Diceritakan dalam sebuah tulisan, ada seorang
wanita yg sholehah yg tumbuh dewasa dan memiliki wajah sangat menawan,
semenjak kecil hingga tamat sekolah ia dikenal dengan baik hati dan
kedermawanannya sehingga satu kampung tersebut mengenalinya dengan
bidadari desa, tak dipungkiri lagi bahwa gadis yg baru tamat aliyah ini
banyak sekali yang ingin melamarnya namun ada yang langsung kerumahnya
ingin
meminang tapi ditolak dan ada juga
yang memendam mendam perasaanya dalam hati karena tidak berani untuk
mengungkapkan, mungkin karena wajah pas pasan atau karena takut kepada
orang tua si gadis yang dikenal pemarah.
Diantara pemuda pemuda yang
ingin melamar gadis ini, ada seorang pria yang pendiam, dan juga soleh
yang bernana Zuwen. Pria ini ternyata teman sekolah si gadis tersebut
diwaktu Tsanawiyah dulu.
Diwaktu masa masa sekolah, Zuwen memang
tidak pernah mengungkapkan perasaannya ke gadis itu hingga akhirnya
mereka berpisah karena mereka tamat ditsanawiyah dan bertemu kembali
setelah tiga tahun tidak bertemu.
Singkatnya, ternyata pertemuan
mereka itu hanya untuk berpisah karena si Zuwen akan berangkat ke Timur
Tengah guna melanjutkan studinya disana, dalam waktu yang sangat singkat
ini ternyata si Zuwen juga belum sempat untuk mengungkapkan perasaannya
ke gadis itu padahal si gadis sangat ingin berharap bahwa Zuwen akan
mengungkapkan perasaanya ke dia tapi apa boleh buat, Zuwen hanyalah
seorang yang pendiam, yang belum bisa mengungkapkan apa yang ada
dihatinya ke gadis itu.
Hampir empat tahun mereka berpisah, namun hubungan mereka masih berlangsung diatas facebook.
Selama Zuwen ditimur tengah, si gadis ini selalu berbaik sangka
terhadap si Zuwen, ia tidak pernah membayangkan bahwa si Zuwen akan
mencintai mahasiswi disana, sebagaimana yang kita ketahui bahwa
mahasiswi di timur tengah itu sangat cantik dan mempesona meskipun yang
kelihatan hanya matanya saja karena mahasiswi disana diharuskan untuk
bercadar.
Sebenarnya, si gadis ini juga menggantungkan cita citanya
di timur tengah hanya saja berbeda kampus dan tentunya berbeda negara,
si Zuwen berada di Universitas Al Ahgaff, tepatnya di Hadhromaut dan
sedangkan si gadis ingin kuliyah di Universitas Al Azhar, tepatnya
Chairo.
Namun, karena kurang mampu, akhirnya si gadis
mengundur-undurkan niatnya untuk kuliyah ke timur tengah hingga ditahun
keempat inilah ia berhasil untuk mencapai cita citanya kesana setelah
melalui test dan sebagainya, dan dia mendapat kabar akan berangkat ke
Chairo di tanggal 26 Sawal ini.
Namun, ketika si Zuwen mengetahui
hal tersebut, Zuwen takut kehilangan si gadis ini di Chairo, karena di
Chairo sana tentunya banyak mahasiswa mahasiswa yang tampan, cerdas
serta alim dan baik hati, akhirnya ia berniat memberanikan diri untuk
mengungkapkan perasaanya ke gadis karena selama empat tahun di Hadhromau
Zuwen belum pernah mengungkapkan perasaannya ke gadis, dan begitu juga
dengan gadis yang belum pernah mengungkapkan isi hatinya ke Zuwen
meskipun dahulu ia pernah menulis "sesuatu" namun itu hanyalah sekedar
bercanda bagi mereka berdua.
Setelah selesai shalat malam, Zuwen
mulai membuka laptopnya dan langsung menyusun kata-kata dalam microsoft
word tentang apa yang akan ia sampaikan ke gadis.
Ia awali
tulisannya dengan Assalamu'alaikum ya ukhti, gimana kabarnya? Semoga
ukhti dalam lindungan Allah S.W.T Amiiin. Dengar-dengar ukhti minggu
depan mau berangkat ke Chairo, kok enggak bilang-bilang ya? Hehe.
Sebetulnya aku bingung mau mulai dari mana tapi sebaiknya aku mulai dari
sini saja bahwasanya aku semenjak kita berada di Tsanawiyah dulu sudah
ada perasaan ingin melamarmu, namun itu tidak mungkin karena kita masih
belum terlalu dewasa, begitu juga ketika detik detik keberangkatanku
dulu aku juga ingin mengungkapkannya namun aku belum siap untuk hidup
bersamamu tapi kini sudah selayaknya lah aku mungungkapkan perasaanku ke
kamu bahwasanya aku benar benar mencintaimu, aku ingin melamarmu dalam
waktu dekat ini, tapi ada yang membuat hatiku mengganjal karena minggu
depan kamu akan berangkat ke Mesir, aku tidak tau apakah ungkapan
perasaanku ini hanya sekedar sia-sia, aku sama sekali tidak
menghalangimu untuk menuntut ilmu disana namun aku tidak bisa berjanji
apakah aku bisa dan sanggup setia menantimu selama empat atau lima tahun
kedepan, sekali lagi aku mohon maaf karena baru sekarang aku berani
untuk bicara" Begitulah isi pesan inbox Zuwen ke gadis yang ia cintai
itu, beberapa detik setelah pesan itu terkirim, Zuwen malah bersedih dan
merasa bersalah karena telah mengirim pesan tersebut, ia takut bahwa si
gadis malah salah paham didalam memahami isi pesan tersebut, namun apa
boleh buat pesan inbox sudah terkirim dan tidak bisa dihapus.
Hanya
dalam beberapa menit, si gadis yang solehah ini pun membuka facebooknya
karena facebook di Indonesia sekarang ini lebih ngetop dari hp, setelah
dibuka dan dibaca pesan tersebut oleh si gadis, ia pun mencurahkan air
matanya ketika membaca pesan tersebut karena ia tidak menyangka bahwa si
Zuwen benar benar mencintainya sebagaimana yang ia duga, namun kini
hati si gadis mulai bimbang, ia bingung hatinya harus milih yang mana,
milih Zuwen atau milih Chairo.
Diwaktu yang bersamaan, Zuwen yang
sudah empat tahun di ahgaff mendapat tawaran dari gurunya untuk menikah
dengan seorang mahasiswi ahgaff asal Jawa, sebetulnya gurunya sudah dari
dulu ingin menjodohkan keduanya namun dahulu gurunya belum mendapatkan
Apartemen dimana nanti mereka akan tinggal, mahasiswi ini adalah putri
dari seorang Kiyai yang terkenal di Jawa, kiyai tersebut menginginkan
agar putrinya dinikahkan dengan mahasiswa ahgaff juga yang sesuai dengan
pilihan guru tersebut.
Zuwen bingung sebagaimana si gadis juga
bingung namun akhirnya mereka memilih jalan yang sesuai menurut mereka.
Si gadis lebih memilih Zuwen dari pada cita citanya ke Mesir karena
setelah ia berpikir panjang, kalau ia ke Mesir ia akan kehilangan si
Zuwen, namun kalau ia milih Zuwen maka cita citanya ke Timur Tengah
masih ia dapati dengan berharap ia akan melanjutkan kuliyahnya ke
Hadhromaut bersama Zuwen dan Hadhromaut itu juga timur tengah, dengan
begitu cita citanya ketimur tengah tidak hilang begitu saja.
Hingga
akhirnya di hari keberangkatannya ke Mesir, ia rela tidak mau berangkat
dengan beribu alasan, padahal itu adalah kesempatan terakhirnya Ke Al
Azhar University karena tahun depan ijazahnya tidak boleh lagi dipake
untuk ikut test kesana, karena salah satu syarat ke sana adalah ijazah
tidak boleh lebih dari empat tahun.
Tiga hari sudah berlalu dari
hari pembatalan keberangkatan si gadis ke Chairo, ia ingin
memberitahukan berita ini ke Zuwen bahwa ia lebih memilih Zuwen dan akan
berangkat ke Hadhromaut dari pada memilih ke Chairo, namun sebelum ia
mengirim pesan ke Zuwen, si gadis mendapatkan pesan dari Zuwen yang
biasa di awali dengan "Assalamu'alaikum, gimana kabarnya di Mesir?
Semoga Fatimah baik baik saja ( ooooo, ternyata nama si gadis itu
Fatimah )
mudah-mudahan fatimah bisa menemukan teman teman yang baik
disana ( si Zuwen menyangka bahwa si Fatimah sudah nyampe di Mesir,
karena selama seminggu lebih ia tidak menerima balasan pesan dari
Fatimah )
Begini ma, (panggilan akrab si Fatimah adalah ima)
seminggu yang lalu aku mendapatkan tawaran dari guruku untuk menikahi
muridnya, aku bingung harus memilih ima atau dia, ima tidak pernah
membalas pesanku, mungkin ketika itu ima sibuk membereskan barang barang
untuk berangkat ke Mesir, akhirnya aku lebih memilih tawaran guruku
untuk menikahi muridnya dan baru tiga hari yang lalu akad nikahnya
berlangsung, aku minta maaf tidak bisa menantimu disana, padahal aku
juga sempat berharap ingin melanjutkan S2 Ku di Al Azhar dan terus
bersamamu hidup berdua, namun apa boleh buat, kita hanya bisa merancang
tapi tetap tuhan jugalah yang menentukan jodoh kita, mudah-mudahan ima
mendapatkan cita-citanya disana dan dijodohkan dengan mahasiswa Al Azhar
juga, Amiiin "
tak disangka berlinanglah air mata si Fatimah yang
kedua kalinya menerima pesan dari Zuwen, ia tidak tahu harus berkata
apa, ia menangis sebisa bisanya hingga matanya membiru, wajahnya yang
cantik pun sedikit demi sedikit luntur oleh air matanya, ayahnya yang
dulu pemarah kini jadi pendiam melihat anak gadisnya menangis. Fatimah
terus menangis hingga air matanya habis, kini baru ia sadari seharusnya
ia lebih memilih cita citanya ke Mesir ketimbang si Zuwen, namun apa
boleh buat nasi sudah menjadi bubur, ljazah mau ke Mesir sudah
kadaluarsa dan Zuwen pun sudah jadi milik gadis lain.
Intinya: jangan pacaran jarak jauh, jarak dekat aja masih gak boleh apalagi jarak jauh.
( 29/08/2012 jam 23:45 )
to you
Tidak ada komentar:
Posting Komentar