Kamis, 30 Agustus 2012

Aku dan Bulan



Ketika umurku dua tahun, aku sangat suka melihat bulan, kalau aku menangis maka tidak ada yang bisa mendiamkanku kecuali melihat bulan, aku tidak mengerti mengapa bulan bisa membuatku diam dari tangisanku, padahal banyak anak-anak sebayaku yang tidak henti-hentinya menangis walaupun diperlihatkan bulan kepadanya.
      Ketika SD, aku masih sering melamun sambil melihat bulan yang dilangit, sampai-sampai aku dijuluki bulan, padahal itu sangat tidak sesuai dengan aku, karena bulan adalah nama perempuan sedangkan aku laki-laki, meskipun ketampanan wajahku seperti perempuan cantiknya. Namun, ketika SMP ketampanan wajahku tidak seperti perempuan lagi, meskipun aku tiap malam masih melamun sambil menatap bulanku yang sangat indah nan elok dipandang itu.

       Tanggal 31 bulan Desember tahun 2004 adalah hari ulang tahunku yang ke 17 tahun, itu adalah hari pertama aku merayakan ulang tahunku, ketika itu aku duduk dikelas satu Aliyah. Aku dikenal sebagai orang yang baik, ramah dan pintar, tak heran banyak perempuan yang suka denganku, tapi dengan senang hati aku menolak mereka semua karena tujuan aku sekolah adalah belajar. Dikelas tiga aliyah, aku sangat terkenal dengan puisi bulanku, aku benar benar memang seorang pujangga ketika itu, hampir seluruh sekolah yang ada di kota Medan mengenaliku sebab aku pernah ikut lomba menulis puisi dan mengarang cerpen yang kuberi judul “Bulan”. Setelah tamat sekolah, rasanya mustahil kalau orang sepertiku tidak mempunyai seorang kekasih, ketika itu namanya adalah Mariah, nama lengkapnya Qomariah. Hubungan kami sangat direstui oleh kedua orang tua kami, bahkan sebelum aku berangkat keluar negri untuk melanjutkan studiku, aku sempat meminangnya dengan mengucapkan “bismillah”.

       Akhirnya datang juga hari yang dinanti-nantikan itu, pada hari Kamis, tepatnya tanggal 10 bulan Oktober tahun 2007, aku memang tidak berpisah dengan bulanku yang dilangit tapi aku harus berpisah dengan keluargaku, teman-temanku dan juga Mariahku yang membuat air matanya jatuh kepipiku dan itulah yang membuat air mataku ikut jatuh kepipinya, padahal dari SD sampai Aliyah aku tidak pernah meneteskan air mata walau hanya setetes. “ aku, aku akan pulang “ kataku kepadanya dengan tersendu-sendu, dia hanya melambaikan tangan kirinya yang terdapat cincin tunangan kami, pertanda sebuah perpisahan.

       Di dalam pesawat, aku terus menangis dan menangis, sampai aku tertidur dan bertemu dengannya dalam mimpi, ketika itu dia sangat cantik, putih, manis mirip iklan di TV dan yang mengherankan lagi, ia berubah menjadi cahaya dan kemudian berubah menjadi bulan, sepertinya ia ingin mengatakan sesuatu tetapi “ kopinya mas! “ sentak pramugari sambil memegang bahuku, aku terbangun dari tidurku sambil tersenyum mengambil kopi yang disodorkan kepadaku tanpa keluar sepatah kata pun untuk mengucapkan terima kasih kepada pramugari tersebut. Kebetulan, aku duduk didekat jendela pesawat, jadi aku bebas memandang awan dan langit yang dipenuhi bintang. Tapi aku  agak sedikit heran ketika itu, “kenapa bulan tidak ada?” tanyaku dalam hati. Akhirnya, kulanjutkan tidurku setelah kuminum segelas kopi yang diberikan pramugari cantik itu, bahkan aku sempat minta segelas lagi, mungkin ketika itu aku sangat haus dan butuh air soalnya air yang ada ditubuhku sudah kukeluarkan untuk tangisan tadi.
       Paginya, sampailah kami di kota Sana’a, ibu kota Yaman. Begitu keluar dari pesawat, yang pertama kulihat adalah langit, aku ingin melihat bulanku, tapi setelah kulihat keatas langit “kok gak ada bulan ya?” tanyaku pada teman yang berada didepanku ketika turun dari tangga pesawat Yemenia, “ya iya lah, bulan sih adanya dimalam hari” jawabnya sambil tertawa, aku pun tertawa dan tersenyum malu sambil mengangkat koper dan tasku turun dari pesawat tersebut, padahal dalam hatiku mengatakan ‘’ kayaknya bulan gak harus dimalam hari deh, kalau matahari iya, adanya cuma disiang hari ‘’.
       Sekitar dua hari kami di kota Sana’a, aku sudah bertemu dengan kakak kelasku, dia mengajakku ke Flatnya, tapi kami tidak sempat menuju tempat kuliyahnya, disebabkan sedikitnya waktu yang tersisa ketika itu, karena kami harus meluncur ke kota Mukalla yang berada di Propinsi Hadhromaut.
       Di hari senin, kami semua telah sampai di kota Mukalla. Kata orang-orang sih, Mukalla ini adalah Surabayanya Indonesia. Di kota inilah kami kuliyah selama satu tahun. Selama kuliyah, aku tidak lupa untuk mengirim pesan kebulanku si Mariah, ia selalu membalas pesan inbox facebookku, ia sering bermain-main denganku melalui pesannya, ia orangnya ngangenin, ia pernah mengirim pesan kepadaku “ kalau kamu kangen sama aku, lihat aja bulan “ semenjak itulah aku tidak bosan-bosannya melihat bulan, bulan adalah semangatku, bulan adalah ruang inspirasiku, kalau ujian tiba aku selalu melihat bulan sebelum menjawab soal soal tersebut.
       Satu tahun sudah aku di kota Mukalla, kini saatnya aku harus dipindahkan ke kota Tarim, yang sering disebut kota Seribu Wali atau kotanya Habaib atau sering juga disebut kota asalnya Wali Songo. Sekitar sebulan aku dikota ini, aku tidak pernah dikirimi pesan oleh bulanku. Dan sering kukirimi dia pesan sms dan pesan inbox fb tetapi dia tidak pernah membalas pesan-pesanku. Dua bulan, tiga bulan pun berlalu, hatiku bertanya-tanya “ kenapa pesanku tidak dibalas?, gimana kabarnya?’’ , bahkan ketika orang tuaku dan orang tuanya aku tanya, mereka hanya diam membisu, sepertinya ada sesuatu dibalik layar kaca sandiwara ini.
       Seperti kebiasaannya, tepatnya jam 02:00 WY (Waktu Yaman) aku melakukan ritual rutinitasku melakukan shalat tahajjud dan berdo’a kepada Tuhan untukku, keluargaku dan juga untuk bulanku. Tiba-tiba “ ti tit ti tit “ bunyi sms masuk, ternyata itu sms dari Mariah, aku bahagia sekali menerima sms darinya, tetapi sms tersebut tidak terlalu panjang, kubaca perlahan-lahan, kata demi kata, huruf demi huruf dan tak kusangka jatuh air mataku ketika membaca “ aku telah menikah tiga bulan yang lalu dengan mas Alfin teman sekelasmu dulu, maafkan aku, mudah-mudahan kamu mendapatkan bulan yang jauh lebih baik dariku “ deraian demi deraian air mata tak sanggup kutahan, dosa apa yang selama ini kulakukan? Bisikku dalam hati.
       Setelah mendengar berita buruk itu, aku patah semangat dan langsung jatuh sakit, tak sadarkan diri, koma selama sebulan lebih, aku tak ikut ujian semester, aku tinggal kelas dan harus mengulang setahun penuh. Setelah setahun penuh kulalui, kini aku sadar bahwa aku hanya bisa merancang tapi tetap Tuhanlah yang menentukan. Selama setahun itu, aku tetap bersahabat dengan bulanku yang dilangit meskipun bulanku siMariah telah dimiliki orang.
       Tak disangka waktu sangatlah cepat berlalu, genap sudah empat tahun aku di kota Tarim, skripsiku diterima dosen, judul skripsiku adalah “ Pengaruh Hilangnya Bulan Terhadap Hukum Syari’at “, karena judul dan isi yang menarik dan sesuai, aku mendapatkan nilai “ Mumtaz “ dan juara satu umum, dan kudengar skripsiku akan dicetak dan akan dijadikan mata pelajarn tambahan di Al Ahgaff University yang sangat terkenal itu.
       Kini saatnya aku pulang ke Indonesia membawa ilmu-ilmu yang selama ini kepelajari di Hadhromaut. Sebulan aku berada di Indonesia, jadwal khutbah jum’atku sudah sangat padat, bulan kedua aku sudah diundang ke Jakarta, bulan ke tiga namaku sudah tenar di Radio, dan pada bulan ke empat aku mulai menanda tangani kontrak untuk mengisi ceramah pagi di SCTV dan siraman rohani di RCTI.
       Kini namaku melambung-lambung diudara, banyak yang meniru gaya bicaraku, gerak-gerikku bahkan pakaianku. Tapi rasanya ada yang kurang kalau belum mempunyai seorang kekasih, maka aku minta solusi ke Habib Munzir Al Musawa agar ia mau mencarikanku seorang istri. Sebulan kemudian aku akan ditemukan oleh Habib Munzir dengan anak Kiyai, namanya Syamsiah, wanita cantik lulusan Al Azhar. Tapi sayang seribu kali sayang, di hari H nya kami akan melangsungkan akad nikah, dia meninggal dunia akibat kecelakaan ketika ingin menghadiri akad nikah, hatiku sangat kacau dan juga galau. Lagi lagi aku jatuh sakit, trauma, dan tak sadarkan diri selama seminggu. Kini berita yang panas dikoran, televisi dan bahkan di detik.com adalah berita Ustazd Zain Jatuh Sakit Gara-Gara Tidak Jadi Nikah.
       Setelah sembuh, kini akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkan Studi Majester ke Al Ahgaff, disini aku tidak menyangka akan bertemu seorang mahasiswi yang masih menjalankan S1, ia bernama Bulan, wajahnya persis seperti bulan, cantik parasnya mengalahkah iklan TV, ia ternyata teman SD-ku dulu. Tak kusangka ia jatuh cinta kepadaku, dan akhirnya aku pun menikah dengannya dihalaman rumah Rektor Al Ahgaff University Prof. Dr. Al Habib Abdullah Baharun dan dihadiri oleh seluruh mahasiswa Al Ahgaff. Kini aku dan bulanku hidup bahagia di negri orang. Belum ada niat untuk pulang ke Indonesia, tapi kalau aku sudah menjadi bapak nanti, aku janji akan pulang kekampung halaman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar