Sabtu, 07 Juli 2012

Dr. Halfian Lubis: Dari Al-Washliyah untuk Ummah


Dulu lulusan-lulusan madrasah Al-Washliyah, apalagi Al-Qismul Ali, memiliki kualitas yang cukup mumpuni dalam ilmu-ilmu agama. Setidaknya mereka adalah calon-calon kiai yang telah siap berkiprah di masyarakat. Dan ia ingin kejayaan itu hadir kembali.

Jasa dan peran penting pesantren dalam kegiatan keilmuan dan dakwah di Indonesia telah lama kita sadari. Begitu banyak tokoh umat dan bangsa yang berasal dari dunia pesantren.

Meskipun demikian, sesungguhnya lembaga pendidikan Islam yang berperan besar di negeri ini bukan hanya pesantren. Madrasah pun telah lama menunjukkan perannya dan menghasilkan lulusan-lulusan yang berkualitas yang berperan besar di masyarakat, bahkan tidak sedikit yang menjadi pemimpin-pemimpin umat dan bangsa.

Jadi, sesungguhnya madrasah merupakan bagian penting dari lembaga pendidikan nasional di Indonesia. Sayangnya, perjuangan madrasah untuk mendapatkan pengakuan dan perhatian yang patut dari pemerintah tidak didapatkan dengan mudah. Sebelumnya eksistensi lembaga ini kurang diperhatikan bila dibandingkan dengan sekolah-sekolah umum yang berada di bawah naungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Madrasah seolah hanya menjadi pelengkap keberadaan lembaga pendidikan nasional.

Di antara perguruan Islam di Indonesia yang memiliki peran dan jasa besar lewat ribuan madrasah yang dimilikinya adalah Al-Jam`iyatul Washliyah, organisasi Islam terbesar ketiga di Indonesia setelah NU dan Muhammadiyah. Madrasah-madrasah Al-Washliyah terbukti mampu menghasilkan luluan-lulusan yang kemudian menjadi ulama, pemikir, cendekiawan, bahkan kader-kader pemimpin bangsa.

Di antara cendekiawan lulusan Al-Washliyah yang lama berkiprah di berbagai lembaga pendidikan dan kemudian berkarier di Kementerian Agama namun tetap memiliki perhatian terhadap madrasah-madrasah Al-Washliyah adalah Dr. Halfian Lubis, S.H., M.A. Ia kini mendapatkan amanah sebagai salah satu ketua Al-Washliyah hasil Muktamar Al-Washliyah yang lalu.

Bersama seluruh jajaran pengurus PB Al-Washliyah, Dr. Halfian Lubis bertekad untuk meningkatkan mutu lembaga-lembaga pendidikan Al-Washliyah, terutama madrasah-madrasahnya, yang selama beberapa puluh tahun terakhir mulai ada kemunduran, baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Padahal, dulu lulusan-lulusan madrasah Al-Washliyah, apalagi Al-Qismul Ali (sebutan jenjang madrasah Aliyah di Al-Washliyah), memiliki kualitas yang cukup mumpuni dalam ilmu-ilmu agama. Setidaknya mereka adalah calon-calon kiai yang telah siap berkiprah di masyarakat. Boleh dikatakan, kebanyakan ulama dan ustadz di Sumatera Utara pernah menimba ilmu di Al-Washliyah. Citra Al-Washliyah di masa lalu yang paling kuat memang sebagai perguruan yang terus menghasilkan para ulama dari masa ke masa.

Mahasiswa Teladan
Sosok yang ramah dan cepat akrab ini lahir di Sunggal, Medan, Sumatera Utara, tanggal 14 April 1959. Anak kelima dari sebelas bersaudara ini, lima laki-laki dan enam perempuan, adalah putra dari pasangan (almarhum) Abdul Qadir  Lubis dan (almarhumah) Rohani Matondang. Dua di antara saudaranya telah berpulang ke rahmatullah.

Halfian mendapatkan pendidikan pertama kali pada tahun 1966 di sebuah sekolah dasar negeri di daerah perkebunan di Sungai Sebayang. Akhir 1971 ia menyelesaikan pendidikan dasarnya ini. Kemudian ia melanjutkan pendidikannya di PGA 4 tahun Al-Jam`iyatul Washliyah, dan dilanjutkan ke PGA 6 tahun. Namun tidak berarti ia bersekolah di PGA selama sepuluh tahun. Karena, orang yang telah menyelesaikan sekolah PGA 4 tahun, tinggal melanjutkan selama 2 tahun di jenjang PGA 6 tahunnya.     

Setelah itu pendidikannya berlanjut di Fakultas Tarbiyah Jurusan Bahasa Arab IAIN Sumatera Utara. Rasa hausnya akan ilmu dan keinginannya untuk meluaskan wawasan membuatnya kuliah lagi di Fakultas Hukum Universitas Al-Azhar, Medan, tujuh tahun, setelah ia menyelesaikan kuliahnya di IAIN. Maka gelar sarjana hukum pun diraihnya tahun 1974. Kemudian pendidikannya berlanjut ke jenjang S2  bidang pendidikan Islam di UIN Syarif Hidayatullah. Tak mau tanggung-tanggung, ia pun terus melanjutkannya hingga S3, yang dirampungkannya pada tahun 2007.

Saat menulis disertasi, ia melakukan penelitian tentang sekolah-sekolah Islam unggulan di Indonesia. Penelitian dilakukannya di tujuh provinsi. Tema penelitian ini diambilnya karena ia tertarik dengan perkembangan sekolah-sekolah Islam unggulan di berbagai daerah di Indonesia.

Sebelum selesai pendidikan S3-nya, yakni pada tahun 2004, ia ditarik ke pusat, ke Kementerian Agama di Jakarta -- aat itu masih bernama Depatemen Agama -- setelah sebelumnya berkarier di Kanwil Depag Sumatera Utara. Konsentrasi pekerjaannya kini adalah mengenai pendidikan agama Islam di sekolah umum, yang menangani bidang kurikulum dan evaluasi.

Minatnya untuk terus mengikuti pendidikan sampai jenjang tertinggi tak terlepas dari pengalaman masa kecilnya. Sejak masih sangat muda, ia sangat senang menuntut ilmu dan membaca. Selain itu, ia banyak bertemu dengan guru-guru, baik di sekolah maupun di luar sekolah, yang memberikan motivasi kepada dirinya untuk terus belajar dan belajar. Sejak kecil ia tak hanya belajar di sekolah, melainkan juga di luar sekolah, khususnya kepada para ulama di Medan saat itu. Interaksinya yang cukup intensif dengan mereka sangat berkesan dan memberikan pengaruh yang besar terhadap dirinya.

Dr. Halfian pun tak melupakan peran dan jasa orangtuanya, yang sangat besar. Dengan mata berkaca-kaca, ia menceritakan bagaimana ayah dan ibunya dulu mendidik dirinya dan saudara-saudaranya dengan penuh perhatian. Mereka selalu membiasakan anak-anaknya untuk mengaji di rumah setiap malam serta menjaga akhlaq dalam pergaulan dengan siapa saja.  

Di antara tokoh ulama terkenal di Medan yang sering ia datangi dan ia serap ilmunya adalah K.H. Ali Manshur, salah seorang tokoh ulama Al-Jam`iyatul Washliyah yang menguasai fiqih, perbandingan madzhab, dan sejarah Islam. Sehari-harinya beliau juga mengajar di Al-Qismul Ali (sebutan jenjang Aliyah di sekolah-sekolah Al-Washliyah) di daerah Ismailiyah, Medan. Secara rutin ia belajar dua kali dalam seminggu di rumah beliau. Dalam pelajaran dengan sitem halaqah dengan membaca kitab-kitab ini, seingatnya ia yang termuda di antara murid-murid beliau saat itu.

Kekagumannya pada ketokohan dan keilmuan beliau membuatnya tak mau putus interaksi dan komunikasi dengannya meskipun setelah tak lagi tinggal di Medan. Jadi, tak hanya ketika masih kanak-kanak dan remaja ia belajar serta mengambil ilmu, wawasan, dan  pengalaman beliau. Sampai ketika telah mengikuti kuliah S3 pun ia terus berkonsultasi dengan beliau, yang dikenal kaya dengan ilmu. Karenanya, ia sangat kehilangan ketika beliau berpulang ke rahmatullah beberapa tahun yang lalu dalam usia yang cukup tua.        

Di antara yang banyak didapatnya adalah wawasan tentang keislaman yang begitu indah. Hal inilah salah satunya yang membuatnya terus belajar dan belajar. Apalagi beliau sendiri juga terus memotivasinya. Jadi, dorongan itu datang dari dalam dan luar dirinya sehingga menjadi sangat kuat.

Selain itu, ketika masih tinggal di Medan, Halfian pun banyak berkomunikasi, berdiskusi, serta mengambil ilmu dan pengalaman dari para pakar, termasuk doktor-doktor yang ada di sana, baik para dosennya di IAIN Sumatera Utara maupun yang lainnya. Mereka berjasa memberikan motivasi kepadanya untuk terus melanjutkan pendidikan. Mungkin mereka melihat potensi Halfian yang besar yang terlihat dari terpilihnya ia sebagai mahasiswa teladan tahun 1979 dan 1980 sehingga menerima beasiswa Supersemar.

Tetapi karena S2 apalagi S3 saat itu masih langka, ia harus menunggu lama kesempatan yang dinanti-nantikannya. Baru pada tahun 1997 ia dapat melanjutkan ke S2. Sebelumnya pernah juga ada keinginannya untuk melanjutkan pendidikan ke Mesir bersama beberapa teman, di antaranya Daud Rasyid (kini doktor). Ia ditawari untuk berangkat ke sana tetapi ia merasa tidak siap karena ingin menyelesaikan S1 terlebih dahulu. Pernah juga ia ingin mengambil pendidikan di Amerika dan Kanada, namun karena pertimbangan tertentu hal itu pun diurungkannya pula, sampai akhirnya ia mengambil S2 dan S3 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Berguru tak Langsung
Secara tidak langsung Halfian pun banyak mengambil ilmu dan semangat keilmuan dari tokoh-tokoh ulama di Medan meskipun tak sempat bertemu. Di antaranya Syaikh Arsyad Thalib Lubis. Mengenai beliau, ia menuturkan:    

“Saya belum sempat berguru kepada Syaikh Arsyad Thalib Lubis, karena beliau wafat tahun 1971 saat saya baru kelas I PGA. Tetapi saya banyak membaca ihwal beliau. Dari apa yang saya baca itu, tahulah saya bahwa beliau itu seorang besar, seorang ulama yang banyak ilmunya. Pengetahuan saya tentang beliau, walaupun tidak langsung, hanya dari bacaan-bacaan atau dari cerita orang-orang, membuat saya semakin mencintai ilmu. Guru saya pun, K.H. Ali Manshur, murid beliau.”

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Halfian banyak berkecimpung di dunia  pendidikan yang banyak memberikan pengalaman dan kesan baginya. “Di antara yang sangat berkesan bagi saya adalah ketika menjadi guru agama dan dosen agama setelah menyelesaikan kuliah di Fakultas Tarbiyah IAIN Medan. Pernah menjadi kepala sekolah SMP Al-Azhar Medan selama tiga tahun dan setelah itu menjadi kepala SMA perguruan yang sama selama empat tahun. Pernah pula menjadi kepala SMA Unggul di Medan pula. Selain itu pernah menjadi pembantu rektor III Universitas Al-Azhar di kota yang sama.”
Keterlibatannya sebagai pengajar dan kepala sekolah di berbagai lembaga dan jenjang pendidikan membuatnya memiliki banyak pengalaman dalam pengembangan lembaga pendidikan Islam. Apalagi pada tahun 1990 dibentuk Paguyuban Sekolah-sekolah Islam di Indonesia, yang ia aktif di dalamnya sehingga banyak berkomunikasi dengan berbagai sekolah Islam di Indonesia.

Ia menjadi mengerti bagaimana membentuk sekolah Islam yang bermutu. Menurut Dr. Halfian, sampai tahun 1970-an sekolah-sekolah Islam di Indonesia masih banyak tertinggal oleh yang lain, terutama dalam mutu dan kurikulum yang keduanya sangat berkaitan. Sekolah-sekolah Islam belum banyak yang berorientasi kepada mutu, terutama dalam bidang sains. Tak mengherankan jika sekolah-sekolah yang bermutu umumnya didominasi oleh sekolah-sekolah negeri dan sekolah-sekolah non-muslim. Sekolah-sekolah Islam selalu ketinggalan.

“Tetapi mulai era 1980-an ada kebangkitan sekolah-sekolah Islam di seluruh daerah. Ada kesadaran, semangat, dan kebangkitan untuk mengejar ketinggalan dan meningkatkan mutu agar dapat mensejajarkan ilmu-ilmu sains dengan ilmu-ilmu agama. Maka kemudian muncullah sekolah-sekolah Islam unggulan yang berorientasi mutu dengan tetap menjadikan dasar keislaman yang kuat. Ini perkembangan pendidikan Islam yang sangat menggembirakan.”

Khusus untuk lembaga-lembaga pendidikan Al-Washliyah yang sebagian besar di antaranya adalah madrasah, menurut Halfian, itu juga sedang dibenahi untuk menuju orientasi mutu. Di antaranya, mulai berbenah di bidang fasilitas, kurikulum, dan pembelajaran. Para pengajarnya diarahkan untuk menjadi tenaga-tenaga yang profesional sesuai dengan tuntutan undang-undang pendidikan nasional. Pembelajaran di sekolah-sekolah Al-Washliyah, baik madrasah maupun sekolah dan perguruan tinggi, diharapkan pembelajaran yang menarik, bermutu, dan tentu harus didukung dengan kurikulum yang berkualitas. Inilah orientasi Al-Washliyah ke depan.

Secara khusus Dr. Halfian sangat berharap agar madrasah-madrasah Al-Qismul Ali Al-Washliyah dapat kembali menunjukkan kualitasnya sebagaimana di masa lalu, yang lulusannya dijamin dapat menguasai kitab-kitab kuning dengan baik. Ia yakin, itu salah satu yang akan tetap menjaga kepercayaan masyarakat di berbagai daerah terhadap Al-Washliyah. Selain itu, hal tersebut juga akan memberikan dorongan semangat kepada jenjang-jenjang pendidikan di bawahnya, baik Ibtidaiyah maupun Tsanawiyah, bahkan lembaga-lembaga lainnya. Semoga harapan itu dapat terwujud dan semoga kebangkitan madrasah-madrasah Al-Washliyah kelak juga akan diikuti oleh kebangkitan madrasah-madrasah di lingkungan perguruan Islam yang lain.

Dari pernikahannya dengan Ummi Syarifah, B.A., ia dikarunia empat permata hati: Yeni Hilmi Khairani Lubis, S.Kom., Khairida Afni Lubis, S.Kes., Ahmad Khairi Nawawi Lubis, dan Yaumi Khairi Azhari Lubis.

info asli >>>   http://majalah-alkisah.com/index.php/tamu-kita/1068-dr-halfian-lubis-dari-al-washliyah-untuk-umah 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar