Al-Habib Ali bin Hasan Baharun dalam kitabnya, Fawaid al-Mukhtara li Saaliki Thoriq al-Akhirah, menceritakan sebuah kisah sedih yang patut kita jadikan renungan.
Seorang pemuda Jawa dikirimkan oleh orang tuanya ke Hadhramaut untuk menuntut ilmu, namun sesampai di sana dia tidak serius belajar, waktunya banyak dia habiskan untuk hal-hal yg sia-sia. Sementara di Jawa orang tuanya selalu berharap kelak anak kesayangannya itu menjadi orang alim, amil dan mukhlish. Maka untuk kelancaran pendidikannya, orang tua itu selalu mengiriminya uang yang cukup, namun ternyata uang itu dia gunakan tuk berfoya-foya.
Setelah lama di Hadhramaut, pemuda itu hendak pulang ke Jawa. Maka dia beritahukan keinginannya itu kepada orang tuanya. Mendengar itu orang tuanya sangat senang, dia menyangka anak kesayangannya itu sudah alim, sudah membaca dan faham berbagai kitab. Maka untuk menyambut kedatangannya dia mengundang para kerabat dan tetangga. Dia ingin berbangga dan bersyukur karena anak kesayangannya itu telah sukses menuntut ilmu di Timur Tengah. Namun, sungguh mengecewakan! Ketika dia sampai di Jawa dan masyarakat memintanya tuk berbicara dan masyarakat mengajukan pertanyaan-pertanyaan ternyata dia tidak bisa, dia tidak bisa berbicara di hadapan para undangan dan dia tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan masyarakat. Sehingga mereka semua tahu, meski sudah lama di luar Timur Tengah ternyata dia belum bisa apa-apa.
Akibat kejadian itu ortunya sakit lalu meninggal karena tidak mampu menanggung malu dan kecewa.
Seorang pemuda Jawa dikirimkan oleh orang tuanya ke Hadhramaut untuk menuntut ilmu, namun sesampai di sana dia tidak serius belajar, waktunya banyak dia habiskan untuk hal-hal yg sia-sia. Sementara di Jawa orang tuanya selalu berharap kelak anak kesayangannya itu menjadi orang alim, amil dan mukhlish. Maka untuk kelancaran pendidikannya, orang tua itu selalu mengiriminya uang yang cukup, namun ternyata uang itu dia gunakan tuk berfoya-foya.
Setelah lama di Hadhramaut, pemuda itu hendak pulang ke Jawa. Maka dia beritahukan keinginannya itu kepada orang tuanya. Mendengar itu orang tuanya sangat senang, dia menyangka anak kesayangannya itu sudah alim, sudah membaca dan faham berbagai kitab. Maka untuk menyambut kedatangannya dia mengundang para kerabat dan tetangga. Dia ingin berbangga dan bersyukur karena anak kesayangannya itu telah sukses menuntut ilmu di Timur Tengah. Namun, sungguh mengecewakan! Ketika dia sampai di Jawa dan masyarakat memintanya tuk berbicara dan masyarakat mengajukan pertanyaan-pertanyaan ternyata dia tidak bisa, dia tidak bisa berbicara di hadapan para undangan dan dia tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan masyarakat. Sehingga mereka semua tahu, meski sudah lama di luar Timur Tengah ternyata dia belum bisa apa-apa.
Akibat kejadian itu ortunya sakit lalu meninggal karena tidak mampu menanggung malu dan kecewa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar