Seperti biasanya, di malam Jum'at setelah maghrib, kami menghadiri majlis Maulid di Darul Musthofa.
Setelah pembacaan maulid, syair dan azan isya, mulailah berdiri satu persatu habaib dan masyaikh yang akan memberikan tausyiah kepada hadirin dari kalangan masyaikh, habaib, tholibul ilim dan juga masyarakat Tarim.
Taushiah tersebut tidak harus berbahasa Arab, sebab tidak jarang banyak yg memberikan taushiah ke dalam bahasa ingris dan diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.
Dan seperti biasanya juga bahwa yang menutup ceramah adalah Habib Umar Bin Hafizd.
Sebetulnya banyak sekali yang ingin saya kutip dari taushiah-taushiah yg disampaikan pada malam ini, khususnya kalam-kalam Habib Umar Bin Hafizd, namun karena saya punya kelemahan di dalam menghafal dan mengingat semua yang mereka sampaikan, maka saya hanya sanggup menulis sesuatu cukup singkat namun dapat menggerakkan hati saya (mungkin juga hati para tholibul ilim yg lainnya) yaitu taushiah yang disampaikan oleh salah satu masyaikh dari Afrika yang pernah belajar di Tarim.
Beliau berkata:
Berapa banyak orang yang berada di luar kota Tarim, yang ingin ke kota Tarim, mereka berbicara tentang Fadhoil Ahli Tarim, menukil kalam habaib dan ulama Tarim, mengamalkan amalan-amalan sunnah yang dilakukan Ahli Tarim, seolah-olah mereka berada di Tarim. Itu semua disebabkan karena hati mereka selalu ta'alluk (terhubung) dengan para habaib yang ada di Tarim.
Namun sayangnya, kita yang berada di Tarim, jarang sekali menukil kalam Ahli Tarim, atau berbicara Fadhoil Ahli Tarim, atau mengamalkan amalan-amalan sunnah yang dilakukan Ahli Tarim, dan ini adalah sebuah Nuqshon (kekurangan) dan kekurangan inilah yang harus diperbaiki oleh kita yang berada di Negeri ini, agar keberadaan kita di negeri ini benar-benar hakiki (nyata) dan, jangan sampai keberadaan kita disini hanya sebagai Shuroh (Gambar) saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar