau lewati dengan sabar, kemana-mana ia
selalu membawa kitab Syarah Ibnu 'Aqil yang kebetulan itu adalah Muqorror di
Kuliyah, ia tidak pernah membuang-buang waktunya dengan sia-sia, ia daftarkan
dirinya untuk ikut nyantri di Ribath Tarim khusus dipelajaran Nahwu agar
setahun ini tidak hampa di Tarim.
seperti biasanya, setelah shalat Maghrib, halaqoh nahwu di
Ribath pun dimulai, namun setelah 15 menit ditunggu-tunggu, gurunya belum
kunjung datang dan agar halaqohnya tidak kosong maka salah satu pengajar disana
menyuruh mahasiswa yang tidak lulus dipelajaran Nahwu dikuliah -tadi- agar
mengisi halaqoh tersebut karena diantara santri santri yang berda di Ribath
tersebut beliau inilah yang sangat kelihatan semangat belajarnya ketika itu,
beliau bingung mau berbuat apa, namun apa boleh buat ini kan perintah atasan,
ya mau tak mau ia coba untuk maju kedepan dan kebetulan pelajaran hari ini
suatu bab yang menyebabkan ia sekarang harus mengulang setahun, bab yang ada
disoal ujian di Kilyah dulu, namun ketika itu ia salah dalam menjawabnya,
melihat bab tersebut ia langsung mengucapkan "Alhamdulillah" karena
selama beberapa bulan ini, bab inilah yang selalu ia baca dan ia hafal diantara
bab bab yang lain dengan harapan mudah-mudahan tahun depan bab ini akan masuk
ujian kembali. Dan ia pun mulai mengerjakan tugasnya yaitu menjelaskan
pelajaran tersebut dihadapan santri santri Ribath dengan tenang dan bahkan
tanpa melihat buku sama sekali, para santri Ribath bangga dengan beliau ini
khususnya dengan penjelasannya yang sangat “membawa” dan mudah dimengerti,
setelah kejadian ini, maka setiap kali guru pengajar di ribath tidah hadir maka
beliau lah yang diamanahkan untuk menggantikannya.
tak terasa dan sungguh tak terasa, setahun pun telah
berlalu, kini beliau harus mengikuti ujian dengan harapan bisa naik ke semester
lima yang sekarang teman-temannya juga ikut ujian, namun bedanya beliau ujian
naik ke semester lima sedangkan teman-temannya ujian naik ke semester tujuh
karena beda setahun meskipun dulu sama-sama berangkat dari indonesia.
ujian pun selesai, kini saatnya menanti hasil ujian yang
biasanya muncul setelah dua minggu ujian selesai, dan gimana hasilnya?
Alhamdulillah, semua teman-temannya berhasil lulus ke semester tujuh, dan
bagaimana dengan hasil beliau? tentunya kita akan mengatakan lulus bukan? namun
sayang seribu kali sayang, tertulis disana bahwa hasil ujian Nahwunya adalah
"ha" yang berati harus mengulang satu tahun lagi, namun kali ini
berbeda, ia tidak bisa mengulang satu tahun lagi karena ini adalah tahun kedua
beliau tidak lulus berturut-turut, karena itu beliau harus dipulangkan ketanah
air Indoneia tanpa mengenal siapa beliau ini, karena dimata Idaroh Kuliyah
beliau adalah seorang yang tidak lulus dua tahun berturut-turut.
beberapa minggu kemuadian beliau pun pulang, sama sekali
tidak terbenak dihatinya akan pulang sebelum waktunya, namun apa boleh buat
begitulah keputusan kuliyah disana, sebenarnya ia ingin melanjutnya nyantri di
ribath Tarim, namun karena Visa beliau adalah Mahasiswa di Al Ahgaff University
bukan di Ribat Tarim maka ia tidak bisa seenaknya mengubah-ubah keputusan
tersebut dan akhirnya ia pun dipulangkan kekampung halamannya.
sesampainya dikampung halaman, seperti biasanya ia tidak
pernah meninggalkan bukunya Ibnu 'Aqil yang menyebabkannya pulang tersebut,
namun walaupun demikian ia tidak pernah sakit hati dengan pelajaran tersebut
dan bahkan ia malah membuat les Nahwu bagi teman-teman yang belum mengerti
nahwu, dan dengar-dengar sekarang ia menjadi salah satu guru Nahwu di pondok
pesantren salaf di Jawa.
intinya adalah bersungguh-sungguh itu wajib, kelulusan itu
belakangan, yang penting bisa memberi orang manfaat, manfaat dan manfaat, tidak
kah Rasulullah pernah bersabda "sebaik-baik manusia adalah orang yang
bermanfaat bagi manusia yang lain"
semoga bermanfaat untuk dijadikan renungan...
semoga bermanfaat untuk dijadikan renungan...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar