Senin, 27 Agustus 2012

Harapan si Gadis

           Diceritakan dalam sebuah tulisan, ada seorang wanita yg sholehah yg tumbuh dewasa dan memiliki wajah sangat menawan, semenjak kecil hingga tamat sekolah ia dikenal dengan baik hati dan kedermawanannya sehingga satu kampung tersebut mengenalinya dengan bidadari desa, tak dipungkiri lagi bahwa gadis yg baru tamat aliyah ini banyak sekali yang ingin melamarnya namun ada yang langsung kerumahnya ingin
meminang tapi ditolak dan ada juga yang memendam mendam perasaanya dalam hati karena tidak berani untuk mengungkapkan, mungkin karena wajah pas pasan atau karena takut kepada orang tua si gadis yang dikenal pemarah.
Diantara pemuda pemuda yang ingin melamar gadis ini, ada seorang pria yang pendiam, dan juga soleh yang bernana Zuwen. Pria ini ternyata teman sekolah si gadis tersebut diwaktu Tsanawiyah dulu.
Diwaktu masa masa sekolah, Zuwen memang tidak pernah mengungkapkan perasaannya ke gadis itu hingga akhirnya mereka berpisah karena mereka tamat ditsanawiyah dan bertemu kembali setelah tiga tahun tidak bertemu.
Singkatnya, ternyata pertemuan mereka itu hanya untuk berpisah karena si Zuwen akan berangkat ke Timur Tengah guna melanjutkan studinya disana, dalam waktu yang sangat singkat ini ternyata si Zuwen juga belum sempat untuk mengungkapkan perasaannya ke gadis itu padahal si gadis sangat ingin berharap bahwa Zuwen akan mengungkapkan perasaanya ke dia tapi apa boleh buat, Zuwen hanyalah seorang yang pendiam, yang belum bisa mengungkapkan apa yang ada dihatinya ke gadis itu.
Hampir empat tahun mereka berpisah, namun hubungan mereka masih berlangsung diatas facebook.
Selama Zuwen ditimur tengah, si gadis ini selalu berbaik sangka terhadap si Zuwen, ia tidak pernah membayangkan bahwa si Zuwen akan mencintai mahasiswi disana, sebagaimana yang kita ketahui bahwa mahasiswi di timur tengah itu sangat cantik dan mempesona meskipun yang kelihatan hanya matanya saja karena mahasiswi disana diharuskan untuk bercadar.

Sebenarnya, si gadis ini juga menggantungkan cita citanya di timur tengah hanya saja berbeda kampus dan tentunya berbeda negara, si Zuwen berada di Universitas Al Ahgaff, tepatnya di Hadhromaut dan sedangkan si gadis ingin kuliyah di Universitas Al Azhar, tepatnya Chairo.
Namun, karena kurang mampu, akhirnya si gadis mengundur-undurkan niatnya untuk kuliyah ke timur tengah hingga ditahun keempat inilah ia berhasil untuk mencapai cita citanya kesana setelah melalui test dan sebagainya, dan dia mendapat kabar akan berangkat ke Chairo di tanggal 26 Sawal ini.
Namun, ketika si Zuwen mengetahui hal tersebut, Zuwen takut kehilangan si gadis ini di Chairo, karena di Chairo sana tentunya banyak mahasiswa mahasiswa yang tampan, cerdas serta alim dan baik hati, akhirnya ia berniat memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaanya ke gadis karena selama empat tahun di Hadhromau Zuwen belum pernah mengungkapkan perasaannya ke gadis, dan begitu juga dengan gadis yang belum pernah mengungkapkan isi hatinya ke Zuwen meskipun dahulu ia pernah menulis "sesuatu" namun itu hanyalah sekedar bercanda bagi mereka berdua.

Setelah selesai shalat malam, Zuwen mulai membuka laptopnya dan langsung menyusun kata-kata dalam microsoft word tentang apa yang akan ia sampaikan ke gadis.
Ia awali tulisannya dengan Assalamu'alaikum ya ukhti, gimana kabarnya? Semoga ukhti dalam lindungan Allah S.W.T Amiiin. Dengar-dengar ukhti minggu depan mau berangkat ke Chairo, kok enggak bilang-bilang ya? Hehe.
Sebetulnya aku bingung mau mulai dari mana tapi sebaiknya aku mulai dari sini saja bahwasanya aku semenjak kita berada di Tsanawiyah dulu sudah ada perasaan ingin melamarmu, namun itu tidak mungkin karena kita masih belum terlalu dewasa, begitu juga ketika detik detik keberangkatanku dulu aku juga ingin mengungkapkannya namun aku belum siap untuk hidup bersamamu tapi kini sudah selayaknya lah aku mungungkapkan perasaanku ke kamu bahwasanya aku benar benar mencintaimu, aku ingin melamarmu dalam waktu dekat ini, tapi ada yang membuat hatiku mengganjal karena minggu depan kamu akan berangkat ke Mesir, aku tidak tau apakah ungkapan perasaanku ini hanya sekedar sia-sia, aku sama sekali tidak menghalangimu untuk menuntut ilmu disana namun aku tidak bisa berjanji apakah aku bisa dan sanggup setia menantimu selama empat atau lima tahun kedepan, sekali lagi aku mohon maaf karena baru sekarang aku berani untuk bicara" Begitulah isi pesan inbox Zuwen ke gadis yang ia cintai itu, beberapa detik setelah pesan itu terkirim, Zuwen malah bersedih dan merasa bersalah karena telah mengirim pesan tersebut, ia takut bahwa si gadis malah salah paham didalam memahami isi pesan tersebut, namun apa boleh buat pesan inbox sudah terkirim dan tidak bisa dihapus.
Hanya dalam beberapa menit, si gadis yang solehah ini pun membuka facebooknya karena facebook di Indonesia sekarang ini lebih ngetop dari hp, setelah dibuka dan dibaca pesan tersebut oleh si gadis, ia pun mencurahkan air matanya ketika membaca pesan tersebut karena ia tidak menyangka bahwa si Zuwen benar benar mencintainya sebagaimana yang ia duga, namun kini hati si gadis mulai bimbang, ia bingung hatinya harus milih yang mana, milih Zuwen atau milih Chairo.

Diwaktu yang bersamaan, Zuwen yang sudah empat tahun di ahgaff mendapat tawaran dari gurunya untuk menikah dengan seorang mahasiswi ahgaff asal Jawa, sebetulnya gurunya sudah dari dulu ingin menjodohkan keduanya namun dahulu gurunya belum mendapatkan Apartemen dimana nanti mereka akan tinggal, mahasiswi ini adalah putri dari seorang Kiyai yang terkenal di Jawa, kiyai tersebut menginginkan agar putrinya dinikahkan dengan mahasiswa ahgaff juga yang sesuai dengan pilihan guru tersebut.
Zuwen bingung sebagaimana si gadis juga bingung namun akhirnya mereka memilih jalan yang sesuai menurut mereka. Si gadis lebih memilih Zuwen dari pada cita citanya ke Mesir karena setelah ia berpikir panjang, kalau ia ke Mesir ia akan kehilangan si Zuwen, namun kalau ia milih Zuwen maka cita citanya ke Timur Tengah masih ia dapati dengan berharap ia akan melanjutkan kuliyahnya ke Hadhromaut bersama Zuwen dan Hadhromaut itu juga timur tengah, dengan begitu cita citanya ketimur tengah tidak hilang begitu saja.
Hingga akhirnya di hari keberangkatannya ke Mesir, ia rela tidak mau berangkat dengan beribu alasan, padahal itu adalah kesempatan terakhirnya Ke Al Azhar University karena tahun depan ijazahnya tidak boleh lagi dipake untuk ikut test kesana, karena salah satu syarat ke sana adalah ijazah tidak boleh lebih dari empat tahun.
Tiga hari sudah berlalu dari hari pembatalan keberangkatan si gadis ke Chairo, ia ingin memberitahukan berita ini ke Zuwen bahwa ia lebih memilih Zuwen dan akan berangkat ke Hadhromaut dari pada memilih ke Chairo, namun sebelum ia mengirim pesan ke Zuwen, si gadis mendapatkan pesan dari Zuwen yang biasa di awali dengan "Assalamu'alaikum, gimana kabarnya di Mesir? Semoga Fatimah baik baik saja ( ooooo, ternyata nama si gadis itu Fatimah )
mudah-mudahan fatimah bisa menemukan teman teman yang baik disana ( si Zuwen menyangka bahwa si Fatimah sudah nyampe di Mesir, karena selama seminggu lebih ia tidak menerima balasan pesan dari Fatimah )
Begini ma, (panggilan akrab si Fatimah adalah ima) seminggu yang lalu aku mendapatkan tawaran dari guruku untuk menikahi muridnya, aku bingung harus memilih ima atau dia, ima tidak pernah membalas pesanku, mungkin ketika itu ima sibuk membereskan barang barang untuk berangkat ke Mesir, akhirnya aku lebih memilih tawaran guruku untuk menikahi muridnya dan baru tiga hari yang lalu akad nikahnya berlangsung, aku minta maaf tidak bisa menantimu disana, padahal aku juga sempat berharap ingin melanjutkan S2 Ku di Al Azhar dan terus bersamamu hidup berdua, namun apa boleh buat, kita hanya bisa merancang tapi tetap tuhan jugalah yang menentukan jodoh kita, mudah-mudahan ima mendapatkan cita-citanya disana dan dijodohkan dengan mahasiswa Al Azhar juga, Amiiin "
tak disangka berlinanglah air mata si Fatimah yang kedua kalinya menerima pesan dari Zuwen, ia tidak tahu harus berkata apa, ia menangis sebisa bisanya hingga matanya membiru, wajahnya yang cantik pun sedikit demi sedikit luntur oleh air matanya, ayahnya yang dulu pemarah kini jadi pendiam melihat anak gadisnya menangis. Fatimah terus menangis hingga air matanya habis, kini baru ia sadari seharusnya ia lebih memilih cita citanya ke Mesir ketimbang si Zuwen, namun apa boleh buat nasi sudah menjadi bubur, ljazah mau ke Mesir sudah kadaluarsa dan Zuwen pun sudah jadi milik gadis lain.
Intinya: jangan pacaran jarak jauh, jarak dekat aja masih gak boleh apalagi jarak jauh.
( 29/08/2012 jam 23:45 )
to you

Tidak ada komentar:

Posting Komentar