Minggu, 28 Oktober 2012
Pantai Mukalla
Ini adalah video ketika kami liburan di Mukalla selama seminggu, disini kami mengisi laburan dengan jalan jalan ke pantai sambil bermain bola bersama teman teman sesumatera dan juga orang arab.
Sabtu, 27 Oktober 2012
Internasional Pelajar Indonesia di Hadramaut Diskusi Toleransi Beragama
Tarim
Para pelajar Indonesia yang berada di Yaman, khususnya wilayah Hadhramaut, menggelar program diskusi tentang toleransi antar umat beragama. Kegiatan ini dikoordinir oleh Departemen Pendidikan dan Dakwah DPW Hadramaut Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di Yaman, Rabu (24/10) malam lalu di auditorium Universitas Al-Ahgaff Yaman.
Departemen Pendidikan dan Dakwah kali ini mencari nuansa baru dengan mengadakan diskusi di setiap institusi yang ada di wilayah Hadramaut khususnya wilayah Tarim, di antaranya Universitas Al-Ahgaff, Perguruan Darul Musthofa, Pesantren Ribath Tarim dan Perguruan Darul Ghuroba’.
“Dengan begini diharapkan minat dalam menghadiri diskusi semakin besar,” papar Zainal Fanani, ketua Departemen Pendidikan dan Dakwah DPW Hadramaut PPI Yaman periode 2012-2013 diamini Abdul Basith, koordinator diskusi Fikroh.
Acara diskusi Rabu malam itu mendapat respon yang luar biasa dari para peminat kajian intelektual. Dalam sambutannya, Pandi Yusron selaku ketua DPW Hadramaut PPI Yaman sangat mengapresiasi adanya terobosan-terobosan baru dalam mengembangkan minat intelektual para pelajar.
“Semoga forum diskusi Fikroh DPW Hadramaut PPI Yaman ini mampu berkontribusi dalam dunia pendidikan,” katanya.
Tampil dalam forum diskusi Fikroh perdana yang dihadiri sekitar 80 peserta diskusi, M. Fuad Mas’ud mahasiswa asal Kuningan yang kali ini mengangkat tema “Non-Muslim dan Kebebasan Beragama dalam Kacamata Islam”.
Dalam presentasinya, M. Fuad Mas’ud menjelaskan bahwa benih-benih toleransi itu sebenarnya sudah ada semenjak diutusnya Rasulullah SAW. M. Fuad mas’ud menandaskan argumentasinya pada surat Al-Baqoroh ayat 256 yang menyatakan bahwa tidak ada pemaksaan dalam beragama.
Menurutnya, ayat tersebut merupakan pondasi utama dalam Islam tentang kebebasan beragama. Selain menguraikan argumentasi dari Al-Quran dan As-Sunnah, ia juga mengutip statemen dari pakar sejarah Barat, Gustav Labon yang mengatakan:
“Apa yang saya teliti dari ayat-ayat Al-Quran menunjukkan, sesunggunya konsep toleransi yang diusung Muhammad terhadap orang Nasrani dan Yahudi sangatlah luar biasa. Dan secara spesifik, tidak ada agama lain yang melakukan hal tersebut.”
M. Mahrus Ali, ketua organisasi perkumpulan pelajar Madura mengemukakan hal yang sedikit berbeda. Dalam penyampaiannya, M. Mahrus Ali mengajak para audien untuk merubah stigma yang tengah berkembang saat ini, dimana banyak dari para pemikir dan intelektual saat ini yang menyerukan untuk “berislam secara toleran”.
Menurut M. Mahrus Ali, penggunaan kata ini kurang tepat. Karena dengan begitu berarti yang menjadi hakim adalah toleransi. Akibatnya, maka atas nama toleransi segala sesuatu yang dinilai berlawanan dengan konsep toleransi akan ditolak.
Contohnya sudah banyak. Seperti larangan mendirikan gereja di tengah masyarakat Muslim, konsep jihad, dan hukuman mati bagi orang murtad. menurut M. Mahrus Ali, bahasa yang tepat digunakan adalah “bertoleransi secara islami”. Dengan begitu, maka konsep toleransi tidak mungkin berbenturan dengan ajaran agama Islam.
Rangkaian acara diskusi diakhiri tepat pukul 23.00 malam. Hadir pula dalam acara tersebut para pelajar dari Universitas Al-Ahgaff, perwakilan pelajar Ribath Tarim dan Pesantren Darul Ghuroba’
situs resmi >>>> http://nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,45-id,40484-lang,id-c,internasional-t,Pelajar+Indonesia+di+Hadramaut+Diskusi+Toleransi+Beragama-.phpx
Para pelajar Indonesia yang berada di Yaman, khususnya wilayah Hadhramaut, menggelar program diskusi tentang toleransi antar umat beragama. Kegiatan ini dikoordinir oleh Departemen Pendidikan dan Dakwah DPW Hadramaut Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di Yaman, Rabu (24/10) malam lalu di auditorium Universitas Al-Ahgaff Yaman.
Departemen Pendidikan dan Dakwah kali ini mencari nuansa baru dengan mengadakan diskusi di setiap institusi yang ada di wilayah Hadramaut khususnya wilayah Tarim, di antaranya Universitas Al-Ahgaff, Perguruan Darul Musthofa, Pesantren Ribath Tarim dan Perguruan Darul Ghuroba’.
“Dengan begini diharapkan minat dalam menghadiri diskusi semakin besar,” papar Zainal Fanani, ketua Departemen Pendidikan dan Dakwah DPW Hadramaut PPI Yaman periode 2012-2013 diamini Abdul Basith, koordinator diskusi Fikroh.
Acara diskusi Rabu malam itu mendapat respon yang luar biasa dari para peminat kajian intelektual. Dalam sambutannya, Pandi Yusron selaku ketua DPW Hadramaut PPI Yaman sangat mengapresiasi adanya terobosan-terobosan baru dalam mengembangkan minat intelektual para pelajar.
“Semoga forum diskusi Fikroh DPW Hadramaut PPI Yaman ini mampu berkontribusi dalam dunia pendidikan,” katanya.
Tampil dalam forum diskusi Fikroh perdana yang dihadiri sekitar 80 peserta diskusi, M. Fuad Mas’ud mahasiswa asal Kuningan yang kali ini mengangkat tema “Non-Muslim dan Kebebasan Beragama dalam Kacamata Islam”.
Dalam presentasinya, M. Fuad Mas’ud menjelaskan bahwa benih-benih toleransi itu sebenarnya sudah ada semenjak diutusnya Rasulullah SAW. M. Fuad mas’ud menandaskan argumentasinya pada surat Al-Baqoroh ayat 256 yang menyatakan bahwa tidak ada pemaksaan dalam beragama.
Menurutnya, ayat tersebut merupakan pondasi utama dalam Islam tentang kebebasan beragama. Selain menguraikan argumentasi dari Al-Quran dan As-Sunnah, ia juga mengutip statemen dari pakar sejarah Barat, Gustav Labon yang mengatakan:
“Apa yang saya teliti dari ayat-ayat Al-Quran menunjukkan, sesunggunya konsep toleransi yang diusung Muhammad terhadap orang Nasrani dan Yahudi sangatlah luar biasa. Dan secara spesifik, tidak ada agama lain yang melakukan hal tersebut.”
M. Mahrus Ali, ketua organisasi perkumpulan pelajar Madura mengemukakan hal yang sedikit berbeda. Dalam penyampaiannya, M. Mahrus Ali mengajak para audien untuk merubah stigma yang tengah berkembang saat ini, dimana banyak dari para pemikir dan intelektual saat ini yang menyerukan untuk “berislam secara toleran”.
Menurut M. Mahrus Ali, penggunaan kata ini kurang tepat. Karena dengan begitu berarti yang menjadi hakim adalah toleransi. Akibatnya, maka atas nama toleransi segala sesuatu yang dinilai berlawanan dengan konsep toleransi akan ditolak.
Contohnya sudah banyak. Seperti larangan mendirikan gereja di tengah masyarakat Muslim, konsep jihad, dan hukuman mati bagi orang murtad. menurut M. Mahrus Ali, bahasa yang tepat digunakan adalah “bertoleransi secara islami”. Dengan begitu, maka konsep toleransi tidak mungkin berbenturan dengan ajaran agama Islam.
Rangkaian acara diskusi diakhiri tepat pukul 23.00 malam. Hadir pula dalam acara tersebut para pelajar dari Universitas Al-Ahgaff, perwakilan pelajar Ribath Tarim dan Pesantren Darul Ghuroba’
situs resmi >>>> http://nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,45-id,40484-lang,id-c,internasional-t,Pelajar+Indonesia+di+Hadramaut+Diskusi+Toleransi+Beragama-.phpx
Jumat, 26 Oktober 2012
Shalat 'Id
Shalat 'Id adalah salah satu keistimewaan
ummat nabi Muhammad SAW, salah 'Id itu ada dua, Idul Fitri dan Idul
Adha, Shalat Idul Adha lebih Afdol dari pada shalat Idul Fitri, shalat
Id hukumnya sunat muakkat, dilaksanakan dengan berjama'ah, dua rakaat
seperti shalat lainnya, sekurang-kurangnya seperti shalat sunnat biasa,
namun lebih baik dilaksanakan dengan tujuh takbir dirakaat pertama
setelah takbirotul ihrom, dan lima takbir dirakaat kedua, disunnahkan
membaca Subhanallah,
Walhamdulillah, Wala ilaha illallah, Wallahu Akbar disetiap takbir tersebut.
Disunnahkan mandi dihari raya idul fitri dan idul adha meskipun dia tidak ingin shalat Id karena hari tersebut adalah hari zinah/berhias, bergaya, berbahagia, atau bisa dibilang disunnahkannya mandi dihari tersebut karena hari rayanya bukan karena shalat Id nya, berbeda dengan hari jum'at karena disunnahkannya mandi dihari jum'at tersebut bukan karena hari jum'at tetapi karena ingin melakukan shalat jum'at, makanya disunnahkannya mandi dihari jum'at tersebut hanya bagi orang2 yang mau shalat jum'at saja.
Dan disunnahkan bagi laki2 itu memakai wangi wangian yang paling baik, dan memakai pakaian yang paling bagus, sebaiknya memakai baju warna putih kecuali jika ada baju lain yang lebih baik dari warna putih maka baju itu lebih baik dari baju putih di hari Id ini, berbeda dengan hari jum'at, karena dihari jum'at lebih baik memakai baju putih ketimbang baju lain, soalnya dihari jum'at itu untuk menunjukkan ketawadu'an sedangkan dihari raya untuk memperlihatkan kebahagian kita.
Disunnahkan imsak sebelum shalat Idul Adha, dan dianjurkan juga untuk pangkas rambut, memotong kuku dan menghilangkan bau yang busuk. Bagi yang hanya memiliki satu baju saja, maka disunnahkan untuk mencuci bajunya disetiap hari jum'at dan dihari Id.
Selamat Hari Raya Idul Adha 1433 H wa kullu 'am wa antul bil kheir, minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin.
Disunnahkan mandi dihari raya idul fitri dan idul adha meskipun dia tidak ingin shalat Id karena hari tersebut adalah hari zinah/berhias, bergaya, berbahagia, atau bisa dibilang disunnahkannya mandi dihari tersebut karena hari rayanya bukan karena shalat Id nya, berbeda dengan hari jum'at karena disunnahkannya mandi dihari jum'at tersebut bukan karena hari jum'at tetapi karena ingin melakukan shalat jum'at, makanya disunnahkannya mandi dihari jum'at tersebut hanya bagi orang2 yang mau shalat jum'at saja.
Dan disunnahkan bagi laki2 itu memakai wangi wangian yang paling baik, dan memakai pakaian yang paling bagus, sebaiknya memakai baju warna putih kecuali jika ada baju lain yang lebih baik dari warna putih maka baju itu lebih baik dari baju putih di hari Id ini, berbeda dengan hari jum'at, karena dihari jum'at lebih baik memakai baju putih ketimbang baju lain, soalnya dihari jum'at itu untuk menunjukkan ketawadu'an sedangkan dihari raya untuk memperlihatkan kebahagian kita.
Disunnahkan imsak sebelum shalat Idul Adha, dan dianjurkan juga untuk pangkas rambut, memotong kuku dan menghilangkan bau yang busuk. Bagi yang hanya memiliki satu baju saja, maka disunnahkan untuk mencuci bajunya disetiap hari jum'at dan dihari Id.
Selamat Hari Raya Idul Adha 1433 H wa kullu 'am wa antul bil kheir, minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin.
Kamis, 25 Oktober 2012
Jalan jalan ke Mukalla
Alhamdulillah, akhirnya tadi nyampe juga
dikediaman Al Habib Abdullah Bin Muhammad Baharun (Raktor Universitas
Al Ahgaff) bersama teman-teman se-sumatra, pertemuan yang sangat
berkesan, baru kali ini aku langsung berani bertanya-tanya tentang
beliau dengan beliau langsung, sehingga dipertengahan pembicaraan kami
ada salah seorang dari kami yang bertanya kepada beliau, ya habib
gimana caranya agar semangat belajar kami
bertambah, secara sepontan habib menjawab sambil tersenyum " pikirkan
tentang pernikahan, dengan begitu kamu akan semangat belajar ", spontan saja kami tersenyum dan tertawa, apakah itu jawaban yang
sesungguhnya atau hanya sekedar guyonan, meskipun kalau dipikir2 itu
juga masuk akal, karena kalau kita berpikir untuk menikah niscaya kita
akan lebih semangat belajar demi mencapai target menikah tersebut, namun
setelah beliau berkata demikian, beliau langsung mengatakan " supaya
semangat kalian bertambah dalam menuntut ilmu, pertama kalian harus
bersyukur dengan apa yang telah Allah berikan kepada kalian, contohnya
ketika ujian kalian mendapatkan nilai maqbul, maka bersyukurlah dan
berniat agar suatu saat mendapat nilai yang jayyid, bukan malah berputus
asa yang bisa berakibat kegagalan, dan yang kedua adalah
bersungguh-sungguh, semangat, giat dalam meraih anugrah ilahi ( Attomak
fi fadhlillah ).
Meskipun pertemuan tersebut sebentar, namun sangat
berkesan bagi kami yang sudah satu tahun lebih belum berjumpa beliau,
makanya ketika itu saya sempat bertanya kepada beliau, kapan jalan-jalan
ke Tarim? para Mahasiswa di Tarim merindukan antum, lalu beliau
bertanya kepada saya, yakin bahwa mereka merindukan saya? Iya, saya
jawab, lalu beliau mengatakan "Assyauqu Majdzub"
Sebenarnya saya bingung apa arti kalimat tersebut, meskipun beliau sempat menjelaskan makna dari kalimat tersebut bahwa jika seseorang rindu terhadap orang lain, maka rindu tersebut tidak butuh kepada kata-kata, rindu hanya membutuhkan bukti bahwasanya itu adalah rindu bukan hanya sekedar mengatakan aku rindu kepadamu, tapi rindu bisa dibuktikan dengan saling berjumpa atau silaturrahmi.
Setelah shalat isya berjama'ah kami pun pulang, dan ketika sampai dikamar aku langsung membuka kamus apa arti dari majdzub, ternyata artinya ada dua, satu artinya tertarik dan satunya lagi arinya gila, berarti bisa diambil kesimpulan bahwa rindu itu sesuatu memikat seseorang hingga tertarik untuk bertemu dengan seseorang yang ia rindukan, sehingga jika ia tidak bertemu dengan seseorang yang ia rindukan maka ia menganggap dirinya tidak ada nilainya lagi persis seperti orang gila, karena rindu itu memang benar-benar gila.
Setelah memahami dua kalimat tersebut ( Assyauku Majdzub ), saya langsung sadar, kalau saya benar2 rindu sama Habib Baharun, kenapa baru liburan sekarang saya bersilaturrahmi ke rumah beliau, kenapa enggak dari liburan2 dulu, ternyata Assyauku Majdzub itu adalah sindiran buat mahasiswa mahasiswa Al Ahgaff yang merasa rindu ke Habib Baharun tapi gak mau bertemu dan bersilaturrahmi ketempat beliau, berarti rindunya hanya sekedar kalaaaaam, bohong belaka, padahal Rektor mana yang mau ngasi percerahan kepada murid2nya dan duduk bersama disaat liburan begini, jangankan memberikan pencarahan, bertemu dengan Rektor saja rasanya sangat mustahil, apalagi berdiskusi.
Sebetulnya banyak yang ingin saya tanyakan kebeliau, hanya saja saya takut dibilang tidak sopan, soalnya ketika itu cuma saya yang berbicara dan yang lainnya pada diam soalnya mereka masih anak baru disini jadi mereka bingung mau bilang apa dihadapan beliau meskipun habib sudah menyuruh mereka untuk berbicara namun mereka tetap diam. Sampai sampai akhirnya habib yang bertanya kepada kami tentang apa hobbi kami masing, ada yang menjawab suka berenang, dll, namun anehnya saya tidak ditanya oleh habib, dia melewati pertanyaan tersebut kepada anak baru dari sumatra yang berada disamping saya, semagaimana di awal pertemuan beliau menanyakan kami datang dari mana, dan mustawa berapa, ketika itu saya jawab bahwa saya dari Tarim dan teman teman yang disamping saya itu anak baru dari Sumatra, lalu belia u menyakan nama kami masing-masing kecuali nama aku yang tidak ditanya, dan itulah yang membuat aku cemburu kepada yang lain, hehe.
Pertemuan kami tersebut diakhiri dengan photo bareng bersama beliau khususnya teman-teman se-Sumatra, setelah usai photo photo barulah datang 3 orang teman saya yang dari Tarim juga, namun mereka tidak sempat bercengkrama lama dengan habib, mereka hanya sempat photo bareng habib saja, dan itu sudah sangat membuat hati mereka senang, karena saya sempat bertanya kepada salah satu teman saya, andainya tadi habib pakai 'imamah sebagaimana biasanya ketika ada muhadhoroh ammah, pasti photonya kelihatan lebih keren, soalnya tadi habib cuma pake peci putih biasa, teman saya langsung bilang " bisa photo bareng ma habib aja aku udah bahagia banget "
Ketika itu habib juga bilang bahwa dalam waktu dekat ini beliau akan ke Tarim melihat keadaan mahasiswa disana.
Sebenarnya masih banyak yang disampaikan habib tadi, tadi gak sempat direkam soalnya kata teman saya habib kurang suka direkam, habib lebih suka kalau kita mencatat dan meringkas apa yang beliau sampaikan, makanya aku tidak jadi merekam apa yang beliau sampaikan.
Dari awal sebenarnya kami sudah punya niat untuk menanyakan beberapa pertanyaan kepada beliau, namun pertanyaan itu lupa semua ketika aku berhadapan langsung kepada habib, jadi ya cuma ini yang bisa saya sampaikan, bagi yang mau nambah, silahkan...!
( ini hanya sebagian dari kalam beliau yang bisa saya fahami, kalau ada yang salah tolong jangan dicaci ya...! hehe, )

bersama anak anak sumatra menuju kediaman Al Habib Abdullah Bin Muhammad Baharun
photo bersama Al Habib Abdullah Bin Muhammad baharun
Rabu, 10 Oktober 2012
Tarim, Kota Para Wali
Kota
Tarim, yang terletak sekitar 35 km di Timur Saiun. Di satu sisi kota
ini terlindungi oleh bukit-bukit batu terjal, di sisi lain di kelilingi
oleh perkebunan kurma. Sejak dulu, Tarim merupakan pusat Mazhab Syafi’i.
Antara abad ke 17 dan abad ke 19 telah terdapat lebih dari 365 masjid.
Kota Tarim atau biasa dibaca Trim termasuk kota lama. Nama Tarim,
menurut satu riwayat diambil dari nama seorang raja yang bernama Tarim
bin Hadramaut. Dia juga disebut dengan Tarim al-Ghanna atau
kota Tarim yang rindang karena banyak pepohonan dan sungai. Kota
tersebut juga dikenal dengan kota al-Shiddiq karena gubernurnya Ziyad
bin Lubaid al-Anshari ketika menyeru untuk membaiat Abu Bakar sebagai
khalifah, maka penduduk Tarim adalah yang pertama mendukungnya dan tidak
ada seorang pun yang membantahnya hingga khalifah Abu Bakar mendoakan
penduduk Tarim dengan tiga permintaan : pertama, agar kota tersebut makmur, kedua, airnya berkah dan ketiga,
dihuni oleh banyak orang-orang saleh. Oleh karena itu, Syaikh Muhammad
bin Abu Bakar Ba’abad berkata bahwa, ‘al-Shiddiq akan memberikan
syafa’at kepada penduduk Tarim secara khusus’
Menurut suatu catatan dalam kitab al-Ghurar yang
ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Ali bin Alawi Khirid, bahwa keluarga
Ba’alawi pindah dari Desa Bait Jubair ke kota Tarim sekitar tahun 521
hijriyah.
Setelah kepindahan mereka kota Tarim dikenal dengan kota budaya dan
ilmu. Diperkirakan, pada waktu itu di kota Tarim ada sekitar 300 orang
ahli fiqih, bahkan pada barisan yang pertama di masjid agung kota Tarim
dipenuhi oleh ulama fiqih kota tersebut. Adapun orang pertama dari
keluarga Ba’alawi yang hijrah ke kota Tarim adalah Syaikh Ali bin Alwi
Khali’ Qasam dan saudaranya Syaikh Salim, kemudian disusul oleh keluarga
pamannya yaitu Bani Jadid dan Bani Basri.
Diceritakan bahwa pada kota Tarim terdapat tiga keberkahan : pertama, keberkahan pada setiap masjidnya, kedua, keberkahan pada tanahnya, ketiga,
keberkahan pada pegunungannya. Keberkahan masjid yang dimaksud adalah
setiap masjid di kota Tarim pada waktu sesudah kepindahan Ba’alawi
menjadi universitas-universitas yang melahirkan ulama-ulama terkenal
pada masanya. Di antara masjid-masjid di kota Tarim yang bersejarah
ialah masjid Bani Ahmad yang kemudian dikenal dengan masjid Khala’ Qasam setelah beliau berdomisili di kota tersebut. Masjid
tersebut dibangun dengan batu, tanah dan kayu yang diambil dari desa
Bait Jubair karena tanah dari desa tersebut dikenal sangat bagus,
kemudian masjid tersebut dikenal dengan masjid Ba’alawi.
Bangunan masjid Ba’alawi nyaris sebagian tiangnya roboh dan direnovasi
oleh Muhammad Shahib Mirbath. Pada awal abad ke sembilan hijriyah,
Syaikh Umar Muhdhar merenovasi kembali bagian depan dari masjid
tersebut.
Di
Tarim terdapat tanah perkuburan Bisyar yang terbagi menjadi tiga
bagian, yaitu Zanbal, Furait dan Akdar. Di perkuburan Zanbal, al-Faqih
Muqaddam dan semua sayyid terkemuka dari Kaum Alawiyin dimakamkan, di
Furait terdapat perkuburan para masyaikh, dan Akdar merupakan perkuburan
umum. Di pemakaman Zanbal, para Saadah al-Asraf, Ulama Amilin, Auliya’
dan Sholihin yang tidak terhitung jumlahnya dikuburkan di sana. Syaikh
Abdurahman Assaqqaf bin Muhammad Maula al-Dawilah berkata : ‘Lebih dari
sepuluh ribu auliya’ al-akbar, delapan puluh wali quthub dari keluarga
alawiyin di makamkan di Zanbal’. Seperti diriwayatkan oleh Syaikh Saad bin Ali : ‘Di pemakaman Zanbal dikuburkan para
sahabat Rasulullah saw , mereka wafat ketika menunaikan tugas untuk
memerangi ahli riddah. Mereka banyak yang wafat di Tarim dan tidak
diketahui kuburnya’. Akan tetapi Syaikh Abdurahman Assaqqaf
bin Muhammad Maula Dawilah, berkata : ‘Sesungguhnya letak kubur mereka
sebelah Timur dari kubur al-Ustadz al-A’zhom Muhammad bin Ali al-Faqih
al-Muqaddam’. Berkata Syaikh Muhammad bin Aflah :
‘Sesungguhnya dari masjid Abdullah bin Yamani sampai akhir pemakaman
Zanbal terdapat perkuburan para ulama dan auliya’. Menurut ulama kasyaf,
Rasulullah dan para sahabatnya sering berziarah ke pemakaman tersebut.
Pertama
kali makam yang diziarahi di perkuburan Zanbal adalah makam al-Ustadz
al-A’zham Muhammad bin Ali al-Faqih al-Muqaddam. Berkata Syaikh Ahmad
bin Muhammad Baharmi : ‘Saya melihat Syaikhoin Abu Bakar dan Umar ra
dalam mimpi berkata kepada saya, jika engkau ingin berziarah maka yang
pertama kali diziarahi ialah al-Faqih al-Muqaddam Muhammad bin Ali,
kemudian ziarahilah siapa yang engkau kehendak’. Berkata sebagian para
Saadah al-Akbar : ‘Barangsiapa berziarah kepada orang lain sebelum
berziarah kepada al-Faqih al-Muqaddam Muhammad bin Ali, maka batallah
ziarahnya’. Kemudian ziarah kepada cucunya Syaikh Abdullah Ba’alwi, kemudian kubur ayahnya Alwi bin al-Faqih al-Muqaddam, kemudian Imam Salim bin Basri,
kemudian ziarah kepada Syaikh Abdullah bin al-Faqih al-Muqaddam, Ali
bin Muhammad Shahib Marbath, Ali bin Abdullah Ba’alwi, kemudian Syaikh
Abdurahman Assaqqaf dan ayahnya Muhammad Maula Dawilah, ayahnya Ali bin
al-Faqih al-Muqaddam, kemudian kakeknya Ali bin Alwi Khali’ Qasam,
Muhammad bin Hasan Jamalullail dan ayah serta kakeknya, kemudian Syaikh
Muhammad bin Ali Aidid, Ali, Muhammad, Alwi, Syech bin Abdurahman
Assaqqaf, kemudian ziarah kepada Syaikh Umar Muhdhor, Syaikh Ali bin Abi
Bakar al-Sakran, kemudian Syaikh Hasan Alwara’ dan ayahnya Syaikh
Muhammad bin Abdurahman, kemudian para auliya’ sholihin seperti al-Qadhi
Ahmad Ba’isa, kemudian Syaikh Abdullah Alaydrus, Syaikhoin Muhammad dan
Abdullah bin Ahmad bin Husin Alaydrus, kemudian Syaikh Abdullah bin
Syech, Sayid Ali Zainal Abidin bin Syaikh Abdullah.
Kaum
Alawiyin tetap dalam kebiasaan mereka menuntut ilmu agama, hidup zuhud
di dunia (tidak bergelimang dalam kesenangan duniawi) dan mereka juga
menghindar dari popularitas (syuhrah). Imam Abdullah bin Alwi al-Haddad berkata, ‘Syuhrah bukan adat kebiasaan kami, kaum Alawiyin …’, selanjutnya beliau berkata, ‘kedudukan
kami para sayid Alawiyin tidak dikenal orang. Jadi tidak seperti yang
ada pada beberapa wali selain mereka (kaum Alawiyin), yang umumnya mempunyai sifat-sifat
berlainan dengan sifat-sifat tersebut. Sifat tersebut merupakan soal
besar dalam bertaqarrub kepada Allah dan dalam memelihara keselamatan
agama (kejernihan iman)’.
Imam al-Haddad berkata pula, ‘Dalam setiap zaman selalu ada wali-wali dari kaum Alawiyin, ada yang dzahir (dikenal) dan ada yang khamil
(tidak dikenal). Yang dikenal tidak perlu banyak, cukup hanya seorang
saja dari mereka, sedangkan yang lainnya biarlah tidak dikenal. Dari
satu keluarga dan dari satu negeri tidak perlu ada dua atau tiga orang
wali yang dikenal. Soal al-Sitru (menutup diri) berdasarkan dua
hal : pertama, seorang wali menutup dirinya sendiri hingga ia sendiri
tidak tahu bahwa dirinya adalah wali. Kedua, wali yang menutup dirinya
dari orang lain, yakni hanya dirinya sendiri yang mengetahui bahwa
dirinya wali, tetapi ia menutup (merahasiakan) hal itu kepada orang
lain. Orang lain tidak mengetahui sama sekali bahwa ia adalah wali.
Sehubungan dengan tidak tampaknya para wali, Habib Abdullah al-Haddad menulis syair,
‘Apakah mereka semua telah mati, apakah mereka semua telah musnah,
ataukah mereka bersembunyi, karena semakin besarnya fitnah’.
Tidak
tampaknya para wali merupakan hikmah Allah, begitu pula tampaknya para
wali. Tampak atau tidak tampak, para wali bermanfaat bagi manusia. Habib
Ali bin Muhammad al-Habsyi ditanya : Apakah manfaat dari
ketidaktampakan para wali ? Beliau menjawab :
‘Tidak
tampaknya para wali bermanfaat bagi masyarakat dan juga bagi wali itu
sendiri. Sebab, sang wali dapat beristirahat dari manusia dan manusia
tidak beradab buruk kepadanya. Mungkin kau meyakini kewalian seseorang,
tetapi setelah melihatnya kau lalu berprasangka buruk. Seorang yang
saleh bukanlah orang yang mengetahui kebenaran melalui kaum sholihin.
Akan tetapi orang saleh adalah orang yang mengenal kaum sholihin melalui
kebenaran‘.
Sayid Ahmad bin Toha berkata kepada Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi, ‘Aku tidak tahu bagaimana para salaf kita mendapatkan wilayah (kasyaf), padahal usia mereka masih
sangat muda. Adapun kita, kita telah menghabiskan sebagian besar umur
kita, namun tidak pernah merasakan walau sedikitpun. Aku tidak
mengetahui yang menyebabkan itu ?. Habib Ali lalu menjawab :
‘Ketaatan
dari orang yang makannya haram, seperti bangunan didirikan di atas
gelombang. Karena ini dan juga karena berbagai sebab lain yang sangat
banyak. Tidak ada yang lebih berbahaya bagi seseorang daripada bergaul
dengan orang-orang jahat. Majlis kita saat ini menyenangkan dan
membangkitkan semangatmu. Ruh-ruh mengembara di tempat ini sambil
menikmati berbagai makanan hingga ruh-ruh itu menjadi kuat. Namun,
sepuluh majlis lain kemudian mengotori hatimu dan merusak apa yang telah
kau dapatkan. Engkau membangun, tapi seribu orang lain merusaknya. Apa
manfaatnya membangun jika kemudian dirusak lagi ? kau ingin meningkat ke
atas tapi orang lain menyeretmu ke bawah‘.
Menurut ulama ahlul kasyaf, wali quthub adalah pemegang pimpinan tertinggi dari para wali. Ia hanya
satu orang dalam setiap zaman. Quthub biasa pula disebut Ghauts
(penolong), dan termasuk orang yang paling dekat dengan Tuhan. Selain
itu, ia dipandang sebagi pemegang jabatan khalifah lahir dan bathin.
Wali quthub memimpin pertemuan para wali secara teratur, yang para
anggotanya hadir tanpa ada hambatan ruang dan waktu. Mereka datang dari
setiap penjuru dunia dalam sekejap mata, menembus gunung, hutan dan
gurun.
Wali
quthub dikelilingi oleh dua orang imam sebagai wazirnya. Di samping
itu, ada pula empat orang autad (pilar-pilar) yang bertugas sebagai
penjaga empat penjuru bumi. Masing-masing dari empat orang autad itu
berdomisili di arah Timur, Barat, Utara dan Selatan dari Ka’bah. Selain
itu, terdapat pula tiga orang nuqaba’, tujuh abrar, empat puluh wali
abdal, tiga ratus akhyar dan empat ribu wali yang tersembunyi. Para wali
adalah pengatur alam semesta, setiap malam autad mengelilingi seluruh
alam semesta dan seandainya ada suatu tempat yang terlewatkan dari mata
mereka, keesokkan harinya akan tampak ketidaksempurnaan di tempat itu
dan mereka harus memberitahukan hal ini kepada wali quthub, agar ia
dapat memperhatikan tempat yang tidak sempurna tadi dan dengan
kewaliannya ketidaksempurnaan tadi akan hilang.
Seorang
wali quthub, al-Muqaddam al-Tsani, Syaikh Abdurahman al-Saqqaf beliau
terkenal di mana-mana, ia meniru cara hidup para leluhurnya (aslaf),
baik dalam usahanya menutup diri agar tidak dikenal orang lain maupun
dalam hal-hal yang lain. Dialah yang menurunkan beberapa Imam besar
seperti Syaikh Umar Muhdhar, Syaikh Abu Bakar al-Sakran dan anaknya
Syaikh Ali bin Abu Bakar al-Sakran, Syaikh Abdullah bin Abu Bakar yang
diberi julukan al-‘Aidrus.
Syaikh
Abdurahman al-Saqqaf selalu berta’abbud di sebuah syi’ib pada setiap
pertiga terakhir setiap malam. Setiap malam ia membaca Alquran hingga
dua kali tamat dan setiap siang hari ia membacanya juga hingga dua kali
tamat . Makin lama kesanggupannya tambah meningkat hingga dapat membaca
Alquran empat kali tamat di siang hari dan empat kali tamat di malam
hari. Ia hampir tak pernah tidur. Menjawab pertanyaan mengenai itu ia
berkata, ‘Bagaimana orang dapat tidur jika miring ke kanan
melihat surga dan jika miring ke kiri melihat neraka ?. Selama satu
bulan beliau beruzlah di syi’ib tempat pusara Nabi Hud, selama sebulan
itu ia tidak makan kecuali segenggam (roti) terigu.<!–[if !supportFootnotes]–>[7]<!–[endif]–>
Demikianlah cara mereka bermujahadah dan juga cara mereka ber-istihlak (mem-fana’-kan diri) di
jalan Allah swt. Semuanya itu adalah mengenai hubungan mereka dengan
Allah. Adapun mengenai amal perbuatan yang mereka lakukan dengan sesama
manusia, para sayyid kaum ‘Alawiyin itu tidak menghitung-hitung resiko
pengorbanan jiwa maupun harta dalam menunaikan tugas berdakwah
menyebarluaskan agama Islam.
Selain
pemakaman Zanbal, terdapat pula pemakaman Furait. Dalam kamus bahasa
Arab arti Furait adalah gunung kecil. Di tempat tersebut dikuburkan
keluarga Bafadhal serta para ulama, auliya’, sholihin yang tak terhitung
jumlahnya. Syaikh Abdurahman Assaqqaf bin Muhammad Maula Dawilah
berkata : ‘Di tempat itu dikuburkan lebih dari sepuluh ribu wali’.
Beberapa ulama kasyaf menyaksikan, sesungguhnya rahmat Allah yang turun
pertama kali di dunia ini di pemakaman Furait. Syaikh Abdurahman
Assaqqaf, Sayid Abdullah bin Ahmad bin Abi Bakar bin al-Faqih
al-Muqaddam Muhammad bin Ali dan sebagian ulama di Makkah menceritakan
bahwa dibawah tanah Furait terdapat taman dari taman-taman surga.
Di
pemakaman Furait, mulai ziarah diawali kepada Syaikh Salim bin Fadhal,
kemudian Syaikh Fadhal bin Muhammad bin al-Faqih Ahmad, Syaikh Fadhal
bin Muhammad, kemudian kepada Syaikh Ahmad ayahya dan ayah serta
pamannya, kemudian Syaikh Ibrahim bin Yahya Bafadhal, Syaikh Abu Bakar
bin Haj, kemudian kepada Imam al-Qudwah Ali bin Ahmad Bamarwan, al-Arif
Billah Umar bin Ali Ba’umar, Imam Ahmad bin Muhammad Bafadhal, Ali bin
al-Khatib, Syaikh Abdurahman bin Yahya al-Khatib, Syaikh Ahmad bin Ali
al-Khatib, Imam Ahmad bin Muhammad bin Abilhub dan anaknya Said, Imam
Saad bin Ali.
Pemakaman
ketiga yang terkenal di kota Tarim adalah pemakaman Akdar. Di
perkuburan Akdar, yang dimakamkan di sana di antaranya para ulama,
auliya’ al-arifin dari keluarga Basri, keluarga Jadid, keluarga Alwi,
keluarga Bafadhal, keluarga Baharmi, keluarga Bamahsun, keluarga
Bamarwan, keluarga Ba’Isa, keluarga Ba’ubaid dan lainnya.
Sumber Asli >>> http://benmashoor.wordpress.com/
Sumber Asli >>> http://benmashoor.wordpress.com/
Kamis, 04 Oktober 2012
Semangat Mahasiswa Baru
Gak terasa dan sungguh tidak terasa bahwa kami sudah berada
di Mustawa Robi' dan itu berarti ini sudah ditahun yang keempat di negara
Hikmah ini, satu tahun di Mukalla dan dua tahun di Tarim dan setahunnya lagi
waktu yang sedang berlalu sekarang ini, berarti masa aktif belajar disini hanya
sekitar kurang dari dua tahun lagi, waktu yang cukup singkat untuk dijalani
namun ada sesuatu yang mengganjal disana ketika ditanya apa yang sudah kita
dapati disini selama tiga tahun yang telah berlalu? pertanyaan yang singkat,
padat dan juga pedas jika dihayati dan direnungi, mungkin sebagian teman tidak
bisa bisa menjawabnya karena mungkin itu pertanyaan yang tidak mempunyai
jawaban, kira kira kapan ya kita berani menjawab pertanyaan tersebut? satu
tahun lagi atau setelah tamat nanti? yaaa mudah-mudahan sajalah itu bisa
dijawab...
masih ingat gak di awal awal kita nyampe kesini? di awal
awal kita masuk kuliyah? dimana ketika itu setiap orang memiliki semangat yang
kuat, dan memiliki cita cita yang tinggi, ada yang setiap hari menghafal satu
hadist, ada juga yang satu hari menghafal satu ayat al qur'an, ada yang
bertekad tidak mau berbicara kecuali hanya berbahasa arab dan berbagai macam
macam bentuk tekad dan kemaunan yang menggebu-gebu, namun masih adakah semangat
mahasiswa baru tersebut dijiwa kita? atau sudah lenyap dimakan waktu? atau
jangan-jangan semangat tersebut hanya ada di semester satu dan semester
terakhir tepatnya ketika melaksanakan skripsi? entah lah...
kita memang menyadari bahwa mengubah itu semua sangatlah
sulit namun lebih sulit lagi jika kita tidak mau untuk mencoba memiliki
semangat tersebut, jangan hiraukan orang lain, biarkan orang lain berkata apa
dari pada dikemudian hari harus menanggung malu mendingan mulai sekarang tahan
rasa malu itu demi untuk mengubah segalanya...
aku jadi teringat pengalaman guruku dulu, dia adalah guruku
yang tamatan Madinah, disekolahku ia mengajar hadist namun di USU ia mengajar
Bahasa Arab, ia selau membangkitkan semangat semangat kami melalui
pengalamannya dimadinah, dia sering dikata-katai atau di omongi dari belakang
oleh teman temannya karena keteguhannya dalam berbicara bahasa arab, beliau
memang kurang bagus dalam berbahasa arab ketika itu namun kerutinitasannya
dalam berbahasa arab membuatnya percaya diri dan tidak mendengar apa kata
orang, karena ketika itu banyak teman temannya yang mengatakan '' alaaaaaah,
bahasa arabmu itu masih amburadul aja pun, masih aja ngomong berbahasa arab ''
dan ini memang sudah menjadi penyakit bagi mahasiswa mahasiswa di timur tengah yang
merasa gengsi untuk berbicara dengan berbahasa arab dengan temannya seindonesia
dan ternyata penyakit itu dari dulu sampai sekarang masih ada, kalau dikamarku
saat ini tidak ada orang arab, mungkin sampai sekarang aku tidak mengerti
bahasa arab meskipun tinggal diarab. dan berkat keteguhan guru saya tersebut
dalam berbahasa arab akhirnya dia bisa menjadi dosen di USU ( Universitas
Sumatra Utara ) dan bukan itu saja, beliau juga bilang bahwa orang yang dulu
pernah atau sering menghina atau menggunjingnya malah kelulusannya tertunda,
guru saya tersebut adalah Al Marhum H. Syauri Syam Lc. beliau cukup dikenal di
kalangan Al Washliyah dan juga di USU.
pengalaman ini bukan berarti kita itu hanya menekuni bahasa
arab saja, selain bahasa arab, fiqih dan ushul juga jangan sampai dilupakan
khususnya bagi mahasiswa jurusan syari'ah, karena kemungkinan besar kalau kita
pulang nanti akan ditanyakan oleh masyarakat tentang fiqih baik itu dari segi
ibadah, mu'amalah, nikah dan juga jinayah...
intinya: meskipun kita ini bukan mahasiswa baru lagi dan
juga bukan mahasiswa lama, namun apa salahnya kalau semangat kita adalah
semangat mahasiswa baru, bukan hanya sekedar foto foto atau rekreasi ( seperti
kita kita dulu, hehehe )...
Langganan:
Komentar (Atom)
.jpg)
.jpg)
.jpg)













