Alhamdulillah, akhirnya tadi nyampe juga
dikediaman Al Habib Abdullah Bin Muhammad Baharun (Raktor Universitas
Al Ahgaff) bersama teman-teman se-sumatra, pertemuan yang sangat
berkesan, baru kali ini aku langsung berani bertanya-tanya tentang
beliau dengan beliau langsung, sehingga dipertengahan pembicaraan kami
ada salah seorang dari kami yang bertanya kepada beliau, ya habib
gimana caranya agar semangat belajar kami
bertambah, secara sepontan habib menjawab sambil tersenyum " pikirkan
tentang pernikahan, dengan begitu kamu akan semangat belajar ", spontan saja kami tersenyum dan tertawa, apakah itu jawaban yang
sesungguhnya atau hanya sekedar guyonan, meskipun kalau dipikir2 itu
juga masuk akal, karena kalau kita berpikir untuk menikah niscaya kita
akan lebih semangat belajar demi mencapai target menikah tersebut, namun
setelah beliau berkata demikian, beliau langsung mengatakan " supaya
semangat kalian bertambah dalam menuntut ilmu, pertama kalian harus
bersyukur dengan apa yang telah Allah berikan kepada kalian, contohnya
ketika ujian kalian mendapatkan nilai maqbul, maka bersyukurlah dan
berniat agar suatu saat mendapat nilai yang jayyid, bukan malah berputus
asa yang bisa berakibat kegagalan, dan yang kedua adalah
bersungguh-sungguh, semangat, giat dalam meraih anugrah ilahi ( Attomak
fi fadhlillah ).
Meskipun pertemuan tersebut sebentar, namun sangat
berkesan bagi kami yang sudah satu tahun lebih belum berjumpa beliau,
makanya ketika itu saya sempat bertanya kepada beliau, kapan jalan-jalan
ke Tarim? para Mahasiswa di Tarim merindukan antum, lalu beliau
bertanya kepada saya, yakin bahwa mereka merindukan saya? Iya, saya
jawab, lalu beliau mengatakan "Assyauqu Majdzub"
Sebenarnya saya bingung apa arti kalimat tersebut, meskipun beliau sempat menjelaskan makna dari kalimat tersebut bahwa jika seseorang rindu terhadap orang lain, maka rindu tersebut tidak butuh kepada kata-kata, rindu hanya membutuhkan bukti bahwasanya itu adalah rindu bukan hanya sekedar mengatakan aku rindu kepadamu, tapi rindu bisa dibuktikan dengan saling berjumpa atau silaturrahmi.
Setelah shalat isya berjama'ah kami pun pulang, dan ketika sampai dikamar aku langsung membuka kamus apa arti dari majdzub, ternyata artinya ada dua, satu artinya tertarik dan satunya lagi arinya gila, berarti bisa diambil kesimpulan bahwa rindu itu sesuatu memikat seseorang hingga tertarik untuk bertemu dengan seseorang yang ia rindukan, sehingga jika ia tidak bertemu dengan seseorang yang ia rindukan maka ia menganggap dirinya tidak ada nilainya lagi persis seperti orang gila, karena rindu itu memang benar-benar gila.
Setelah memahami dua kalimat tersebut ( Assyauku Majdzub ), saya langsung sadar, kalau saya benar2 rindu sama Habib Baharun, kenapa baru liburan sekarang saya bersilaturrahmi ke rumah beliau, kenapa enggak dari liburan2 dulu, ternyata Assyauku Majdzub itu adalah sindiran buat mahasiswa mahasiswa Al Ahgaff yang merasa rindu ke Habib Baharun tapi gak mau bertemu dan bersilaturrahmi ketempat beliau, berarti rindunya hanya sekedar kalaaaaam, bohong belaka, padahal Rektor mana yang mau ngasi percerahan kepada murid2nya dan duduk bersama disaat liburan begini, jangankan memberikan pencarahan, bertemu dengan Rektor saja rasanya sangat mustahil, apalagi berdiskusi.
Sebetulnya banyak yang ingin saya tanyakan kebeliau, hanya saja saya takut dibilang tidak sopan, soalnya ketika itu cuma saya yang berbicara dan yang lainnya pada diam soalnya mereka masih anak baru disini jadi mereka bingung mau bilang apa dihadapan beliau meskipun habib sudah menyuruh mereka untuk berbicara namun mereka tetap diam. Sampai sampai akhirnya habib yang bertanya kepada kami tentang apa hobbi kami masing, ada yang menjawab suka berenang, dll, namun anehnya saya tidak ditanya oleh habib, dia melewati pertanyaan tersebut kepada anak baru dari sumatra yang berada disamping saya, semagaimana di awal pertemuan beliau menanyakan kami datang dari mana, dan mustawa berapa, ketika itu saya jawab bahwa saya dari Tarim dan teman teman yang disamping saya itu anak baru dari Sumatra, lalu belia u menyakan nama kami masing-masing kecuali nama aku yang tidak ditanya, dan itulah yang membuat aku cemburu kepada yang lain, hehe.
Pertemuan kami tersebut diakhiri dengan photo bareng bersama beliau khususnya teman-teman se-Sumatra, setelah usai photo photo barulah datang 3 orang teman saya yang dari Tarim juga, namun mereka tidak sempat bercengkrama lama dengan habib, mereka hanya sempat photo bareng habib saja, dan itu sudah sangat membuat hati mereka senang, karena saya sempat bertanya kepada salah satu teman saya, andainya tadi habib pakai 'imamah sebagaimana biasanya ketika ada muhadhoroh ammah, pasti photonya kelihatan lebih keren, soalnya tadi habib cuma pake peci putih biasa, teman saya langsung bilang " bisa photo bareng ma habib aja aku udah bahagia banget "
Ketika itu habib juga bilang bahwa dalam waktu dekat ini beliau akan ke Tarim melihat keadaan mahasiswa disana.
Sebenarnya masih banyak yang disampaikan habib tadi, tadi gak sempat direkam soalnya kata teman saya habib kurang suka direkam, habib lebih suka kalau kita mencatat dan meringkas apa yang beliau sampaikan, makanya aku tidak jadi merekam apa yang beliau sampaikan.
Dari awal sebenarnya kami sudah punya niat untuk menanyakan beberapa pertanyaan kepada beliau, namun pertanyaan itu lupa semua ketika aku berhadapan langsung kepada habib, jadi ya cuma ini yang bisa saya sampaikan, bagi yang mau nambah, silahkan...!
( ini hanya sebagian dari kalam beliau yang bisa saya fahami, kalau ada yang salah tolong jangan dicaci ya...! hehe, )

bersama anak anak sumatra menuju kediaman Al Habib Abdullah Bin Muhammad Baharun
photo bersama Al Habib Abdullah Bin Muhammad baharun














Tidak ada komentar:
Posting Komentar