Sabtu, 29 September 2012

Kisah Beliau



        Aku jadi teringat cerita itu, cerita yang sering diputar untuk penyemangat bagi mahasiswa yang harus mengulang satu tahun, cerita yang sangat sedih namun mampu membangkitkan semangat...
dia adalah seorang mahasiswa yang pernah duduk di Kuliyah Syari'ah tepatnya dikota Tarim, Hadhromaut. Dia dikenal orang yang sangat rajin membaca, muroja'ah (mengulang pelajaran) dan bahkan dia juga sering membantu teman temannya yang sulit dalam memahami pelajaran.

namun, ketika ujian semester tiba, sungguh sangat-sangat mengejutkan, orang yang tadinya kita anggap akan meraih nilai yang mumtaz ( alif ) atau paling tidak jayyid jiddan ( ba ), tapi kok malah terlihat huruf " ha " yang berarti harus mengulang satu tahun tepatnya dipelajaran nahwu, kok bisa ya??? begitulah cobaan untuk seorang mahasiswa yang di Tarim, namun beliau tidak pernah putus asa sebagaimana teman-teman yang lain, yang ketika ditimpa musibah harus mengulang satu tahun, ia langsung putus asa dan memutuskan untuk pulang ke Indonesia, atau menikah atau yang lainnya yang penting keluar dari Kuliyah yang telah membuatnya mengulang satu tahun, padahal satu tahun bukanlah waktu yang sangat lama bagi seorang mahasiswa, namun bagaimana pun begitulah cobaan dari Allah untuk menguji kesabaran Tholibul Ilmi.

dan Alhamdulillah, beliau tidak seperti mereka mereka ini, beliau rela mengulang setahun dengan harapan tahun depan bisa lulus di mata pelajaran Nahwu.

hari demi hari beliau lewati dengan sabar, kemana-mana ia selalu membawa kitab Syarah Ibnu 'Aqil yang kebetulan itu adalah Muqorror di Kuliyah, ia tidak pernah membuang-buang waktunya dengan sia-sia, ia daftarkan dirinya untuk ikut nyantri di Ribath Tarim khusus dipelajaran Nahwu agar setahun ini tidak hampa di Tarim.

seperti biasanya, setelah shalat Maghrib, halaqoh nahwu di Ribath pun dimulai, namun setelah 15 menit ditunggu-tunggu, gurunya belum kunjung datang dan agar halaqohnya tidak kosong maka salah satu pengajar disana menyuruh mahasiswa yang tidak lulus dipelajaran Nahwu dikuliah -tadi- agar mengisi halaqoh tersebut karena diantara santri santri yang berda di Ribath tersebut beliau inilah yang sangat kelihatan semangat belajarnya ketika itu, beliau bingung mau berbuat apa, namun apa boleh buat ini kan perintah atasan, ya mau tak mau ia coba untuk maju kedepan dan kebetulan pelajaran hari ini suatu bab yang menyebabkan ia sekarang harus mengulang setahun, bab yang ada disoal ujian di Kilyah dulu, namun ketika itu ia salah dalam menjawabnya, melihat bab tersebut ia langsung mengucapkan "Alhamdulillah" karena selama beberapa bulan ini, bab inilah yang selalu ia baca dan ia hafal diantara bab bab yang lain dengan harapan mudah-mudahan tahun depan bab ini akan masuk ujian kembali. Dan ia pun mulai mengerjakan tugasnya yaitu menjelaskan pelajaran tersebut dihadapan santri santri Ribath dengan tenang dan bahkan tanpa melihat buku sama sekali, para santri Ribath bangga dengan beliau ini khususnya dengan penjelasannya yang sangat “membawa” dan mudah dimengerti, setelah kejadian ini, maka setiap kali guru pengajar di ribath tidah hadir maka beliau lah yang diamanahkan untuk menggantikannya.

tak terasa dan sungguh tak terasa, setahun pun telah berlalu, kini beliau harus mengikuti ujian dengan harapan bisa naik ke semester lima yang sekarang teman-temannya juga ikut ujian, namun bedanya beliau ujian naik ke semester lima sedangkan teman-temannya ujian naik ke semester tujuh karena beda setahun meskipun dulu sama-sama berangkat dari indonesia.

ujian pun selesai, kini saatnya menanti hasil ujian yang biasanya muncul setelah dua minggu ujian selesai, dan gimana hasilnya? Alhamdulillah, semua teman-temannya berhasil lulus ke semester tujuh, dan bagaimana dengan hasil beliau? tentunya kita akan mengatakan lulus bukan? namun sayang seribu kali sayang, tertulis disana bahwa hasil ujian Nahwunya adalah "ha" yang berati harus mengulang satu tahun lagi, namun kali ini berbeda, ia tidak bisa mengulang satu tahun lagi karena ini adalah tahun kedua beliau tidak lulus berturut-turut, karena itu beliau harus dipulangkan ketanah air Indoneia tanpa mengenal siapa beliau ini, karena dimata Idaroh Kuliyah beliau adalah seorang yang tidak lulus dua tahun berturut-turut.

beberapa minggu kemuadian beliau pun pulang, sama sekali tidak terbenak dihatinya akan pulang sebelum waktunya, namun apa boleh buat begitulah keputusan kuliyah disana, sebenarnya ia ingin melanjutnya nyantri di ribath Tarim, namun karena Visa beliau adalah Mahasiswa di Al Ahgaff University bukan di Ribat Tarim maka ia tidak bisa seenaknya mengubah-ubah keputusan tersebut dan akhirnya ia pun dipulangkan kekampung halamannya.


sesampainya dikampung halaman, seperti biasanya ia tidak pernah meninggalkan bukunya Ibnu 'Aqil yang menyebabkannya pulang tersebut, namun walaupun demikian ia tidak pernah sakit hati dengan pelajaran tersebut dan bahkan ia malah membuat les Nahwu bagi teman-teman yang belum mengerti nahwu, dan dengar-dengar sekarang ia menjadi salah satu guru Nahwu di pondok pesantren salaf di Jawa.


intinya adalah bersungguh-sungguh itu wajib, kelulusan itu belakangan, yang penting bisa memberi orang manfaat, manfaat dan manfaat, tidak kah Rasulullah pernah bersabda "sebaik-baik manusia adalah orang yang bermanfaat bagi manusia yang lain"

semoga bermanfaat untuk dijadikan renungan...

Kamis, 27 September 2012

Cinta Sejati

Ada sebuah kisah Cinta Sejati, Kisah nyata yang pernah terjadi di Bumi ini, Sekian ratus tahun yang lalu itu bermula. Sedih, mengharukan dan Menjadi cermin manusia yang merindukan CINTA SEJATI.

Di malam yang sunyi, di dalam rumah sederhana yang tidak seberapa luasnya, seorang istri tengah menunggu kepulangan suaminya. Tak biasanya sang suami pulang larut malam. Sang istri bingun

g, hari sudah larut dan ia sudah sangat kelelahan dan mengantuk. Namun, tak terlintas sedikitpun dalam benaknya untuk segera tidur dan terlelap di tempat tidur suaminya. Dengan setia ia ingin tetap menunggu, namun rasa ngantuk semakin menjadi-jadi dan Sang suami tercinta belum juga datang.

Tak berapa lama kemudian seorang laki-laki yang sangat berwibawa lagi luhur budinya tiba di rumahnya yang sederhana. Laki-laki ini adalah suami dari sang istri tersebut. Malam ini beliau pulang lebih lambat dari biasanya, kelelahan dan penat sangat terasa. Namun, ketika akan mengetuk pintu, terpikir olehnya Sang istri yang tengah terlelap tidur. Ah, sungguh ia tak ingin membangunkannya.

Tanpa pikir panjang, ia tak jadi mengetuk pintu dan seketika itu juga menggelar sorbannya di depan pintu dan berbaring diatasnya. Dengan kelembutan hati yang tak ingin membangunkan istri terkasihnya, Sang suami lebih memilih tidur di luar rumah. Di depan pintu, dengan ditemani udara malam yang dingin melilit, hanya beralaskan selembar sorban tipis.

Penat dan lelah beraktifitas seharian, dingin malam yang menggigit tulang ia hadapi, karena tak ingin membangunkan istri tercinta. Subhanallah

Dan ternyata, di dalam rumah, persis dibalik pintu tempat sang suami menggelar sorban dan berbaring diatasnya. Sang istri masih menunggu, hingga terlelap dan bersandar sang istri di balik pintu. Tak terlintas sedikitpun dalam pikirinnya tuk berbaring di tempat tidur, sementara suaminya belum juga pulang.

Namun, karena khawatir rasa kantuknya tak tertahan dan tidak mendengar ketukan pintu Sang suami ketika pulang, ia memutuskan tuk menunggu Sang suami di depan pintu dari dalam rumahnya.

Malam itu, tanpa saling mengetahui, sepasang suami istri tersebut tertidur berdampingan di kedua sisi pintu rumah mereka yang sederhana karena kasih dan rasa hormat terhadap pasangan. Sang Istri rela mengorbankan diri terlelap di pintu demi kesetiaan serta hormat pada Sang suami dan Sang suami mengorbankan diri tidur di pintu demi rasa kasih dan kelembutan pada Sang istri.

Dan nun jauh di langit, ratusan ribu malaikat pun bertasbih, menyaksikan kedua sejoli tersebut. SUBHANALLAH WABIHAMDIH. Betapa suci dan mulia rasa cinta kasih yang mereka bina. Terlukis indah dalam ukiran akhlak yang begitu mempesona. Saling mengasihi, saling mencintai, saling menyayangi dan saling menghormati. Tapi Tahukah Anda siapa mereka..?

Sang suami adalah Muhammad bin Abdullah, Rasulullah SAW dan Sang istri adalah Sayyidatuna Aisyah RA binti Abu Bakar As-Sidiq.

Merekalah sepasang kekasih teladan, suami istri dambaan, dan merekalah pemimpin para manusia, laki-laki dan perempuan di dunia dan akhirat.

Semoga rahmat ALLAH senantiasa tercurah bagi keduanya, dan mengumpulkan jiwa kita bersama Rasulullah SAW dan Sayyidatuna Aisyah RA dalam surgaNYA kelak. Dan Semoga ALLAH SWT memberi kita taufiq dan hidayah tuk bisa meneladani kedua manusia mulia tersebut.

Aamiin…Aamiin ya rabbal’alamiin….

Semoga bermanfaat.....

Rabu, 26 September 2012

--- Belajar Fiqih lewat cerita Imam Syafi'i ---



Di masa pemerintahan Harun Ar-rasyid, ada sekelompok orang yang iri dengan kecerdasan Imam Syafi’i. Mereka ingin mempermalukan sang Imam di depan Harun Ar-rasyid. Mereka mengajukan beberapa pertanyaan pada Imam Syafii.

Pertanyaan :

“ Ada dua orang muslim berakal yang minum khamar. Salah satunya diganjar hukum Hadd (dicambuk 80 kali ). Tapi yang satunya tidak diapa-apakan. Mengapa bisa demikian ?” Tanya salah seorang di antara mereka pada Imam Syafii.

Jawaban :

“Salah seorang diantara mereka berdua itu sudah baligh sehingga ia harus dihukum hadd. Sedangkan satunya belum baligh, sehingga ia tak diapa-apakan,” jawab Imam Syafii mantap.

Pertanyaan :

Mereka segera mengajukan pertanyaan lagi, “Ada 5 orang menzinahi seorang wanita. Orang pertama divonis bunuh. Orang kedua dirajam. Orang ketiga dihukum hadd. Orang keempat dikenai setengah hokum hadd. Sedangkan orang kelima dibebaskan. Kenapa bisa demikian ?”

Jawaban :

“Orang pertama menghalalkan zina sehingga ia harus divonis murtad dan wajib dibunuh. Orang kedua muhshan (sudah menikah) sehingga ia harus dirajam. Orang ketiga ghairu muhshan (belum menikah) sehingga ia harus dihukum hadd. Orang keempat seorang budak yang harus dihukum setengah hokum hadd. Sedangkan orang kelima gila sehingga ia tak mendapat hukuman apapun,” papar Imam Syafii.

Pertanyaan :
“Seorang laki-laki mengambil sebuah wadah air untuk minum. Namun ia hanya bisa meminum separuhnya yang halal sedangkan sisanya haram. Bagaimana ini bisa terjadi ?” Tanya mereka lagi.

Jawaban :
“Laki-laki itu telah meminum separuh air di wadah. Ketika mau meminum separuhnya lagi, ia mengalami mimisan sehingga darah menetes ke wadah itu bercampur dengan air. Sehingga, sisa air itu haram baginya,” jawab Imam Syafii.

Jawaban Imam Syafii itu membuat sang khalifah tersenyum seraya berkata,” Semoga Allah memperbanyak pada keluarga besarku orang sepertimu.”

Biografi Imam Syafi’I ..

Nama : Abu ʿAbdullah Muhammad bin Idris al-Shafi'i atau Muhammad bin Idris asy-Syafi'i
Lahir : Gaza, Palestina 150 H
Yatim sejak umur 2 tahun,
Hafal Alquran umur 7 tahun.
Hafal Almuwattha' (hukum-hukum islam) umur 10 tahun,
Hafal sastra arab sekitar 10 tahun
Diizinkan berfatwa ketika berumur 15
Dikenal memiliki cara bicara yang santun dan indah.

Dan Imam Syafi'i merupakan seorang yang hidup dalam kemiskinan semenjak lahir, bahkan karena tidak memiliki biaya untuk sekolah dan kertas beliau pada masa kecilnya mengumpulkan tulang, daun-daun dan pelepah kurma untuk mencatat ilmu dari orang yang berbicara. hingga akhirnya kamarnya sesak dengan catatan-catatan, beliau memutuskan untuk menghafal dan subhanallah itu dihafal semua, beliau berujar "ilmu itu bukan di kertas melainkan letaknya di hati".


Senin, 24 September 2012

AWAL BERDIRINYA AL WASHLIYAH

Al Jam’iyatul Washliyah merupakan organisasi Islam yang lahir pada 30 November 1930 dan bertepatan 9 Rajab 1349 H di kota Medan, Sumatera Utara. Al Jam’iyatul Washliyah yang lebih dikenal dengan sebutan Al Washliyah lahir ketika bangsa Indonesia masih dalam penjajahan Hindia Belanda (Nederlandsh Indie). Sehingga para pendiri Al Washliyah ketika itu turut pula berperang melawan penjajah Belanda. Tidak sedikit para tokoh Al Washliyah yang ditangkap Belanda dan dijebloskan ke penjara.
Tujuan utama untuk mendirikan organisasi Al Washliyah ketika itu adalah untuk mempersatukan umat yang berpecah belah dan berbeda pandangan. Perpecahan dan perbedaan tersebut merupakan salah satu strategi Belanda untuk terus berkuasa di bumi Indonesia. Oleh karena itu, Organisasi Al Washliyah  turut pula meraih kemerdekaan Indonesia dengan menggalang persatuan umat di Indonesia.
Penjajah Belanda yang menguasai bumi Indonesia terus berupaya agar bangsa Indonesia tidak bersatu, sehingga mereka terus mengadu domba rakyat. Segala cara dilakukan penjajah agar rakyat berpecah belah. Karena bila rakyat Indonesia bersatu maka dikhawatirkan bisa melawan pejajah Belanda.
Upaya memecah belah rakyat terus merasuk hingga ke sendi-sendi agama Islam. Umat Islam kala itu dapat dipecah belah lantaran perbedaan pandangan dalam hal ibadah dan cabang dari agama (furu’iyah). Kondisi ini terus meruncing, hingga umat Islam terbagi menjadi dua kelompok yang disebut dengan kaum tua dan kaum muda. Perbedaan paham di bidang agama ini semakin hari semakin tajam dan sampai pada tingkat meresahkan.
Dengan terjadinya perselisihan di kalangan umat Islam di Sumatera Utara khususnya kota Medan, para pelajar yang menimba ilmu di Maktab Islamiyah Tapanuli Medan berupaya untuk mempersatukan kembali umat yang terpecah belah itu. Upaya untuk mempersatukan umat Islam terus dilakukan dan akhirnya terbentuklah organisasi Al Jam’iyatul Washliyah yang artinya Perkumpulan yang menghubungkan. Maksudnya adalah menghubungkan manusia dengan Allah Swt. dan menghubungkan manusia dengan manusia (sesama umat Islam).
  • PENDIRIAN AL WASHLIYAH
Perselisihan faham antara kaum tua dengan kaum muda tentang masalah ibadah. membuat kaum pelajar yang menimba ilmu di madrasah Maktab Islamiyah Tapanuli (MIT) Medan resah. Para siswa tersebut memiliki perkumpulan pelajar yang bernama Debating Club (Perkumpulan Debat/diskusi). Dalam diskusi-diskusi rutin di perkumpulan itu sering dibahas tentang masalah-masalah yang tengah terjadi pada umat Islam dan salah satunya mengenai perbedaan pendapat di tubuh umat Islam.
Diskusi mencapai puncaknya pada bulan Oktober 1930. Di awal bulan itu diadakan pertemuan di kediaman Yusuf Ahmad Lubis, di Jl. Glugur kota Medan. Pada pertemuan yang dipimpin Abdurrahman Syihab dihadiri oleh Yusuf Ahmad Lubis, Adnan Nur, M. Isa dan beberapa pelajar lainnya. Dalam pertemuan itu disepakati untuk memperbesar perkumpulan pelajar yang mereka miliki yaitu Debating Club. Untuk menindaklanjuti hasil rapat di tempat Yusuf Ahmad lubis, selanjutnya diadakan pula pertemuan kedua di rumah Abdurrahman Syihab di Petisah, kota Medan yang dihadiri  oleh Ismail Banda, Yusuf Ahmad Lubis, Adnan Nur, Abdul Wahab, dan M. Isa. Disepakati dalam pertemuan itu untuk mengundang alim ulama, tuan-tuan guru dan para pelajar lainnya pada pertemuan yang lebih besar yang direncanakan pada 26 Oktober 1930 di Maktab Islamiyah Tapanuli (MIT) Medan.
Sesuai dengan yang direncanakan, pertemuan yang lebih besar berlangsung di MIT Medan. Pertemuan itu dihadiri para ulama, guru-guru, pelajar dan pemimpin Islam di kota Medan dan sekitarnya. Setelah melakukan pembicaraan yang cukup panjang dan mendalam, maka seluruh peserta yang hadir kala itu sepakat membentuk sebuah perkumpulan yang bertujuan memajukan, mementingkan dan menambah tersyiarnya agama Islam.
Pertemuan di MIT Medan itu dipimpin oleh Ismail Banda sebagai orang yang tertua ketika itu, dan di forum tersebut disampaikan pula penjelasan mengenai bentuk organisasi yang hendak didirikan nantinya. Penjelasan mengenai bentuk organisasi disampaikan antara lain oleh Ismail Banda, M. Arsyad Thalib Lubis dan H. Syamsudin.
  • MEMBERI NAMA ORGANISASI
Setelah diambil kesepakatan untuk membentuk sebuah perkumpulan dan mendengarkan penjelasan tentang bentuk organisasi yang hendak dibentuk itu, maka atas persetujuan peserta yang hadir, dimintakan kepada salah seorang guru di Maktab Islamiyah Tapanuli (MIT) Medan yaitu Syech H. Muhammad Yunus (seorang ulama yang dihormati) untuk memberikan nama yang cocok bagi perkumpulan yang akan dibentuk. Upaya meminta kepada seorang ulama untuk memberikan nama dianggap sebagai sikap sopan santun atau akhlak yang baik seorang murid kepada gurunya.
Syech H. Muhammad Yunus yang didatangi oleh murid-muridnya tidak serta merta menjawab keinginan itu. Terlebih dahulu ia melakukan sholat dua rakaat dan berdo’a kepada Allah Swt. Setelah itu ia mendatangi para muridnya dan mengatakan, ”Menurut saya kita namakan saja perkumpulan itu dengan ‘Al Jam’iyatul Washliyah’.” Nama tersebut kedengarannya indah dan terasa agak asing di telingan para muridnya, dan belum pernah terdengar sebelumnya atau yang hampir sama dengan itu. Seketika itu semua yang mendengarkannya sejutu, dengan nama Al Jam’iyatul Washliyah. Arti Al Jam’iyatul Washliyah adalah ‘Perhimpunan yang memperhubungkan’.
  1. Al Jam’iyah atau Jama’ah berarti Perkumpulan atau perhimpunan.
  2. Al Washliyah atau Washolah artinya menghubungkan.
Sehingga arti dari Al Jam’iyatul Washliyah adalah Perkumpulan atau Perhimpunan yang Menghubungkan.
Yaitu mengubungkan antara umat manusia dengan Allah Swt sebagai penciptanya. Mengubungkan atau menghimpun manusia dengan manusia lainnya agar bersatu dan menghubungkan manusia dengan alam sekitarnya. Hal ini sesuai dengan makna Hablun-minallah wa hablun minannaas (Hubungan manusia dengan Allah dan hubungan manusia dengan sesama manusia).
  • PERESMIAN AL WASHLIYAH
Pada tanggal 30 November 1930 bertempat di Maktab Islamiyah Tapanuli (MIT) Medan yang terletak di Jl. Hindun kota Medan diadakan kembali pertemuan lebih besar yang mendapat perhatian sangat luas dari masyarakat sekitar kota Medan.
Dalam rapat itu disepakati tentang Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) serta kepengurusan pertama Al Washliyah. Sejak saat itu  resmilah Organisasi Al Washliyah berdiri. Ketua Al Washliyah yang pertama diserahkan kepada Ismail Banda lantaran usianya lebih tua dari anggota yang lain. Adapun susunan pengurus Al Washliyah yang pertama terdiri dari:
Penasehat                              : Syech H. Muhammad Yunus
Ketua I                                    : Ismail Banda
Ketua II                                  : Abdurrahman Syihab
Penulis I                                 : M. Arsyad Thalib Lubis
Penulis II                               : Adnan Nur
Bendahari                              : M Ya’cub
Pembantu-pembantu        : Syamsudin
Yusuf Ahmad Lubis
A. Malik
A. Aziz Effendy
Namun Pada awal bulan Juli 1931 susunan pengurus Al Jam’iyatul Washliyah terjadi pertukaran. Hal ini lantaran M. Arsyad Th Lubis sebagai Penulis I harus berangkat ke Meulaboh, Aceh memenuhi panggilan kaum muslimin untuk menjadi guru agama. Adapun perubahan susunan pengurus tersebut adalah:
Penasehat                              : Syech H. Hassan Ma’sum
Syech H. Muhammad Yunus
Ketua I                                   : Kadhi H. Ilyas
Ketua II                                 : Ismail Banda
Penulis I                                : H. Mahmud Kadli Sei Kerah
Penulis II                               : Adnan Nur
Bendahari                              : H.M Ya’cub
Pembantu-pembantu        : Abdurrahman Syihab, Abdul Wahab
Pada akhir tahun 1931 kembali terjadi pergantian pengurus. Kali ini beberapa orang yang lebih muda masuk dalam susunan kepengurusan, yaitu:
Ketua I                                   : Abdurrahman Syihab
Ketua II                                 : Kadhi H. Ilyas
Sekretaris/bendahari      : Adnan Nur
Pembantu-pembantu       : Ismail Banda,  Usman Deli, O.K. Abdul Aziz, Baharudin Ali
Susunan pengurus ini pun tidak bertahan lama. Karena Ismail Banda hendak menunaikan ibadah haji sekaligus melanjutkan pendidikannya di Mekkah dan Adnan Nur ingin aktif di Partai Gerakan Indonesia (Gerindo), maka pada 30 Juni 1932 dilakukan lagi pertukaran pengurus untuk yang ke empat kalinya.
Penasehat                              : Syech H. Hassan Ma’sum
Syech H. Muhammad Yunus
Syech Kadhi H. Ilyas
Ketua I                                   : T. H. M. Anwar
Ketua II                                 : Abdurrahman Syihab
Penulis I                                : Udin Syamsuddin
Penulis II                              : Yusuf Ahmad Lubis
Bendahari                             : Suhailuddin
Pembantu-pembantu       : Baharudin Ali, M. Saad, Abdul Wahab, M. Arsyad Thalib Lubis
  • PARA PENDIRI AL WASHLIYAH
Dalam sejarah perjuangan Islam di Sumatera Utara saat menjelang kemerdekaan, para pendiri Al Washliyah adalah orang-orang yang sangat menonjol dalam memperjuangkan Islam, baik dalam bidang pendidikan, dakwah, amal sosial maupun dalam bidang politik. Mereka dikenal sebagai orang yang pekerja keras, soleh, memiliki pengetahuan keislaman secara mendalam, memiliki keikhlasan dan semangat juang yang tinggi serta rela berkorban dengan jiwa dan hartanya demi agama Islam.
Para pendiri Al Washliyah terdiri dari para pelajar yang berusia sekitar 20-26 tahun. Meski masih berusia muda, para pendiri itu memiliki kharisma yang tinggi di lingkungannya. Diusiannya yang relatif muda, mereka telah bersepakat untuk mendirikan organisasi yang menjadi jembatan antara paham kaum tua dengan paham kaum muda. Adapun yang termasuk sebagai pendiri Al Jam’iyatul Washliyah adalah :
  1. Ismail Banda
  2. Abdurrahman Syihab
  3. Muhammad Arsyad Thalib Lubis
  4. Adnan Nur Lubis
  5. Syamsudin
  6. Yusuf Ahmad Lubis
Serangkai Pendiri Al Jam’iyatul Washliyah :
Mereka ini rata-rata adalah para pelajar yang menimba ilmu di Maktab Islamiyah Tapanuli (MIT) Medan. Usia mereka ketika itu masih sangat belia. Namun memiliki cara pandang yang jauh ke depan (Bashirah).
Para pelajar MIT Medan ini memiliki sebuah perkumpulan kecil yang dinamai dengan Debating Club (kelompok diskusi). Debating Club ini dipimpin oleh seorang pelajar yang sangat cerdas yaitu Abdurrahman Syihab. Dalam kelompok kecil ini sering dibicarakan dan didiskusikan permasalahan yang sedang hangat di masyarakat terutama mengenai permasalahan agama. Debating Club ini terus aktif melakukan diskusi-diskusi sehingga semakin hari semakin luas yang terlibat dalam diskusi. Dan bermula dari diskusi kecil itu maka lahir sebuah ide untuk mendirikan perkumpulan yang sangat besar. Dan akhirnya lahirlah organisasi Al Washliyah.
  • MAKTAB ISLAMIYAH TAPANULI (MIT) MEDAN
Maktab Islamiyah Tapanuli (MIT) Medan, Sumatera Utara merupakan sebuah madrasah kecil saksi bisu lahirnya Al Washliyah. Madrasah ini tidak bisa dipisahkan dari sejarah berdirinya Al Washliyah. Karena di tempat inilah Al Washliyah pertama kali diresmikan yang dibidani oleh para pelajar sekolah tersebut.
Pada tahun 1930-an, MIT Medan merupakan satu-satunya sekolah Islam yang ada di kota Medan, maka tidak heran jika madrasah ini mendapat perhatian yang cukup besar dari para penuntut ilmu sekitar kota Medan, bahkan dari pelosok Indonesia dan Malaysia.
Madrasah MIT Medan terletak jauh dari pusat keramaian dan hiruk pikuk kota Medan, Madrasah ini tepat berada di pinggir sungai Deli. Sungai Deli merupakan sungai yang membelah kota Medan. Madrasah sederhana ini dikelilingi oleh pepohonan yang hijau dan cukup sejuk serta jauh dari hiruk pikuk atau kebisingan suara kendaraan atau yang lainnya. Dengan kondisi tersebut maka para pelajar sangat nyaman dalam menimba ilmu di maktab itu.
Para guru yang mengajar di maktab tersebur diantaranya adalah:
  1. Syech H. Ja’far Hassan
  2. Syech H. Muhammad Yunus
  3. Syech H. Yahya
  • LAMBANG AL WASHLIYAH
Lambang organisasi Al Washliyah adalah bulan sabit berbintang lima, di dalam perisai berpucuk lima, bertuliskan الجمعية الوصلية   (aksara Arab/Sulus) berwarna putih dan dasar hijau.

  • ARTI LAMBANG AL WASHLIYAH
  1. Bulan Terbit
Artinya:
Mengisyaratkan bulan purnama raya yang lagi memancarkan cahayanya di alam dunia ini, yaitu peringatan kepada sekalian alam bahwa agama Islam akan berkembang meratai seluruh penjuru alam.
“Dialah Allah yang telah menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya.” (Al Qur’an)
  1. Lima Bintang Bersatu
Artinya:
Sebagai sinar yang merupakan sendi kebenaran agama Islam dengan rukun Islam yang lima. Terutama sekali sembahyang lima waktu, sebagai fondasi yang kokoh menyinari rohani dan jasmani untuk menunaikan perintah Ilahi guna mencapai kemuliaan di dunia dan di akhirat.
“Dan akan beberapa tanda, dan dengan bintang itu mereka mendapat petunjuk.” (Al Qur’an)
  1. Warna Putih
Artinya:
Keimanan orang yang mukmin itu sebagai cahaya bulan yang baru terbit. Warna sinarnya memancarkan cahaya terang benderang. Apabila cahaya tersebut timbul dengan pancarannya meskipun hujan dan awan serta angin badai yang keras, cahaya itu tidak akan lenyap. Ia akan tetap bersinar hingga sampai saat yang penghabisan.
  1. Dasar yang Berwarna Hijau
Artinya:
Setiap orang mukmin itu wajib suci hati, rohani, jasmani serta budi pekertinya. Dan lemah lembut dalam mencapai kemuliaan dan perdamaian yang kekal di muka bumi ini.
“Adakah tidak engkau lihat sesungguhnya Allah telah menurunkan dari langit akan air, maka jadilah bumi hijau. Sesungguhnya Allah amat pengasih lagi amat mengetahui (mengkabarkan).” (Al Qur’an)
  1. Cahaya Bulan dan Bintang
Artinya:
Agama Islam dan kaum muslimin sebagai pedoman petunjuk keselamatan di daerah dan dilautan dengan jalan lemah lembut. Cahaya dimanapun tidak dapat dilindungi dan ditutupi apa pun juga. Ibarat air, ia akan berjalan meratai bumi, lambat laun ia akan meratai bumi seluruhnya.
“Dan Dialah Allah yang telah menjadikan bagi kamu akan beberapa bintang supaya kamu dapat petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut. Sesungguhnya Kami nyatakan beberapa tanda bagi kaum yang mengerti.” (Al Qur’an).
  • TINGKAT PIMPINAN ORGANISASI AL WASHLIYAH
Tingkat pimpinan dalam struktur organisasi Al Washliyah adalah sebagai berikut:
  1. Pengurus Besar Al Jam’iyatul Washliyah atau di singkat PB Al Washliyah untuk tingkat pusat dan berkedudukan di Ibukota Negara.
  2. Pimpinan Wilayah Al Jam’iyatul Washliyah atau di singkat PW Al Washliyah untuk tingkat Provinsi dan berkedudukan di Ibukota Provinsi.
  3. Pimpinan Daerah Al Jam’iyatul Washliyah atau di singkat PD Al Washliyah untuk tingkat Kabupaten /Kota dan berkedudukan di Kabupaten/Kota.
  4. Pimpinan Cabang Al Jam’iyatul Washliyah atau di singkat PC Al Washliyah untuk tingkat Kecamatan dan berkedudukan di Kecamatan.
  5. Pimpinan Ranting Al Jam’iyatul Washliyah atau di singkat PR Al Washliyah untuk tingkat Desa/Kelurahan dan berkedudukan di Desa/Kelurahan.

