Ketika
umurku
dua tahun, aku sangat suka melihat bulan, kalau aku menangis maka tidak
ada yang bisa mendiamkanku kecuali melihat bulan, aku tidak mengerti
mengapa
bulan bisa membuatku diam dari tangisanku, padahal banyak anak-anak
sebayaku
yang tidak henti-hentinya menangis walaupun diperlihatkan bulan
kepadanya.
Ketika SD, aku masih sering melamun
sambil melihat bulan yang dilangit, sampai-sampai aku dijuluki bulan,
padahal
itu sangat tidak sesuai dengan aku, karena bulan adalah nama perempuan
sedangkan aku laki-laki, meskipun ketampanan wajahku seperti perempuan
cantiknya. Namun, ketika SMP ketampanan wajahku tidak seperti perempuan
lagi,
meskipun aku tiap malam masih melamun sambil menatap bulanku yang sangat
indah
nan elok dipandang itu.
Tanggal 31 bulan Desember tahun 2004 adalah hari ulang tahunku yang ke 17 tahun, itu adalah hari pertama aku merayakan ulang tahunku, ketika itu aku duduk dikelas satu Aliyah. Aku dikenal sebagai orang yang baik, ramah dan pintar, tak heran banyak perempuan yang suka denganku, tapi dengan senang hati aku menolak mereka semua karena tujuan aku sekolah adalah belajar. Dikelas tiga aliyah, aku sangat terkenal dengan puisi bulanku, aku benar benar memang seorang pujangga ketika itu, hampir seluruh sekolah yang ada di kota Medan mengenaliku sebab aku pernah ikut lomba menulis puisi dan mengarang cerpen yang kuberi judul “Bulan”. Setelah tamat sekolah, rasanya mustahil kalau orang sepertiku tidak mempunyai seorang kekasih, ketika itu namanya adalah Mariah, nama lengkapnya Qomariah. Hubungan kami sangat direstui oleh kedua orang tua kami, bahkan sebelum aku berangkat keluar negri untuk melanjutkan studiku, aku sempat meminangnya dengan mengucapkan “bismillah”.
Akhirnya datang juga hari yang dinanti-nantikan itu, pada hari Kamis, tepatnya tanggal 10 bulan Oktober tahun 2007, aku memang tidak berpisah dengan bulanku yang dilangit tapi aku harus berpisah dengan keluargaku, teman-temanku dan juga Mariahku yang membuat air matanya jatuh kepipiku dan itulah yang membuat air mataku ikut jatuh kepipinya, padahal dari SD sampai Aliyah aku tidak pernah meneteskan air mata walau hanya setetes. “ aku, aku akan pulang “ kataku kepadanya dengan tersendu-sendu, dia hanya melambaikan tangan kirinya yang terdapat cincin tunangan kami, pertanda sebuah perpisahan.
Di dalam pesawat, aku terus menangis dan menangis, sampai aku tertidur dan bertemu dengannya dalam mimpi, ketika itu dia sangat cantik, putih, manis mirip iklan di TV dan yang mengherankan lagi, ia berubah menjadi cahaya dan kemudian berubah menjadi bulan, sepertinya ia ingin mengatakan sesuatu tetapi “ kopinya mas! “ sentak pramugari sambil memegang bahuku, aku terbangun dari tidurku sambil tersenyum mengambil kopi yang disodorkan kepadaku tanpa keluar sepatah kata pun untuk mengucapkan terima kasih kepada pramugari tersebut. Kebetulan, aku duduk didekat jendela pesawat, jadi aku bebas memandang awan dan langit yang dipenuhi bintang. Tapi aku agak sedikit heran ketika itu, “kenapa bulan tidak ada?” tanyaku dalam hati. Akhirnya, kulanjutkan tidurku setelah kuminum segelas kopi yang diberikan pramugari cantik itu, bahkan aku sempat minta segelas lagi, mungkin ketika itu aku sangat haus dan butuh air soalnya air yang ada ditubuhku sudah kukeluarkan untuk tangisan tadi.
Paginya, sampailah kami di kota Sana’a,
ibu kota Yaman. Begitu keluar dari pesawat, yang pertama kulihat adalah
langit,
aku ingin melihat bulanku, tapi setelah kulihat keatas langit “kok gak
ada
bulan ya?” tanyaku pada teman yang berada didepanku ketika turun dari
tangga
pesawat Yemenia, “ya iya lah, bulan sih adanya dimalam hari” jawabnya
sambil
tertawa, aku pun tertawa dan tersenyum malu sambil mengangkat koper dan
tasku
turun dari pesawat tersebut, padahal dalam hatiku mengatakan ‘’ kayaknya
bulan
gak harus dimalam hari deh, kalau matahari iya, adanya cuma disiang hari
‘’.
Sekitar dua hari kami di kota Sana’a,
aku sudah bertemu dengan kakak kelasku, dia mengajakku ke Flatnya, tapi
kami
tidak sempat menuju tempat kuliyahnya, disebabkan sedikitnya waktu yang
tersisa
ketika itu, karena kami harus meluncur ke kota Mukalla yang berada di
Propinsi
Hadhromaut.
Di hari senin, kami semua telah sampai
di kota Mukalla. Kata orang-orang sih, Mukalla ini adalah Surabayanya
Indonesia. Di kota inilah kami kuliyah selama satu tahun. Selama
kuliyah, aku
tidak lupa untuk mengirim pesan kebulanku si Mariah, ia selalu membalas
pesan
inbox facebookku, ia sering bermain-main denganku melalui
pesannya, ia
orangnya ngangenin, ia pernah mengirim pesan kepadaku “ kalau kamu
kangen sama
aku, lihat aja bulan “ semenjak itulah aku tidak bosan-bosannya melihat
bulan,
bulan adalah semangatku, bulan adalah ruang inspirasiku, kalau
ujian
tiba aku selalu melihat bulan sebelum menjawab soal soal tersebut.
Satu tahun sudah aku di kota Mukalla,
kini saatnya aku harus dipindahkan ke kota Tarim, yang sering disebut
kota Seribu
Wali atau kotanya Habaib atau sering juga disebut kota
asalnya Wali
Songo. Sekitar sebulan aku dikota ini, aku tidak pernah dikirimi
pesan oleh
bulanku. Dan sering kukirimi dia pesan sms dan pesan inbox fb tetapi dia
tidak
pernah membalas pesan-pesanku. Dua bulan, tiga bulan pun berlalu, hatiku
bertanya-tanya “ kenapa pesanku tidak dibalas?, gimana kabarnya?’’ ,
bahkan
ketika orang tuaku dan orang tuanya aku tanya, mereka hanya diam
membisu,
sepertinya ada sesuatu dibalik layar kaca sandiwara ini.
Seperti kebiasaannya, tepatnya jam 02:00
WY (Waktu Yaman) aku melakukan ritual rutinitasku melakukan
shalat
tahajjud dan berdo’a kepada Tuhan untukku, keluargaku dan juga untuk
bulanku.
Tiba-tiba “ ti tit ti tit “ bunyi sms masuk, ternyata itu sms dari
Mariah, aku
bahagia sekali menerima sms darinya, tetapi sms tersebut tidak terlalu
panjang,
kubaca perlahan-lahan, kata demi kata, huruf demi huruf dan tak kusangka
jatuh
air mataku ketika membaca “ aku telah menikah tiga bulan yang lalu
dengan mas
Alfin teman sekelasmu dulu, maafkan aku, mudah-mudahan kamu mendapatkan
bulan
yang jauh lebih baik dariku “ deraian demi deraian air mata tak sanggup
kutahan, dosa apa yang selama ini kulakukan? Bisikku dalam hati.
Setelah mendengar berita buruk itu, aku
patah semangat dan langsung jatuh sakit, tak sadarkan diri, koma selama
sebulan
lebih, aku tak ikut ujian semester, aku tinggal kelas dan harus
mengulang
setahun penuh. Setelah setahun penuh kulalui, kini aku sadar bahwa aku
hanya
bisa merancang tapi tetap Tuhanlah yang menentukan. Selama setahun itu,
aku
tetap bersahabat dengan bulanku yang dilangit meskipun bulanku siMariah
telah
dimiliki orang.
Tak disangka waktu sangatlah cepat
berlalu, genap sudah empat tahun aku di kota Tarim, skripsiku
diterima
dosen, judul skripsiku adalah “ Pengaruh Hilangnya Bulan Terhadap
Hukum Syari’at
“, karena judul dan isi yang menarik dan sesuai, aku mendapatkan
nilai “
Mumtaz “ dan juara satu umum, dan kudengar skripsiku akan dicetak
dan akan
dijadikan mata pelajarn tambahan di Al Ahgaff University yang sangat
terkenal
itu.
Kini saatnya aku pulang ke Indonesia
membawa ilmu-ilmu yang selama ini kepelajari di Hadhromaut. Sebulan aku
berada
di Indonesia, jadwal khutbah jum’atku sudah sangat padat, bulan kedua
aku sudah
diundang ke Jakarta, bulan ke tiga namaku sudah tenar di Radio, dan pada
bulan
ke empat aku mulai menanda tangani kontrak untuk mengisi ceramah pagi di
SCTV
dan siraman rohani di RCTI.
Kini namaku melambung-lambung diudara,
banyak yang meniru gaya bicaraku, gerak-gerikku bahkan pakaianku. Tapi
rasanya
ada yang kurang kalau belum mempunyai seorang kekasih, maka aku minta
solusi ke
Habib Munzir Al Musawa agar ia mau mencarikanku seorang istri.
Sebulan
kemudian aku akan ditemukan oleh Habib Munzir dengan anak Kiyai, namanya
Syamsiah, wanita cantik lulusan Al Azhar. Tapi sayang seribu kali
sayang, di hari H nya kami akan melangsungkan akad nikah, dia meninggal
dunia
akibat kecelakaan ketika ingin menghadiri akad nikah, hatiku sangat
kacau dan
juga galau. Lagi lagi aku jatuh sakit, trauma, dan tak sadarkan
diri
selama seminggu. Kini berita yang panas dikoran, televisi dan bahkan di detik.com
adalah berita Ustazd Zain Jatuh Sakit Gara-Gara Tidak Jadi Nikah.
Setelah sembuh, kini akhirnya aku memutuskan
untuk melanjutkan Studi Majester ke Al Ahgaff, disini aku tidak
menyangka akan bertemu seorang mahasiswi yang masih menjalankan S1, ia
bernama
Bulan, wajahnya persis seperti bulan, cantik parasnya mengalahkah iklan
TV, ia
ternyata teman SD-ku dulu. Tak kusangka ia jatuh cinta kepadaku, dan
akhirnya
aku pun menikah dengannya dihalaman rumah Rektor Al Ahgaff University Prof.
Dr.
Al Habib Abdullah Baharun dan dihadiri oleh seluruh mahasiswa Al
Ahgaff. Kini aku dan bulanku hidup bahagia di negri orang. Belum ada
niat untuk
pulang ke Indonesia, tapi kalau aku sudah menjadi bapak nanti, aku janji
akan
pulang kekampung halaman.