Sabtu, 29 Desember 2012

Tim Redaksi Penterjemah Andalas


Bismillahirrahmanirrahim..
         Segala puji bagi Allah SWT yang telah mensukseskan acara Penyusunan Tim Redaksi Perterjemah yang untuk sementara dinamakan Andalas. Penyusunan tim ini dihadiri oleh Muhammad Hanafiyah, Muhammad Zain Al-Hudawie, Muhammad Nur Din, Ali Pori, Ahmad Riadi, Syueb dan Mahmudin Hasibuan. Semoga dengan tersusunnya Tim ini akan mempererat dan memperkokoh kita dalam menterjemah buku-buku berbahasa arab kedalam bahasa Indonesia dan sekaligus untuk melatih ketajaman bahasa arab yang kita pelajari di Negri Saba ini.
       Tim Redaksi Penterjemah ini bermula dari pemikiran Wakil ketua OPISI Yaman Sdr. Mahmudin Hasibuan yang mengajak dan mengumpulkan beberapa orang untuk berdiskusi agar menyusun sebuah Tim Penterjemah sebagai bentuk wujudnya keberadaan kita di Yaman.
       Tepatnya pada jam 21:00 WY tanggal 16  Desember 2012 di Sutuh Sakan Dakhili, Fakultas Syariah wal Qonun, Tarim, Tim ini resmi menjadi sebuah Tim Penterjemah yang akan menerbitkan karya-karya Ulama Hadhromaut.
Adapun susunan Tim Redaksi adalah sebagai berikut:

Sabtu, 27 Oktober 2012

Internasional Pelajar Indonesia di Hadramaut Diskusi Toleransi Beragama

Tarim

Para pelajar Indonesia yang berada di Yaman, khususnya wilayah Hadhramaut, menggelar program diskusi tentang toleransi antar umat beragama. Kegiatan ini dikoordinir oleh Departemen Pendidikan dan Dakwah DPW Hadramaut Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di Yaman, Rabu (24/10) malam lalu di auditorium Universitas Al-Ahgaff Yaman.

Departemen Pendidikan dan Dakwah kali ini mencari nuansa baru dengan mengadakan diskusi di setiap institusi yang ada di wilayah Hadramaut khususnya wilayah Tarim, di antaranya Universitas Al-Ahgaff, Perguruan Darul Musthofa, Pesantren Ribath Tarim dan Perguruan Darul Ghuroba’.

“Dengan begini diharapkan minat dalam menghadiri diskusi semakin besar,” papar Zainal Fanani, ketua Departemen Pendidikan dan Dakwah DPW Hadramaut PPI Yaman periode 2012-2013 diamini Abdul Basith, koordinator diskusi Fikroh.

Acara diskusi Rabu malam itu mendapat respon yang luar biasa dari para peminat kajian intelektual. Dalam sambutannya, Pandi Yusron selaku ketua DPW Hadramaut PPI Yaman sangat mengapresiasi adanya terobosan-terobosan baru dalam mengembangkan minat intelektual para pelajar.

“Semoga forum diskusi Fikroh DPW Hadramaut PPI Yaman ini mampu berkontribusi dalam dunia pendidikan,” katanya.

Tampil dalam forum diskusi Fikroh perdana yang dihadiri sekitar 80 peserta diskusi, M. Fuad Mas’ud mahasiswa asal Kuningan yang kali ini mengangkat tema “Non-Muslim dan Kebebasan Beragama dalam Kacamata Islam”.

Dalam presentasinya, M. Fuad Mas’ud menjelaskan bahwa benih-benih toleransi itu sebenarnya sudah ada semenjak diutusnya Rasulullah SAW. M. Fuad mas’ud menandaskan argumentasinya pada surat Al-Baqoroh ayat 256 yang menyatakan bahwa tidak ada pemaksaan dalam beragama.

Menurutnya, ayat tersebut merupakan pondasi utama dalam Islam tentang kebebasan beragama. Selain menguraikan argumentasi dari Al-Quran dan As-Sunnah, ia juga mengutip statemen dari pakar sejarah Barat, Gustav Labon yang mengatakan:

“Apa yang saya teliti dari ayat-ayat Al-Quran menunjukkan, sesunggunya konsep toleransi yang diusung Muhammad terhadap orang Nasrani dan Yahudi sangatlah luar biasa. Dan secara spesifik, tidak ada agama lain yang melakukan hal tersebut.”

M. Mahrus Ali, ketua organisasi perkumpulan pelajar Madura mengemukakan hal yang sedikit berbeda. Dalam penyampaiannya, M. Mahrus Ali mengajak para audien untuk merubah stigma yang tengah berkembang saat ini, dimana banyak dari para pemikir dan intelektual saat ini yang menyerukan untuk “berislam secara toleran”.

Menurut M. Mahrus Ali, penggunaan kata ini kurang tepat. Karena dengan begitu berarti yang menjadi hakim adalah toleransi. Akibatnya, maka atas nama toleransi segala sesuatu yang dinilai  berlawanan dengan konsep toleransi akan ditolak.

Contohnya sudah banyak. Seperti larangan mendirikan gereja di tengah masyarakat Muslim, konsep jihad, dan hukuman mati bagi orang murtad. menurut M. Mahrus Ali, bahasa yang tepat digunakan adalah “bertoleransi secara islami”. Dengan begitu, maka konsep toleransi tidak mungkin berbenturan dengan ajaran agama Islam.

Rangkaian acara diskusi diakhiri tepat pukul 23.00 malam. Hadir pula dalam acara tersebut para pelajar dari Universitas Al-Ahgaff, perwakilan pelajar Ribath Tarim dan Pesantren Darul Ghuroba’


situs resmi >>>> http://nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,45-id,40484-lang,id-c,internasional-t,Pelajar+Indonesia+di+Hadramaut+Diskusi+Toleransi+Beragama-.phpx

Jumat, 26 Oktober 2012

Shalat 'Id

Shalat 'Id adalah salah satu keistimewaan ummat nabi Muhammad SAW, salah 'Id itu ada dua, Idul Fitri dan Idul Adha, Shalat Idul Adha lebih Afdol dari pada shalat Idul Fitri, shalat Id hukumnya sunat muakkat, dilaksanakan dengan berjama'ah, dua rakaat seperti shalat lainnya, sekurang-kurangnya seperti shalat sunnat biasa, namun lebih baik dilaksanakan dengan tujuh takbir dirakaat pertama setelah takbirotul ihrom, dan lima takbir dirakaat kedua, disunnahkan membaca Subhanallah,
Walhamdulillah, Wala ilaha illallah, Wallahu Akbar disetiap takbir tersebut.
Disunnahkan mandi dihari raya idul fitri dan idul adha meskipun dia tidak ingin shalat Id karena hari tersebut adalah hari zinah/berhias, bergaya, berbahagia, atau bisa dibilang disunnahkannya mandi dihari tersebut karena hari rayanya bukan karena shalat Id nya, berbeda dengan hari jum'at karena disunnahkannya mandi dihari jum'at tersebut bukan karena hari jum'at tetapi karena ingin melakukan shalat jum'at, makanya disunnahkannya mandi dihari jum'at tersebut hanya bagi orang2 yang mau shalat jum'at saja.
Dan disunnahkan bagi laki2 itu memakai wangi wangian yang paling baik, dan memakai pakaian yang paling bagus, sebaiknya memakai baju warna putih kecuali jika ada baju lain yang lebih baik dari warna putih maka baju itu lebih baik dari baju putih di hari Id ini, berbeda dengan hari jum'at, karena dihari jum'at lebih baik memakai baju putih ketimbang baju lain, soalnya dihari jum'at itu untuk menunjukkan ketawadu'an sedangkan dihari raya untuk memperlihatkan kebahagian kita.
Disunnahkan imsak sebelum shalat Idul Adha, dan dianjurkan juga untuk pangkas rambut, memotong kuku dan menghilangkan bau yang busuk. Bagi yang hanya memiliki satu baju saja, maka disunnahkan untuk mencuci bajunya disetiap hari jum'at dan dihari Id.

Selamat Hari Raya Idul Adha 1433 H wa kullu 'am wa antul bil kheir, minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin.

Kamis, 25 Oktober 2012

Jalan jalan ke Mukalla


           Alhamdulillah, akhirnya tadi nyampe juga dikediaman Al Habib Abdullah Bin Muhammad Baharun (Raktor Universitas Al Ahgaff) bersama teman-teman se-sumatra, pertemuan yang sangat berkesan, baru kali ini aku langsung berani bertanya-tanya tentang beliau dengan beliau langsung, sehingga dipertengahan pembicaraan kami ada salah seorang dari kami yang bertanya kepada beliau, ya habib gimana caranya agar semangat belajar kami bertambah, secara sepontan habib menjawab sambil tersenyum " pikirkan tentang pernikahan, dengan begitu kamu akan semangat belajar ", spontan saja kami tersenyum dan tertawa, apakah itu jawaban yang sesungguhnya atau hanya sekedar guyonan, meskipun kalau dipikir2 itu juga masuk akal, karena kalau kita berpikir untuk menikah niscaya kita akan lebih semangat belajar demi mencapai target menikah tersebut, namun setelah beliau berkata demikian, beliau langsung mengatakan " supaya semangat kalian bertambah dalam menuntut ilmu, pertama kalian harus bersyukur dengan apa yang telah Allah berikan kepada kalian, contohnya ketika ujian kalian mendapatkan nilai maqbul, maka bersyukurlah dan berniat agar suatu saat mendapat nilai yang jayyid, bukan malah berputus asa yang bisa berakibat kegagalan, dan yang kedua adalah bersungguh-sungguh, semangat, giat dalam meraih anugrah ilahi ( Attomak fi fadhlillah ).

             Meskipun pertemuan tersebut sebentar, namun sangat berkesan bagi kami yang sudah satu tahun lebih belum berjumpa beliau, makanya ketika itu saya sempat bertanya kepada beliau, kapan jalan-jalan ke Tarim? para Mahasiswa di Tarim merindukan antum, lalu beliau bertanya kepada saya, yakin bahwa mereka merindukan saya? Iya, saya jawab, lalu beliau mengatakan "Assyauqu Majdzub"

         Sebenarnya saya bingung apa arti kalimat tersebut, meskipun beliau sempat menjelaskan makna dari kalimat tersebut bahwa jika seseorang rindu terhadap orang lain, maka rindu tersebut tidak butuh kepada kata-kata, rindu hanya membutuhkan bukti bahwasanya itu adalah rindu bukan hanya sekedar mengatakan aku rindu kepadamu, tapi rindu bisa dibuktikan dengan saling berjumpa atau silaturrahmi.
Setelah shalat isya berjama'ah kami pun pulang, dan ketika sampai dikamar aku langsung membuka kamus apa arti dari majdzub, ternyata artinya ada dua, satu artinya tertarik dan satunya lagi arinya gila, berarti bisa diambil kesimpulan bahwa rindu itu sesuatu memikat seseorang hingga tertarik untuk bertemu dengan seseorang yang ia rindukan, sehingga jika ia tidak bertemu dengan seseorang yang ia rindukan maka ia menganggap dirinya tidak ada nilainya lagi persis seperti orang gila, karena rindu itu memang benar-benar gila.
           Setelah memahami dua kalimat tersebut ( Assyauku Majdzub ), saya langsung sadar, kalau saya benar2 rindu sama Habib Baharun, kenapa baru liburan sekarang saya bersilaturrahmi ke rumah beliau, kenapa enggak dari liburan2 dulu, ternyata Assyauku Majdzub itu adalah sindiran buat mahasiswa mahasiswa Al Ahgaff yang merasa rindu ke Habib Baharun tapi gak mau bertemu dan bersilaturrahmi ketempat beliau, berarti rindunya hanya sekedar kalaaaaam, bohong belaka, padahal Rektor mana yang mau ngasi percerahan kepada murid2nya dan duduk bersama disaat liburan begini, jangankan memberikan pencarahan, bertemu dengan Rektor saja rasanya sangat mustahil, apalagi berdiskusi.
Sebetulnya banyak yang ingin saya tanyakan kebeliau, hanya saja saya takut dibilang tidak sopan, soalnya ketika itu cuma saya yang berbicara dan yang lainnya pada diam soalnya mereka masih anak baru disini jadi mereka bingung mau bilang apa dihadapan beliau meskipun habib sudah menyuruh mereka untuk berbicara namun mereka tetap diam. Sampai sampai akhirnya habib yang bertanya kepada kami tentang apa hobbi kami masing, ada yang menjawab suka berenang, dll, namun anehnya saya tidak ditanya oleh habib, dia melewati pertanyaan tersebut kepada anak baru dari sumatra yang berada disamping saya, semagaimana di awal pertemuan beliau menanyakan kami datang dari mana, dan mustawa berapa, ketika itu saya jawab bahwa saya dari Tarim dan teman teman yang disamping saya itu anak baru dari Sumatra, lalu belia u menyakan nama kami masing-masing kecuali nama aku yang tidak ditanya, dan itulah yang membuat aku cemburu kepada yang lain, hehe.
              Pertemuan kami tersebut diakhiri dengan photo bareng bersama beliau khususnya teman-teman se-Sumatra, setelah usai photo photo barulah datang 3 orang teman saya yang dari Tarim juga, namun mereka tidak sempat bercengkrama lama dengan habib, mereka hanya sempat photo bareng habib saja, dan itu sudah sangat membuat hati mereka senang, karena saya sempat bertanya kepada salah satu teman saya, andainya tadi habib pakai 'imamah sebagaimana biasanya ketika ada muhadhoroh ammah, pasti photonya kelihatan lebih keren, soalnya tadi habib cuma pake peci putih biasa, teman saya langsung bilang " bisa photo bareng ma habib aja aku udah bahagia banget "
Ketika itu habib juga bilang bahwa dalam waktu dekat ini beliau akan ke Tarim melihat keadaan mahasiswa disana.
Sebenarnya masih banyak yang disampaikan habib tadi, tadi gak sempat direkam soalnya kata teman saya habib kurang suka direkam, habib lebih suka kalau kita mencatat dan meringkas apa yang beliau sampaikan, makanya aku tidak jadi merekam apa yang beliau sampaikan.
Dari awal sebenarnya kami sudah punya niat untuk menanyakan beberapa pertanyaan kepada beliau, namun pertanyaan itu lupa semua ketika aku berhadapan langsung kepada habib, jadi ya cuma ini yang bisa saya sampaikan, bagi yang mau nambah, silahkan...!

( ini hanya sebagian dari kalam beliau yang bisa saya fahami, kalau ada yang salah tolong jangan dicaci ya...! hehe, )





                                     

                 bersama anak anak sumatra menuju kediaman Al Habib Abdullah Bin Muhammad Baharun








                                      photo bersama Al Habib Abdullah Bin Muhammad baharun







Rabu, 10 Oktober 2012

Tarim, Kota Para Wali

      Kota Tarim, yang terletak sekitar 35 km di Timur Saiun. Di satu sisi kota ini terlindungi oleh bukit-bukit batu terjal, di sisi lain di kelilingi oleh perkebunan kurma. Sejak dulu, Tarim merupakan pusat Mazhab Syafi’i. Antara abad ke 17 dan abad ke 19 telah terdapat lebih dari 365 masjid. Kota Tarim atau biasa dibaca Trim termasuk kota lama. Nama Tarim, menurut satu riwayat diambil dari nama seorang raja yang bernama Tarim bin Hadramaut. Dia juga disebut dengan Tarim al-Ghanna atau kota Tarim yang rindang karena banyak pepohonan dan sungai. Kota tersebut juga dikenal dengan kota al-Shiddiq karena gubernurnya Ziyad bin Lubaid al-Anshari ketika menyeru untuk membaiat Abu Bakar sebagai khalifah, maka penduduk Tarim adalah yang pertama mendukungnya dan tidak ada seorang pun yang membantahnya hingga khalifah Abu Bakar mendoakan penduduk Tarim dengan tiga permintaan : pertama, agar kota tersebut makmur, kedua, airnya berkah dan ketiga, dihuni oleh banyak orang-orang saleh. Oleh karena itu, Syaikh Muhammad bin Abu Bakar Ba’abad berkata bahwa, ‘al-Shiddiq akan memberikan syafa’at kepada penduduk Tarim secara khusus’

      Menurut suatu catatan dalam kitab al-Ghurar yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Ali bin Alawi Khirid, bahwa keluarga Ba’alawi pindah dari Desa Bait Jubair ke kota Tarim sekitar tahun 521 hijriyah. Setelah kepindahan mereka kota Tarim dikenal dengan kota budaya dan ilmu. Diperkirakan, pada waktu itu di kota Tarim ada sekitar 300 orang ahli fiqih, bahkan pada barisan yang pertama di masjid agung kota Tarim dipenuhi oleh ulama fiqih kota tersebut. Adapun orang pertama dari keluarga Ba’alawi yang hijrah ke kota Tarim adalah Syaikh Ali bin Alwi Khali’ Qasam dan saudaranya Syaikh Salim, kemudian disusul oleh keluarga pamannya yaitu Bani Jadid dan Bani Basri.

Diceritakan bahwa pada kota Tarim terdapat tiga keberkahan : pertama, keberkahan pada setiap masjidnya, kedua, keberkahan pada tanahnya, ketiga, keberkahan pada pegunungannya. Keberkahan masjid yang dimaksud adalah setiap masjid di kota Tarim pada waktu sesudah kepindahan Ba’alawi menjadi universitas-universitas yang melahirkan ulama-ulama terkenal pada masanya. Di antara masjid-masjid di kota Tarim yang bersejarah ialah masjid Bani Ahmad yang kemudian dikenal dengan masjid Khala’ Qasam setelah beliau berdomisili di kota tersebut. Masjid tersebut dibangun dengan batu, tanah dan kayu yang diambil dari desa Bait Jubair karena tanah dari desa tersebut dikenal sangat bagus, kemudian masjid tersebut dikenal dengan masjid Ba’alawi. Bangunan masjid Ba’alawi nyaris sebagian tiangnya roboh dan direnovasi oleh Muhammad Shahib Mirbath. Pada awal abad ke sembilan hijriyah, Syaikh Umar Muhdhar merenovasi kembali bagian depan dari masjid tersebut.
Di Tarim terdapat tanah perkuburan Bisyar yang terbagi menjadi tiga bagian, yaitu Zanbal, Furait dan Akdar. Di perkuburan Zanbal, al-Faqih Muqaddam dan semua sayyid terkemuka dari Kaum Alawiyin dimakamkan, di Furait terdapat perkuburan para masyaikh, dan Akdar merupakan perkuburan umum. Di pemakaman Zanbal, para Saadah al-Asraf, Ulama Amilin, Auliya’ dan Sholihin yang tidak terhitung jumlahnya dikuburkan di sana. Syaikh Abdurahman Assaqqaf bin Muhammad Maula al-Dawilah berkata : ‘Lebih dari sepuluh ribu auliya’ al-akbar, delapan puluh wali quthub dari keluarga alawiyin di makamkan di Zanbal’. Seperti diriwayatkan oleh Syaikh Saad bin Ali : ‘Di pemakaman Zanbal dikuburkan para sahabat Rasulullah saw , mereka wafat ketika menunaikan tugas untuk memerangi ahli riddah. Mereka banyak yang wafat di Tarim dan tidak diketahui kuburnya’. Akan tetapi Syaikh Abdurahman Assaqqaf bin Muhammad Maula Dawilah, berkata : ‘Sesungguhnya letak kubur mereka sebelah Timur dari kubur al-Ustadz al-A’zhom Muhammad bin Ali al-Faqih al-Muqaddam’. Berkata Syaikh Muhammad bin Aflah : ‘Sesungguhnya dari masjid Abdullah bin Yamani sampai akhir pemakaman Zanbal terdapat perkuburan para ulama dan auliya’. Menurut ulama kasyaf, Rasulullah dan para sahabatnya sering berziarah ke pemakaman tersebut.
Pertama kali makam yang diziarahi di perkuburan Zanbal adalah makam al-Ustadz al-A’zham Muhammad bin Ali al-Faqih al-Muqaddam. Berkata Syaikh Ahmad bin Muhammad Baharmi : ‘Saya melihat Syaikhoin Abu Bakar dan Umar ra dalam mimpi berkata kepada saya, jika engkau ingin berziarah maka yang pertama kali diziarahi ialah al-Faqih al-Muqaddam Muhammad bin Ali, kemudian ziarahilah siapa yang engkau kehendak’. Berkata sebagian para Saadah al-Akbar : ‘Barangsiapa berziarah kepada orang lain sebelum berziarah kepada al-Faqih al-Muqaddam Muhammad bin Ali, maka batallah ziarahnya’. Kemudian ziarah kepada cucunya Syaikh Abdullah Ba’alwi, kemudian kubur ayahnya Alwi bin al-Faqih al-Muqaddam, kemudian Imam Salim bin Basri, kemudian ziarah kepada Syaikh Abdullah bin al-Faqih al-Muqaddam, Ali bin Muhammad Shahib Marbath, Ali bin Abdullah Ba’alwi, kemudian Syaikh Abdurahman Assaqqaf dan ayahnya Muhammad Maula Dawilah, ayahnya Ali bin al-Faqih al-Muqaddam, kemudian kakeknya Ali bin Alwi Khali’ Qasam, Muhammad bin Hasan Jamalullail dan ayah serta kakeknya, kemudian Syaikh Muhammad bin Ali Aidid, Ali, Muhammad, Alwi, Syech bin Abdurahman Assaqqaf, kemudian ziarah kepada Syaikh Umar Muhdhor, Syaikh Ali bin Abi Bakar al-Sakran, kemudian Syaikh Hasan Alwara’ dan ayahnya Syaikh Muhammad bin Abdurahman, kemudian para auliya’ sholihin seperti al-Qadhi Ahmad Ba’isa, kemudian Syaikh Abdullah Alaydrus, Syaikhoin Muhammad dan Abdullah bin Ahmad bin Husin Alaydrus, kemudian Syaikh Abdullah bin Syech, Sayid Ali Zainal Abidin bin Syaikh Abdullah.
Kaum Alawiyin tetap dalam kebiasaan mereka menuntut ilmu agama, hidup zuhud di dunia (tidak bergelimang dalam kesenangan duniawi) dan mereka juga menghindar dari popularitas (syuhrah). Imam Abdullah bin Alwi al-Haddad berkata, ‘Syuhrah bukan adat kebiasaan kami, kaum Alawiyin …’, selanjutnya beliau berkata, ‘kedudukan kami para sayid Alawiyin tidak dikenal orang. Jadi tidak seperti yang ada pada beberapa wali selain mereka (kaum Alawiyin), yang umumnya mempunyai sifat-sifat berlainan dengan sifat-sifat tersebut. Sifat tersebut merupakan soal besar dalam bertaqarrub kepada Allah dan dalam memelihara keselamatan agama (kejernihan iman)’.
Imam al-Haddad berkata pula, ‘Dalam setiap zaman selalu ada wali-wali dari kaum Alawiyin, ada yang dzahir (dikenal) dan ada yang khamil (tidak dikenal). Yang dikenal tidak perlu banyak, cukup hanya seorang saja dari mereka, sedangkan yang lainnya biarlah tidak dikenal. Dari satu keluarga dan dari satu negeri tidak perlu ada dua atau tiga orang wali yang dikenal. Soal al-Sitru (menutup diri) berdasarkan dua hal : pertama, seorang wali menutup dirinya sendiri hingga ia sendiri tidak tahu bahwa dirinya adalah wali. Kedua, wali yang menutup dirinya dari orang lain, yakni hanya dirinya sendiri yang mengetahui bahwa dirinya wali, tetapi ia menutup (merahasiakan) hal itu kepada orang lain. Orang lain tidak mengetahui sama sekali bahwa ia adalah wali.
Sehubungan dengan tidak tampaknya para wali, Habib Abdullah al-Haddad menulis syair, ‘Apakah mereka semua telah mati, apakah mereka semua telah musnah, ataukah mereka bersembunyi, karena semakin besarnya fitnah’.
Tidak tampaknya para wali merupakan hikmah Allah, begitu pula tampaknya para wali. Tampak atau tidak tampak, para wali bermanfaat bagi manusia. Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi ditanya : Apakah manfaat dari ketidaktampakan para wali ? Beliau menjawab :
‘Tidak tampaknya para wali bermanfaat bagi masyarakat dan juga bagi wali itu sendiri. Sebab, sang wali dapat beristirahat dari manusia dan manusia tidak beradab buruk kepadanya. Mungkin kau meyakini kewalian seseorang, tetapi setelah melihatnya kau lalu berprasangka buruk. Seorang yang saleh bukanlah orang yang mengetahui kebenaran melalui kaum sholihin. Akan tetapi orang saleh adalah orang yang mengenal kaum sholihin melalui kebenaran‘.
Sayid Ahmad bin Toha berkata kepada Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi, ‘Aku tidak tahu bagaimana para salaf kita mendapatkan wilayah (kasyaf), padahal usia mereka masih sangat muda. Adapun kita, kita telah menghabiskan sebagian besar umur kita, namun tidak pernah merasakan walau sedikitpun. Aku tidak mengetahui yang menyebabkan itu ?. Habib Ali lalu menjawab :
Ketaatan dari orang yang makannya haram, seperti bangunan didirikan di atas gelombang. Karena ini dan juga karena berbagai sebab lain yang sangat banyak. Tidak ada yang lebih berbahaya bagi seseorang daripada bergaul dengan orang-orang jahat. Majlis kita saat ini menyenangkan dan membangkitkan semangatmu. Ruh-ruh mengembara di tempat ini sambil menikmati berbagai makanan hingga ruh-ruh itu menjadi kuat. Namun, sepuluh majlis lain kemudian mengotori hatimu dan merusak apa yang telah kau dapatkan. Engkau membangun, tapi seribu orang lain merusaknya. Apa manfaatnya membangun jika kemudian dirusak lagi ? kau ingin meningkat ke atas tapi orang lain menyeretmu ke bawah‘.
Menurut ulama ahlul kasyaf, wali quthub adalah pemegang pimpinan tertinggi dari para wali. Ia hanya satu orang dalam setiap zaman. Quthub biasa pula disebut Ghauts (penolong), dan termasuk orang yang paling dekat dengan Tuhan. Selain itu, ia dipandang sebagi pemegang jabatan khalifah lahir dan bathin. Wali quthub memimpin pertemuan para wali secara teratur, yang para anggotanya hadir tanpa ada hambatan ruang dan waktu. Mereka datang dari setiap penjuru dunia dalam sekejap mata, menembus gunung, hutan dan gurun.
Wali quthub dikelilingi oleh dua orang imam sebagai wazirnya. Di samping itu, ada pula empat orang autad (pilar-pilar) yang bertugas sebagai penjaga empat penjuru bumi. Masing-masing dari empat orang autad itu berdomisili di arah Timur, Barat, Utara dan Selatan dari Ka’bah. Selain itu, terdapat pula tiga orang nuqaba’, tujuh abrar, empat puluh wali abdal, tiga ratus akhyar dan empat ribu wali yang tersembunyi. Para wali adalah pengatur alam semesta, setiap malam autad mengelilingi seluruh alam semesta dan seandainya ada suatu tempat yang terlewatkan dari mata mereka, keesokkan harinya akan tampak ketidaksempurnaan di tempat itu dan mereka harus memberitahukan hal ini kepada wali quthub, agar ia dapat memperhatikan tempat yang tidak sempurna tadi dan dengan kewaliannya ketidaksempurnaan tadi akan hilang.
Seorang wali quthub, al-Muqaddam al-Tsani, Syaikh Abdurahman al-Saqqaf beliau terkenal di mana-mana, ia meniru cara hidup para leluhurnya (aslaf), baik dalam usahanya menutup diri agar tidak dikenal orang lain maupun dalam hal-hal yang lain. Dialah yang menurunkan beberapa Imam besar seperti Syaikh Umar Muhdhar, Syaikh Abu Bakar al-Sakran dan anaknya Syaikh Ali bin Abu Bakar al-Sakran, Syaikh Abdullah bin Abu Bakar yang diberi julukan al-‘Aidrus.
Syaikh Abdurahman al-Saqqaf selalu berta’abbud di sebuah syi’ib pada setiap pertiga terakhir setiap malam. Setiap malam ia membaca Alquran hingga dua kali tamat dan setiap siang hari ia membacanya juga hingga dua kali tamat . Makin lama kesanggupannya tambah meningkat hingga dapat membaca Alquran empat kali tamat di siang hari dan empat kali tamat di malam hari. Ia hampir tak pernah tidur. Menjawab pertanyaan mengenai itu ia berkata, ‘Bagaimana orang dapat tidur jika miring ke kanan melihat surga dan jika miring ke kiri melihat neraka ?. Selama satu bulan beliau beruzlah di syi’ib tempat pusara Nabi Hud, selama sebulan itu ia tidak makan kecuali segenggam (roti) terigu.<!–[if !supportFootnotes]–>[7]<!–[endif]–>
Demikianlah cara mereka bermujahadah dan juga cara mereka ber-istihlak (mem-fana’-kan diri) di jalan Allah swt. Semuanya itu adalah mengenai hubungan mereka dengan Allah. Adapun mengenai amal perbuatan yang mereka lakukan dengan sesama manusia, para sayyid kaum ‘Alawiyin itu tidak menghitung-hitung resiko pengorbanan jiwa maupun harta dalam menunaikan tugas berdakwah menyebarluaskan agama Islam.
Selain pemakaman Zanbal, terdapat pula pemakaman Furait. Dalam kamus bahasa Arab arti Furait adalah gunung kecil. Di tempat tersebut dikuburkan keluarga Bafadhal serta para ulama, auliya’, sholihin yang tak terhitung jumlahnya. Syaikh Abdurahman Assaqqaf bin Muhammad Maula Dawilah berkata : ‘Di tempat itu dikuburkan lebih dari sepuluh ribu wali’. Beberapa ulama kasyaf menyaksikan, sesungguhnya rahmat Allah yang turun pertama kali di dunia ini di pemakaman Furait. Syaikh Abdurahman Assaqqaf, Sayid Abdullah bin Ahmad bin Abi Bakar bin al-Faqih al-Muqaddam Muhammad bin Ali dan sebagian ulama di Makkah menceritakan bahwa dibawah tanah Furait terdapat taman dari taman-taman surga.
Di pemakaman Furait, mulai ziarah diawali kepada Syaikh Salim bin Fadhal, kemudian Syaikh Fadhal bin Muhammad bin al-Faqih Ahmad, Syaikh Fadhal bin Muhammad, kemudian kepada Syaikh Ahmad ayahya dan ayah serta pamannya, kemudian Syaikh Ibrahim bin Yahya Bafadhal, Syaikh Abu Bakar bin Haj, kemudian kepada Imam al-Qudwah Ali bin Ahmad Bamarwan, al-Arif Billah Umar bin Ali Ba’umar, Imam Ahmad bin Muhammad Bafadhal, Ali bin al-Khatib, Syaikh Abdurahman bin Yahya al-Khatib, Syaikh Ahmad bin Ali al-Khatib, Imam Ahmad bin Muhammad bin Abilhub dan anaknya Said, Imam Saad bin Ali.
Pemakaman ketiga yang terkenal di kota Tarim adalah pemakaman Akdar. Di perkuburan Akdar, yang dimakamkan di sana di antaranya para ulama, auliya’ al-arifin dari keluarga Basri, keluarga Jadid, keluarga Alwi, keluarga Bafadhal, keluarga Baharmi, keluarga Bamahsun, keluarga Bamarwan, keluarga Ba’Isa, keluarga Ba’ubaid dan lainnya.

Sumber Asli >>> http://benmashoor.wordpress.com/

Kamis, 04 Oktober 2012

Semangat Mahasiswa Baru




        Gak terasa dan sungguh tidak terasa bahwa kami sudah berada di Mustawa Robi' dan itu berarti ini sudah ditahun yang keempat di negara Hikmah ini, satu tahun di Mukalla dan dua tahun di Tarim dan setahunnya lagi waktu yang sedang berlalu sekarang ini, berarti masa aktif belajar disini hanya sekitar kurang dari dua tahun lagi, waktu yang cukup singkat untuk dijalani namun ada sesuatu yang mengganjal disana ketika ditanya apa yang sudah kita dapati disini selama tiga tahun yang telah berlalu? pertanyaan yang singkat, padat dan juga pedas jika dihayati dan direnungi, mungkin sebagian teman tidak bisa bisa menjawabnya karena mungkin itu pertanyaan yang tidak mempunyai jawaban, kira kira kapan ya kita berani menjawab pertanyaan tersebut? satu tahun lagi atau setelah tamat nanti? yaaa mudah-mudahan sajalah itu bisa dijawab...

masih ingat gak di awal awal kita nyampe kesini? di awal awal kita masuk kuliyah? dimana ketika itu setiap orang memiliki semangat yang kuat, dan memiliki cita cita yang tinggi, ada yang setiap hari menghafal satu hadist, ada juga yang satu hari menghafal satu ayat al qur'an, ada yang bertekad tidak mau berbicara kecuali hanya berbahasa arab dan berbagai macam macam bentuk tekad dan kemaunan yang menggebu-gebu, namun masih adakah semangat mahasiswa baru tersebut dijiwa kita? atau sudah lenyap dimakan waktu? atau jangan-jangan semangat tersebut hanya ada di semester satu dan semester terakhir tepatnya ketika melaksanakan skripsi? entah lah...

kita memang menyadari bahwa mengubah itu semua sangatlah sulit namun lebih sulit lagi jika kita tidak mau untuk mencoba memiliki semangat tersebut, jangan hiraukan orang lain, biarkan orang lain berkata apa dari pada dikemudian hari harus menanggung malu mendingan mulai sekarang tahan rasa malu itu demi untuk mengubah segalanya...

aku jadi teringat pengalaman guruku dulu, dia adalah guruku yang tamatan Madinah, disekolahku ia mengajar hadist namun di USU ia mengajar Bahasa Arab, ia selau membangkitkan semangat semangat kami melalui pengalamannya dimadinah, dia sering dikata-katai atau di omongi dari belakang oleh teman temannya karena keteguhannya dalam berbicara bahasa arab, beliau memang kurang bagus dalam berbahasa arab ketika itu namun kerutinitasannya dalam berbahasa arab membuatnya percaya diri dan tidak mendengar apa kata orang, karena ketika itu banyak teman temannya yang mengatakan '' alaaaaaah, bahasa arabmu itu masih amburadul aja pun, masih aja ngomong berbahasa arab '' dan ini memang sudah menjadi penyakit bagi mahasiswa mahasiswa di timur tengah yang merasa gengsi untuk berbicara dengan berbahasa arab dengan temannya seindonesia dan ternyata penyakit itu dari dulu sampai sekarang masih ada, kalau dikamarku saat ini tidak ada orang arab, mungkin sampai sekarang aku tidak mengerti bahasa arab meskipun tinggal diarab. dan berkat keteguhan guru saya tersebut dalam berbahasa arab akhirnya dia bisa menjadi dosen di USU ( Universitas Sumatra Utara ) dan bukan itu saja, beliau juga bilang bahwa orang yang dulu pernah atau sering menghina atau menggunjingnya malah kelulusannya tertunda, guru saya tersebut adalah Al Marhum H. Syauri Syam Lc. beliau cukup dikenal di kalangan Al Washliyah dan juga di USU.

pengalaman ini bukan berarti kita itu hanya menekuni bahasa arab saja, selain bahasa arab, fiqih dan ushul juga jangan sampai dilupakan khususnya bagi mahasiswa jurusan syari'ah, karena kemungkinan besar kalau kita pulang nanti akan ditanyakan oleh masyarakat tentang fiqih baik itu dari segi ibadah, mu'amalah, nikah dan juga jinayah...

intinya: meskipun kita ini bukan mahasiswa baru lagi dan juga bukan mahasiswa lama, namun apa salahnya kalau semangat kita adalah semangat mahasiswa baru, bukan hanya sekedar foto foto atau rekreasi ( seperti kita kita dulu, hehehe )...

Sabtu, 29 September 2012

Kisah Beliau



        Aku jadi teringat cerita itu, cerita yang sering diputar untuk penyemangat bagi mahasiswa yang harus mengulang satu tahun, cerita yang sangat sedih namun mampu membangkitkan semangat...
dia adalah seorang mahasiswa yang pernah duduk di Kuliyah Syari'ah tepatnya dikota Tarim, Hadhromaut. Dia dikenal orang yang sangat rajin membaca, muroja'ah (mengulang pelajaran) dan bahkan dia juga sering membantu teman temannya yang sulit dalam memahami pelajaran.

namun, ketika ujian semester tiba, sungguh sangat-sangat mengejutkan, orang yang tadinya kita anggap akan meraih nilai yang mumtaz ( alif ) atau paling tidak jayyid jiddan ( ba ), tapi kok malah terlihat huruf " ha " yang berarti harus mengulang satu tahun tepatnya dipelajaran nahwu, kok bisa ya??? begitulah cobaan untuk seorang mahasiswa yang di Tarim, namun beliau tidak pernah putus asa sebagaimana teman-teman yang lain, yang ketika ditimpa musibah harus mengulang satu tahun, ia langsung putus asa dan memutuskan untuk pulang ke Indonesia, atau menikah atau yang lainnya yang penting keluar dari Kuliyah yang telah membuatnya mengulang satu tahun, padahal satu tahun bukanlah waktu yang sangat lama bagi seorang mahasiswa, namun bagaimana pun begitulah cobaan dari Allah untuk menguji kesabaran Tholibul Ilmi.

dan Alhamdulillah, beliau tidak seperti mereka mereka ini, beliau rela mengulang setahun dengan harapan tahun depan bisa lulus di mata pelajaran Nahwu.

hari demi hari beliau lewati dengan sabar, kemana-mana ia selalu membawa kitab Syarah Ibnu 'Aqil yang kebetulan itu adalah Muqorror di Kuliyah, ia tidak pernah membuang-buang waktunya dengan sia-sia, ia daftarkan dirinya untuk ikut nyantri di Ribath Tarim khusus dipelajaran Nahwu agar setahun ini tidak hampa di Tarim.

seperti biasanya, setelah shalat Maghrib, halaqoh nahwu di Ribath pun dimulai, namun setelah 15 menit ditunggu-tunggu, gurunya belum kunjung datang dan agar halaqohnya tidak kosong maka salah satu pengajar disana menyuruh mahasiswa yang tidak lulus dipelajaran Nahwu dikuliah -tadi- agar mengisi halaqoh tersebut karena diantara santri santri yang berda di Ribath tersebut beliau inilah yang sangat kelihatan semangat belajarnya ketika itu, beliau bingung mau berbuat apa, namun apa boleh buat ini kan perintah atasan, ya mau tak mau ia coba untuk maju kedepan dan kebetulan pelajaran hari ini suatu bab yang menyebabkan ia sekarang harus mengulang setahun, bab yang ada disoal ujian di Kilyah dulu, namun ketika itu ia salah dalam menjawabnya, melihat bab tersebut ia langsung mengucapkan "Alhamdulillah" karena selama beberapa bulan ini, bab inilah yang selalu ia baca dan ia hafal diantara bab bab yang lain dengan harapan mudah-mudahan tahun depan bab ini akan masuk ujian kembali. Dan ia pun mulai mengerjakan tugasnya yaitu menjelaskan pelajaran tersebut dihadapan santri santri Ribath dengan tenang dan bahkan tanpa melihat buku sama sekali, para santri Ribath bangga dengan beliau ini khususnya dengan penjelasannya yang sangat “membawa” dan mudah dimengerti, setelah kejadian ini, maka setiap kali guru pengajar di ribath tidah hadir maka beliau lah yang diamanahkan untuk menggantikannya.

tak terasa dan sungguh tak terasa, setahun pun telah berlalu, kini beliau harus mengikuti ujian dengan harapan bisa naik ke semester lima yang sekarang teman-temannya juga ikut ujian, namun bedanya beliau ujian naik ke semester lima sedangkan teman-temannya ujian naik ke semester tujuh karena beda setahun meskipun dulu sama-sama berangkat dari indonesia.

ujian pun selesai, kini saatnya menanti hasil ujian yang biasanya muncul setelah dua minggu ujian selesai, dan gimana hasilnya? Alhamdulillah, semua teman-temannya berhasil lulus ke semester tujuh, dan bagaimana dengan hasil beliau? tentunya kita akan mengatakan lulus bukan? namun sayang seribu kali sayang, tertulis disana bahwa hasil ujian Nahwunya adalah "ha" yang berati harus mengulang satu tahun lagi, namun kali ini berbeda, ia tidak bisa mengulang satu tahun lagi karena ini adalah tahun kedua beliau tidak lulus berturut-turut, karena itu beliau harus dipulangkan ketanah air Indoneia tanpa mengenal siapa beliau ini, karena dimata Idaroh Kuliyah beliau adalah seorang yang tidak lulus dua tahun berturut-turut.

beberapa minggu kemuadian beliau pun pulang, sama sekali tidak terbenak dihatinya akan pulang sebelum waktunya, namun apa boleh buat begitulah keputusan kuliyah disana, sebenarnya ia ingin melanjutnya nyantri di ribath Tarim, namun karena Visa beliau adalah Mahasiswa di Al Ahgaff University bukan di Ribat Tarim maka ia tidak bisa seenaknya mengubah-ubah keputusan tersebut dan akhirnya ia pun dipulangkan kekampung halamannya.


sesampainya dikampung halaman, seperti biasanya ia tidak pernah meninggalkan bukunya Ibnu 'Aqil yang menyebabkannya pulang tersebut, namun walaupun demikian ia tidak pernah sakit hati dengan pelajaran tersebut dan bahkan ia malah membuat les Nahwu bagi teman-teman yang belum mengerti nahwu, dan dengar-dengar sekarang ia menjadi salah satu guru Nahwu di pondok pesantren salaf di Jawa.


intinya adalah bersungguh-sungguh itu wajib, kelulusan itu belakangan, yang penting bisa memberi orang manfaat, manfaat dan manfaat, tidak kah Rasulullah pernah bersabda "sebaik-baik manusia adalah orang yang bermanfaat bagi manusia yang lain"

semoga bermanfaat untuk dijadikan renungan...

Kamis, 27 September 2012

Cinta Sejati

Ada sebuah kisah Cinta Sejati, Kisah nyata yang pernah terjadi di Bumi ini, Sekian ratus tahun yang lalu itu bermula. Sedih, mengharukan dan Menjadi cermin manusia yang merindukan CINTA SEJATI.

Di malam yang sunyi, di dalam rumah sederhana yang tidak seberapa luasnya, seorang istri tengah menunggu kepulangan suaminya. Tak biasanya sang suami pulang larut malam. Sang istri bingun

g, hari sudah larut dan ia sudah sangat kelelahan dan mengantuk. Namun, tak terlintas sedikitpun dalam benaknya untuk segera tidur dan terlelap di tempat tidur suaminya. Dengan setia ia ingin tetap menunggu, namun rasa ngantuk semakin menjadi-jadi dan Sang suami tercinta belum juga datang.

Tak berapa lama kemudian seorang laki-laki yang sangat berwibawa lagi luhur budinya tiba di rumahnya yang sederhana. Laki-laki ini adalah suami dari sang istri tersebut. Malam ini beliau pulang lebih lambat dari biasanya, kelelahan dan penat sangat terasa. Namun, ketika akan mengetuk pintu, terpikir olehnya Sang istri yang tengah terlelap tidur. Ah, sungguh ia tak ingin membangunkannya.

Tanpa pikir panjang, ia tak jadi mengetuk pintu dan seketika itu juga menggelar sorbannya di depan pintu dan berbaring diatasnya. Dengan kelembutan hati yang tak ingin membangunkan istri terkasihnya, Sang suami lebih memilih tidur di luar rumah. Di depan pintu, dengan ditemani udara malam yang dingin melilit, hanya beralaskan selembar sorban tipis.

Penat dan lelah beraktifitas seharian, dingin malam yang menggigit tulang ia hadapi, karena tak ingin membangunkan istri tercinta. Subhanallah

Dan ternyata, di dalam rumah, persis dibalik pintu tempat sang suami menggelar sorban dan berbaring diatasnya. Sang istri masih menunggu, hingga terlelap dan bersandar sang istri di balik pintu. Tak terlintas sedikitpun dalam pikirinnya tuk berbaring di tempat tidur, sementara suaminya belum juga pulang.

Namun, karena khawatir rasa kantuknya tak tertahan dan tidak mendengar ketukan pintu Sang suami ketika pulang, ia memutuskan tuk menunggu Sang suami di depan pintu dari dalam rumahnya.

Malam itu, tanpa saling mengetahui, sepasang suami istri tersebut tertidur berdampingan di kedua sisi pintu rumah mereka yang sederhana karena kasih dan rasa hormat terhadap pasangan. Sang Istri rela mengorbankan diri terlelap di pintu demi kesetiaan serta hormat pada Sang suami dan Sang suami mengorbankan diri tidur di pintu demi rasa kasih dan kelembutan pada Sang istri.

Dan nun jauh di langit, ratusan ribu malaikat pun bertasbih, menyaksikan kedua sejoli tersebut. SUBHANALLAH WABIHAMDIH. Betapa suci dan mulia rasa cinta kasih yang mereka bina. Terlukis indah dalam ukiran akhlak yang begitu mempesona. Saling mengasihi, saling mencintai, saling menyayangi dan saling menghormati. Tapi Tahukah Anda siapa mereka..?

Sang suami adalah Muhammad bin Abdullah, Rasulullah SAW dan Sang istri adalah Sayyidatuna Aisyah RA binti Abu Bakar As-Sidiq.

Merekalah sepasang kekasih teladan, suami istri dambaan, dan merekalah pemimpin para manusia, laki-laki dan perempuan di dunia dan akhirat.

Semoga rahmat ALLAH senantiasa tercurah bagi keduanya, dan mengumpulkan jiwa kita bersama Rasulullah SAW dan Sayyidatuna Aisyah RA dalam surgaNYA kelak. Dan Semoga ALLAH SWT memberi kita taufiq dan hidayah tuk bisa meneladani kedua manusia mulia tersebut.

Aamiin…Aamiin ya rabbal’alamiin….

Semoga bermanfaat.....

Rabu, 26 September 2012

--- Belajar Fiqih lewat cerita Imam Syafi'i ---



Di masa pemerintahan Harun Ar-rasyid, ada sekelompok orang yang iri dengan kecerdasan Imam Syafi’i. Mereka ingin mempermalukan sang Imam di depan Harun Ar-rasyid. Mereka mengajukan beberapa pertanyaan pada Imam Syafii.

Pertanyaan :

“ Ada dua orang muslim berakal yang minum khamar. Salah satunya diganjar hukum Hadd (dicambuk 80 kali ). Tapi yang satunya tidak diapa-apakan. Mengapa bisa demikian ?” Tanya salah seorang di antara mereka pada Imam Syafii.

Jawaban :

“Salah seorang diantara mereka berdua itu sudah baligh sehingga ia harus dihukum hadd. Sedangkan satunya belum baligh, sehingga ia tak diapa-apakan,” jawab Imam Syafii mantap.

Pertanyaan :

Mereka segera mengajukan pertanyaan lagi, “Ada 5 orang menzinahi seorang wanita. Orang pertama divonis bunuh. Orang kedua dirajam. Orang ketiga dihukum hadd. Orang keempat dikenai setengah hokum hadd. Sedangkan orang kelima dibebaskan. Kenapa bisa demikian ?”

Jawaban :

“Orang pertama menghalalkan zina sehingga ia harus divonis murtad dan wajib dibunuh. Orang kedua muhshan (sudah menikah) sehingga ia harus dirajam. Orang ketiga ghairu muhshan (belum menikah) sehingga ia harus dihukum hadd. Orang keempat seorang budak yang harus dihukum setengah hokum hadd. Sedangkan orang kelima gila sehingga ia tak mendapat hukuman apapun,” papar Imam Syafii.

Pertanyaan :
“Seorang laki-laki mengambil sebuah wadah air untuk minum. Namun ia hanya bisa meminum separuhnya yang halal sedangkan sisanya haram. Bagaimana ini bisa terjadi ?” Tanya mereka lagi.

Jawaban :
“Laki-laki itu telah meminum separuh air di wadah. Ketika mau meminum separuhnya lagi, ia mengalami mimisan sehingga darah menetes ke wadah itu bercampur dengan air. Sehingga, sisa air itu haram baginya,” jawab Imam Syafii.

Jawaban Imam Syafii itu membuat sang khalifah tersenyum seraya berkata,” Semoga Allah memperbanyak pada keluarga besarku orang sepertimu.”

Biografi Imam Syafi’I ..

Nama : Abu ʿAbdullah Muhammad bin Idris al-Shafi'i atau Muhammad bin Idris asy-Syafi'i
Lahir : Gaza, Palestina 150 H
Yatim sejak umur 2 tahun,
Hafal Alquran umur 7 tahun.
Hafal Almuwattha' (hukum-hukum islam) umur 10 tahun,
Hafal sastra arab sekitar 10 tahun
Diizinkan berfatwa ketika berumur 15
Dikenal memiliki cara bicara yang santun dan indah.

Dan Imam Syafi'i merupakan seorang yang hidup dalam kemiskinan semenjak lahir, bahkan karena tidak memiliki biaya untuk sekolah dan kertas beliau pada masa kecilnya mengumpulkan tulang, daun-daun dan pelepah kurma untuk mencatat ilmu dari orang yang berbicara. hingga akhirnya kamarnya sesak dengan catatan-catatan, beliau memutuskan untuk menghafal dan subhanallah itu dihafal semua, beliau berujar "ilmu itu bukan di kertas melainkan letaknya di hati".