Di ceritakan dalam sebuah tulisan
Ada seorang santri yg gemar menulis di beberapa Media, Webset dan bahkan di Status atau Grup di FB, santri tersebut sangat hebat dalam merangkai kata kata, ia juga pandai meringkas suatu bacaan lalu merangkumnya kembali dengan bahasa yg lebih enak dan trend, ia sering mendapat penghargaan berupa sertifikat, piagam dan juga uang melalui tulisannya tersebut, tak dir
Ada seorang santri yg gemar menulis di beberapa Media, Webset dan bahkan di Status atau Grup di FB, santri tersebut sangat hebat dalam merangkai kata kata, ia juga pandai meringkas suatu bacaan lalu merangkumnya kembali dengan bahasa yg lebih enak dan trend, ia sering mendapat penghargaan berupa sertifikat, piagam dan juga uang melalui tulisannya tersebut, tak dir
agukan lagi bahwa santri seperti ini dinanti2 oleh orang sekampungnya jika ia pulang dari pesantrennya, namun si santri belum mau pulang karena dia harus menyelesaikan kontrak karya tulisannya dengan sebuah media cetak dan juga internet, keadaan seperti ini lah yg membuat warga sekampungnya makin merindu-rindukannya karena hampir 5 thn si santri ini belum pulang kampung dikarenakan kesibukan di pesantrennya dan juga kontrak karya tulisanya yg terlanjur ia tanda tangani, bahkan banyak media media lain yg ingin mengontrak tulisan si santri tersebut setelah selesai waktu yg ditentukan karena mereka mengetahui lekak lekuk tulisan santri tersebut, dan jarang sekali ada seorang santri yg giat menulis di berbagai media, ternyata selain seorang santri yg hebat dalam menguntai dan mengungkap kata kata, dia juga seorang yg pintar dikelasnya dan dikenal dengan orang yg pendiam dan tak banyak bicara.
Di tahun berikutnya, akhirnya impiannya ingin pulang kampung pun tercapaikan, ia tolak semua tawaran tawaran untuk menulis dari beberapa media, namun walaupun demikian ia masih tetap sering menulis status didinding fb nya yg sangat bermanfaat bagi para pembaca, baik itu berupa seruan berbuat baik, puisi dan bahkan humor.
Sebetulnya santri ini bingung kenapa warga sekampungnya sangat menginginkannya pulang kekampung halamannya di Hari Raya yg telah ditentukan, sebelum nyampe kerumah ia melihat disebuah mesjid yg telah dipenuhi oleh jama'ah dari berbagai tempat hingga memenuhi halaman mesjid dan jalan-jalan, lalu ia melihat sebuah sepanduk bertemakan "Hari Raya Hari Bermaaf-maafan" dan sisantri mulai bengong dengan tema tersebut dan berkata dalam hatinya ' bukan kah itu status aku tadi pagi? ' lalu ia makin heran lagi setelah membaca kalimat yg paling terakhir dari spanduk tersebut adalah namanya sendiri sebagai penceramah diacara tersebut.
Masih dalam terheran teran tiba-tiba ada sekelompok orang mendatanginya dan menyapanya " Assalamu'alaikum Ustazd, Kami telah menunggu 15 menit " si santri pun bingung mendengar sapaan tersebut dan seketika itu juga ia melihat kedua orang tuanya berada dibangku paling depan karena kebetulan acara tersebut diatas sebuah pentas diluar mesjid tepat disebelah rumahnya.
Si Santri diam seribu bahasa, dia tidak tahu harus berbuat apa apa dan harus berkata apa dihadapan org sebanyak itu.
Akhirnya dengan berat hati ia pun maju kedepan menuju pentas, ia coba menenangkan diri, ia ingin menyampaikan apa yg ia tulis di Status FB tadi pagi, namun ia bingung harus memulai dari mana, ia baru mengucapkan salam kepada para hadirin namun setelah itu diam, ia berusaha ingin memulai menyampaikan sesuatu dengan lantunan yg enak didengar sebagaimana ia menulis sebuah tulisan di Media dan Internet, ia ingin menyapa para hadirin dengan sapaan hari raya sebagaimana ia menyapa teman teman di fb dan membalas komentar mereka, hampir 3 menit ia diam diatas panggung tanpa sepatah kata pun kecuali salam, para hadirin sangat ingin langsung mendengarkan kata-katanya dari mulut si santri tersebut bukan hanya sekedar membaca tulisan-tulisannya di Media atau di Status facebook, namun si santri belum bisa buka mulut dan tiba-tiba mati lampu, seketika itu juga si santri menghilang entah kemana dari hadapan para hadirin, bukan hanya orang tuanya yg sedih namun satu kampung yg mempercayainya juga ikut tunduk kepala dan merasa malu.
jadi intinya: jangan terlalu berharap kepada para penulis, dan juga jangan dibebani kepada mereka apalagi dipaksa karena org yg pande menulis belum tentu bisa menyampaikan apa yg ia tulis..
to you
Di tahun berikutnya, akhirnya impiannya ingin pulang kampung pun tercapaikan, ia tolak semua tawaran tawaran untuk menulis dari beberapa media, namun walaupun demikian ia masih tetap sering menulis status didinding fb nya yg sangat bermanfaat bagi para pembaca, baik itu berupa seruan berbuat baik, puisi dan bahkan humor.
Sebetulnya santri ini bingung kenapa warga sekampungnya sangat menginginkannya pulang kekampung halamannya di Hari Raya yg telah ditentukan, sebelum nyampe kerumah ia melihat disebuah mesjid yg telah dipenuhi oleh jama'ah dari berbagai tempat hingga memenuhi halaman mesjid dan jalan-jalan, lalu ia melihat sebuah sepanduk bertemakan "Hari Raya Hari Bermaaf-maafan" dan sisantri mulai bengong dengan tema tersebut dan berkata dalam hatinya ' bukan kah itu status aku tadi pagi? ' lalu ia makin heran lagi setelah membaca kalimat yg paling terakhir dari spanduk tersebut adalah namanya sendiri sebagai penceramah diacara tersebut.
Masih dalam terheran teran tiba-tiba ada sekelompok orang mendatanginya dan menyapanya " Assalamu'alaikum Ustazd, Kami telah menunggu 15 menit " si santri pun bingung mendengar sapaan tersebut dan seketika itu juga ia melihat kedua orang tuanya berada dibangku paling depan karena kebetulan acara tersebut diatas sebuah pentas diluar mesjid tepat disebelah rumahnya.
Si Santri diam seribu bahasa, dia tidak tahu harus berbuat apa apa dan harus berkata apa dihadapan org sebanyak itu.
Akhirnya dengan berat hati ia pun maju kedepan menuju pentas, ia coba menenangkan diri, ia ingin menyampaikan apa yg ia tulis di Status FB tadi pagi, namun ia bingung harus memulai dari mana, ia baru mengucapkan salam kepada para hadirin namun setelah itu diam, ia berusaha ingin memulai menyampaikan sesuatu dengan lantunan yg enak didengar sebagaimana ia menulis sebuah tulisan di Media dan Internet, ia ingin menyapa para hadirin dengan sapaan hari raya sebagaimana ia menyapa teman teman di fb dan membalas komentar mereka, hampir 3 menit ia diam diatas panggung tanpa sepatah kata pun kecuali salam, para hadirin sangat ingin langsung mendengarkan kata-katanya dari mulut si santri tersebut bukan hanya sekedar membaca tulisan-tulisannya di Media atau di Status facebook, namun si santri belum bisa buka mulut dan tiba-tiba mati lampu, seketika itu juga si santri menghilang entah kemana dari hadapan para hadirin, bukan hanya orang tuanya yg sedih namun satu kampung yg mempercayainya juga ikut tunduk kepala dan merasa malu.
jadi intinya: jangan terlalu berharap kepada para penulis, dan juga jangan dibebani kepada mereka apalagi dipaksa karena org yg pande menulis belum tentu bisa menyampaikan apa yg ia tulis..
to you
Tidak ada komentar:
Posting Komentar