Selain struktur vertikal (garis lurus ke bawah dan ke atas), Al Washliyah pun memiliki struktur horizontal (garis lurus ke samping/sejajar).
  1. Dewan Fatwa PB Al Washliyah
Tugasnya memberikan fatwa sebagai pedoman penyelesaian persoalan-persoalan organisasi dalam bidang hukum dan keorganisasian.
  1. Dewan Penasehat dan Pertimbangan PB Al Washliyah
Tugasnya memberikan nasihat dan pertimbangan dalam upaya pembinaan dan pengembangan organisasi guna mencapai tujuan organisasi.
  1. Majelis-majelis
Berfungsi sebagai badan pembantu pimpinan sesuai dengan tingkat dan bidangnya masing-masing. Ada pun majelis-majelis yang ada di dalam Al Washliyah adalah:
  1. Majelis Pendidikan dan Kebudayaan (MPK)
  2. Majelis Dakwah
  3. Majelis Amal Sosial (MAS)
  4. Majelis Kader dan Pengembangan Sumber Daya Manusia
  5. Majelis Pembina dan Pengembangan Ekonomi
  6. Mejelis Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM)
ORGANISASI BAGIAN AL WASHLIYAH
Al Washliyah merupakan organisasi induk yang memiliki beberapa organisasi otonom atau disebut dengan organisasi bagian dari Al Washliyah. Organisasi bagian ini di bawah pengawasan dan bimbingan Pimpinan Al Washliyah setingkat serta seazas dan setujuan dengan Al Washliyah.
Saat ini Al Washliyah memiliki tujuh Organisasi Bagian yang masih eksis. Organisasi bagian ini dibagi menurut bidang garapannya masing-masing sehingga tidak terjadi tumpang tindih program. Adapun ketujuh organisasi bagian terdiri dari:
  1. Organisasi untuk kaum Wanita atau Ibu-ibu dengan nama Muslimat Al Washliyah.
  2. Organisasi Pemuda dengan nama Gerakan Pemuda Al Washliyah di singkat GPA.
  3. Organisasi Puteri dengan nama Angkatan Puteri Al Washliyah di singkat APA.
  4. Organisasi Pelajar/Remaja dengan nama Ikatan Putera-Puteri Al Washliyah di singkat IPA.
  5. Organisasi Mahasiswa dengan nama Himpunan Mahasiswa Al Washliyah di singkat HIMMAH.
  6. Organisasi Sarjana dengan nama Ikatan Sarjana Al Washliyah di singkat ISARAH.
  7. Organisasi Guru dengan nama Ikatan Guru Al Washliyah di singkat IGA.
Masing-masing organisasi bagian itu mempunyai pimpinan pusat sebagai tingkatan pimpinan tertinggi dan sampai pimpinan ranting sebagai tingkatan terendah. Di dalam Muktamar Al Washliyah, seluruh organ bagian itu turut serta mengadakan muktamar pula. Namun untuk internal, masing-masing mengadakan Muyawarah sendiri.
BAI’AH AL WASHLIYAH

بسم الله الرحمن الرحيم

 اشهدان لآاله الآاللّه واشهدان محمدرسولاللّه
Artinya:
Dengan Nama Allah yang Mahapengasih lagi Mahapenyayang
Aku bersaksi sesungguhnya tiada tuhan selain Allah dan aku bersaksi sesungguhnya Nabi Muhammad utusan Allah
Aku ridho Allah Tuhanku dan Islam sebagai agamaku dan Nabi Muhammad sebagai Nabi dan Rasulku dan kaum muslimin dan kaum muslimat sebagai saudaraku.
Saya Berjanji:
  1. Melaksanakan syariat Islam dan ajaran Islam secara istiqomah.
  2. Melaksanakan amanah Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Al Jam’iyatul Washliyah serta keputusan Muktamar dan peraturan-peraturan organisasi yang ada.
  3. Memelihara harkat dan martabat serta kehormatan dan independensi Al Jam’iyatul Washliyah.
  4. Memelihara keutuhan kerjasama dalam memimpin dan melaksanakan segala aktifitas dan amal usaha organisasi Al Jam’iyatul Washliyah.

    situs resmi >>> http://majelissosialpbalwashliyah.wordpress.com/

Senin, 17 September 2012

Malaikat Juga Pernah Tertawa, Menangis Dan Juga Takut Terhadap Manusia


           Diceritakan dalam sebuah cerita bahwa Allah SWT bertanya kepada malaikat (dan Allah itu Maha Mengetahui), apakah engkau pernah tertawa? Lalu malaikat tersebut pun menjawab, iya wahai tuhanku, aku pernah tertawa, ketika itu aku melihat seorang manusia sedang memesan sebuah pakaian kepada temannya sambil berkata “ tolong kamu perbaiki baju ini karena aku akan membelinya besok pagi “ lalu malaikat pun berkata, gimana aku tidak tertawa wahai tuhanku, sedangkan aku tau bahwa dimalam itu juga nyawanya akan aku cabut atas perintahMu, dan aku juga pernah menangis ketika aku diperintahkan mencabut nyawa seorang wanita yang sedang tersesat di padang pasir  yang hanya ditemani oleh bayinya yang sedang menyusui, bagaimana aku tidak menangis wahai tuhanku melihat anak bayi yang belum berdosa tinggal sendirian dipadang pasir namun apa boleh buat karena itu semua adalah perintahMu, dan aku juga pernah takut ketika aku Engkau perintahkan untuk mencabut nyawa seorang Wali diantara Wali WaliMu yang sangat Alim dan Ta’at kepadaMu, bagaimana aku tidak takut sedangkan dia adalah KekasihMu, namun apa boleh buat karena itu semua adalah perintah darimu, setelah bercerita seperti itu lalu Allah bertanya lagi kepada malaikat “ tahukah engkau siapa kekasihku yang engkau takut mencabut nyawanya tersebut? Malaikat pun menjawab “Engkau maha Mengetahui wahai tuhanku “ lalu Allah pun memberitahukannya bahwa bayi yang pernah ditinggal mati oleh ibunya dipadang pasir sendirian dahulu, itulah Kekasihku Wali Waliku yang ta’at dan alim yang Engkau takut akan kehilangan dan takut mencabut nyawanya…

intinya:
1. kita ini hanya bisa berencana namun Allah jugalah yang menentukan
2. dan selalu ada hikmah dibalik sesuatu yang memilukan
3. Cari sendiri, hehe.

Kamis, 06 September 2012

Cara Menahan Nafsu

         Ada seorang anak muda yg nafsunya masih bergejolak bertanya pada Guru/Syaikhnya tentang nafsu yg dia miliki dikarenakan susah menjaga pandangannya dari hal yg diharamkan khususnya wanita, maka guru itu memerintahkannya untuk membawa segelas susu yg penuh dan berjalan dikeramaian orang kesuatu tempat dengan di iringi oleh muridnya yg lain dgn membawa cambuk, apabila susu itu tumpah maka langsung ad
a cambukan yg mendarat dipunggungnya, setelah sampai pada tujuannya, guru itu bertanya: "apa yg kamu lihat diperjalanan ?",
Dan pemuda itu menjawab: "aku tidak memerhatikan apa2 kecuali susu yg ada ditanganku karena apabila tumpah maka langsung ada cambukan dipunggungku dan aku akan merasa hina dihadapan orang ramai".
Dan guru itu menyudahi dgn perkata'annya: Begitulah perasaan yg seharusnya ada disetiap orang mu'min yg takut akan adzab ALLAH dan kehinaan di hari kiamat nanti sehingga dirinya fokus pada satu titik yaitu Bekal yg harus dia siapkan untuk menghadapi Hari Akhir nanti.

Yang Tak Bercadar Jelek

        ketika saya duduk di semester 3 tepatnya ketika saya berada dikota Tarim disebuah Universitas yang cukup dikenal oleh warga Hadhromaut di Yaman, yaitu Al Ahgaff University. Selain di Tarim, Universitas ini pada dasarnya berpusat di Kota Mukalla, karena di Tarim cuma sebuah cabang Al Ahgaff  yang memiliki dua jurusan yaitu jurusan Syari'ah dan Syari'ah Wal Qonun, selama dua semester kami berada di Kota Mukalla, dan di semester tiga dan seterusnya kami harus berada di kota Tarim, yang sering disebut dengan kota para Habaib atau kota Seribu Para Wali atau sering juga disebut dengan Kota Asal Usul Wali Songo.

     ketika itu guru saya bercerita tentang Mahasiswi Al Ahgaff yang berada di Kulliyatul Banat, Universitas Al Ahgaff yang bertempat di Mukalla, biasanya seorang guru bercerita tidak lain tujuannya adalah agar Mahasiswanya tidak tidur atau ngantuk dikelas, jadi untuk membangkitkan semangat mereka, guru saya pun bercerita, ceritanya begini. 

     Universitas Al Ahgaff memiliki Mahasiswa dan mahasiswi yang cukup banyak, diantaranya ada yang  dari Yaman, Malaysia , Indonesia , Somaliya, dll. Suatu hari Mahasiswi Indonesia pernah demo kepada pengajar pengajar , mereka demo agar pengajar memperbolehkan mereka tidak mengenakan niqab / cadar, dan bahkan mereka sempat tidak bercadar ketika guru sedang mengajar sehingga para guru yang mengajar pun kelihangan konsentrasi dan membuat para guru guru tersebut hanya menundukkan kepala mereka ketika menjelaskan pelajaran, karena para Mahasiswi ini menyangka hukum niqab bagi perempuan itu tidak wajib, melainkan apabila menimbulkan fitnah maka wajib hukumnya untuk perempuan mengenakan niqab , seperti ketika bertemu dengan Laki laki yang bukan muhrimnya , atau seperti perempuan yang amat sangat cantik , hingga siapapun yg melihatnya pasti akan terpesona, yaaa maklum ajalah, para mahasiswi ini masih terpengaruh oleh budaya budaya indonesia yang terbiasa berpakaian apa adanya dan ada apanya. akhirnya staf pengajar pun memberikan Nizhom Ilzam (peraturan yang harus ditaati): bawha bagi Mahasiswi mahasiswi Al Ahgaff muLai besok tidak diwajibkan lagi mengenakan Niqab tapi dengan syarat bagi mereka yg merasa wajahnya Qobihah / jeLek , merka boleh tidak mengenakan niqab karna tidak akan menimbulkan fitnah , adapun bagi mereka yang merasa wajahnya jamilah / cantik maka diharomkan bagi mereka untuk tidak berniqab karna akan menimbulkan fitnah.
setelah Nizhom itu ditempelkan, diberitahukan dan bahkan dibacakan, keesokan harinya ternyata tidak ada seorang pun dari Mahasiswi mahasiswi Indonesia tersebut yang tidak mengenakan Niqab / cadar , tau knp?
karena mereka semua merasa wajah mereka jamilah / cantik , coba aja berani buka niqab berarti wajahnya qobihah / jelek dong..
^_^hehehe..

buat Mahasiswi Al Ahgaff di Mukalla...

Rabu, 05 September 2012

Hasan Al Bashri ditanya