Remaja adalah sasaran tepat untuk dijerumuskan kedalam
lumuran dosa karena biasanya remaja sangat sulit untuk menerima nasehat dan
malah membantah jika diingatkan atau dinasehati. Oleh karena itulah sering kita
dapati dalam beberapa kasus belakangan ini bahwa remaja sering melakukan
keonaran baik itu perjudian, perzinaan, perkelahian, mabuk-mabukan dan
sebagainya. Yang lebih memprihatinkan lagi adalah kebanyakan remaja yang
melakukan dosa itu malah mereka yang
berasal dari Madrasah-madrasah islam yang seharusnya mereka ini telah
dididik betul oleh guru-guru mereka agar
menjadi insan yang teladan bagi orang-orang disekelilingnya.
Ini membuktikan bahwasanya iblis itu tidak memilih siapa
yang akan menjadi tumbalnya dari kalangan manusia dan bahkan ia telah berjanji
kepada Allah akan menggoda manusia sampai hari kiamat nanti , dan ini juga yang
membuktikan akan kebenaran hadits “setiap bani adam itu pasti sering melakukan
kesalahan” namun hadits itu bukan hanya
sampai disitu saja sebagaimana yang sering yang kita dengar dikalangan
masyarakat jikalau ada seorang ustazd melakukan dosa maka akan senantiasa
dibela dengan kalimat “ustazd juga manusia yang tak luput dari kesalahan” dan
berhenti sampai disitu saja tanpa ada solusi bagi orang yang melakukan
kesalahan atau dosa tersebut, padahal hadits diatas selain menjelaskan bahwa
manusia tak luput dari kesalahan juga memberikan solusi bagi si pendosa agar
terlepas dari dosanya yaitu sambungan hadits tersebut “sebaik-baik orang yang sering melakukan
kesalahan adalah orang-orang yang senantiasa mau bertaubat.”
Azzanjani didalam kitabnya Atta’rifat mendefenisikan bahwa
Taubat adalah kembali kepada Allah dengan memperbaiki kesalahan dari hati
kemudian melaksanakan semua hak-hak/kewajiban-kewajiban dari Allah. Sedangkan Inbu ‘Arobi didalam kitabnya
Ahkamul Qur’an mendefenisikan taubat itu adalah kembalinya seorang hamba dari
dalam keadaan maksiat menuju keadaan taat kepada Allah. Dari kedua defenisi ini
dapat kita simpulkan bahwa Taubat itu adalah kembali kejalan Allah yang lurus
sebagaimana yang Allah ridhoi. Namun, untuk mengaplikasikan sebuah taubat
dikalangan remaja sepertinya Ta’rif umum taubat ini belum terlalu mengena dan
mengarah kepada sasaran karena kita harus benar-benar memahami taubat yang
bagaimana yang dikehendaki oleh Allah S.W.T.
Kalau kita kembali ke Al-Qur’an Surat Attahrim Ayat 8
ternyata disana Allah memerintahkan kita agar melakukan Taubat Nasuha dan apa
itu Taubat Nasuha? Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas –Radiallahu ‘Anhuma-
bahwasanya taubat nasuha itu adalah penyesalan yang timbul dari hati dan mohon
ampun kepada Allah dengan lisan serta berniat agar tidak mengulanginya lagi
selamanya, adapaun pengertian lain dari taubat nasuha itu sungguh sangat banyak
kita dapati sehingga Imam Al-Qurthubi didalam tafsirnya menjelaskan bahwanya
ulama berbeda pendapat dalam mengartikan atau mendefenisikan taubat nasuha
tersebut hingga mencapai dua puluh tiga defenisi, hanya saja kesemua maknanya
saling mirip dan berdekatan.
Taubat nasuha dalam versi Ibnu Abbas tadi menjelaskan kepada
kita bahwa tidak cukupnya penyesalan dan mohon ampun dalam mengaplikasikan
taubat nasuha karena selain penyesalan dan mohon ampun kepada Allah juga
diperlukannya niat dan tekat yang kuat untuk meninggalkan maksiat dan tidak
mengulanginya lagi untuk selamanya karena tanpa adanya ini maka taubatnya itu
adalah taubat orang-orang pendusta atau Kadzzabiiin sebagaimana yang dikatakan
oleh Abu Laits Assamarqondi didalam kitabnya Tambihul ghofilin.
Oleh karena itu Imam Nawawi menjelaskan syarat-syarat dalam
bertaubat, bahwa jika maksiat tersebut antara manusia dan Allah maka harus
dipenuhi tiga syarat dibawah ini:
1. Harus meninggalkan maksia itu
2. Harus menyesal karena telah melakukan maksiat tersebut
3. Harus bertekat bulat untuk tidak menulanginya lagi selamanya
dan jika maksiat tersebut antara manusia dan manusia maka dibutuhkan empat syarat: tiga syarat diatas tadi dan ditambah satu syarat lagi yaitu harus mengembalikan barang yang ia ambil jika ia pernah mencuri, atau harus di hukum (had) atau minta maaf kepada orangnya atau ahlinya jika berupa tuntukan hukum seperti menuduh berzina, atau harus minta ridho kepada orangnya jika ia pernah mengghiba atau mengunjing.
1. Harus meninggalkan maksia itu
2. Harus menyesal karena telah melakukan maksiat tersebut
3. Harus bertekat bulat untuk tidak menulanginya lagi selamanya
dan jika maksiat tersebut antara manusia dan manusia maka dibutuhkan empat syarat: tiga syarat diatas tadi dan ditambah satu syarat lagi yaitu harus mengembalikan barang yang ia ambil jika ia pernah mencuri, atau harus di hukum (had) atau minta maaf kepada orangnya atau ahlinya jika berupa tuntukan hukum seperti menuduh berzina, atau harus minta ridho kepada orangnya jika ia pernah mengghiba atau mengunjing.
Selain harus memenuhi syarat-syarat dalam bertaubat tadi,
juga harus diperhatikan bahwa kewajiban bertaubat itu bersifat segera yaitu
tidak ditunda-tunda dan juga bersifat terus-menerus, jadi bagi siapa saja yang
melakukan dosa baik itu disengaja atau pun tidak, besar atau pun kecil maka
wajib baginya bertaubat sesegera mungkin dan terus-menerus bertaubat, karena
pada dasarnya manusia itu tak lepas dari dosa dan kesalahan dalam setiap
keadaannya yang ada pada dirinya sendiri (badannya) dan kalau pun seandainya
dia bisa terlepas dari dosa badannya maka belum tentu dia bisa terlepas dari
dosa yang terlintas dalam hatinya, dan bahkan kalau seandainya dia masih bisa
terlepas dari dosa yang terlintas dari hatinya namun belum tentu dia bisa
terlepas dari godaan setan yang senantiasa memalingkannya dari mengingat Allah atau
juga akan terlepas dari segala kelalaian-kelaian dalam tuntutan beribadah
kepada Allah.
Umat nabi Muhammad SAW adalah umat yang paling baik sehingga
jika mereka melakukan dosa atau maksiat maka Allah senantiasa mengampuni
dosa-dosa mereka jikalau mereka mau bertaubat kepada Allah selama nyawa masih
berada ditenggorokan dengan lisan, hati dan tekatnya mereka. Adapun umat-umat
terdahulu, jika mereka ingin melakukan taubat kepada Allah maka tidak cukup
dengan lisan, hati dan tekat karena diantara umat-umat terdahulu jika mereka
ingin bertaubat maka mereka harus membunuh diri mereka sendiri, atau mereka
harus menulis di pintu rumah-rumah mereka bahwa mereka telah melakukan dosa ini
dan itu, atau jika mereka ingin beribadah maka mereka harus beribadah di ma’bad
yang khusus untuk beribadah. Dan Alhamdulillah syari’at nabi Muhammad menghapus
itu semua dan menjadikan taubat semudah mungkin, pada saat dan dimana pun dia
berada, dan bahkan Allah S.W.T. memerintahkan agar jangan pernah berputus asa
didalam mencapai rahmat Allah S.W.T.
Ada beberapa hal yang harus kita perhatikan dalam
mengaplikasikan taubat, diantaranya yaitu:
1. Menahan lidah kita dari perkataan yang tidak berguna, menggunjing dan berbohong.
2. Tidak pernah terlintas dihatinya rasa dengki dan permusuhusan terhadap orang lain.
3. Tidak bergaul dengan orang-orang jahat
4. Bersiap untuk mati dalam keadaan menyesal dan mohon ampun terhadap dosa-dosa yang pernah kita lakukan serta bersungguh-sungguh dalam melaksanakan keataan kepada Allah.
1. Menahan lidah kita dari perkataan yang tidak berguna, menggunjing dan berbohong.
2. Tidak pernah terlintas dihatinya rasa dengki dan permusuhusan terhadap orang lain.
3. Tidak bergaul dengan orang-orang jahat
4. Bersiap untuk mati dalam keadaan menyesal dan mohon ampun terhadap dosa-dosa yang pernah kita lakukan serta bersungguh-sungguh dalam melaksanakan keataan kepada Allah.
Jika ini semua telah kita lakukan yakni bertaubat kepada
Allah dengan taubat nasuha serta syarat dan ketentuan-ketentuan didalam
bertaubat maka mungkin salah satu diantara kita ada yang bertanya bagaimana
ciri-ciri bahwa taubat seseorang itu diterima oleh Allah S.W.T.? didalam kitab Tanbihul Ghofin dijelaskan
bahwa ada empat ciri-ciri bahwa taubat seseorang itu diterima Allah, yaitu:
1. Putus hubungan dengan orang-orang jahat (orang-orang yang jelek prilakunya) dan memperlihatkan kepada mereka karisma dari dalam dirinya dan juga sering bergaul dengan orang –orang sholeh.
2. Meninggalkan segala dosa dan bersiap untuk melaksanakan segala keta’atan.
3. Membuang segala kebahagiaan dunia dan menampakkan segala kesedihan akhirat didalam dirinya.
4. Melihat dirinya terlepas dari segala sesuatu yang Allah berikan kepadanya dari rizki dengan menyibukkan dirinya terhadap apa yang Allah perintahkan.
Kita pasti pernah melakukan kesalahan, dosa atau
pun maksiat, baik itu kecil maupun besar. Terkadang kita sadar dengan apa yang
kita lakukan itu adalah salah namun masih juga kita lakukan dan bahkan mungkin
diantara kita ada yang sudah benar-benar bertaubat dan bertekat bulat untuk
tidak melakukan segala bentuk maksiat namun dikesempatan yang yang tidak
disangka kita malah mengulangi dosa itu kembali, oleh karena itulah dari dulu
Nabi Muhammad SAW telah mengingatkan kepada kita bahwa kita ini adalah manusia
yang sering melakukan kesalahan dan sebaik-baik orang yang sering melakukan
kesalahan adalah orang yang sering bertaubat karena Rasulullah SAW tidak
mengatakan “kullu bani adam mukhtik wa khorul Khoti’in Attaibun” yang berarti
setiap bani adam/manusia pasti melakukan kesalahan dan sebaik-baik orang yang
bersalah adalah orang yang bertaubat, tetapi Rasulullah mengatakan “kullu bani
adam khottok wa khoirul khottoin Attawwabun” yang berarti setiap bani adam itu
pasti sering melakukan kesalahan dan sebaik-baik orang yang sering melakukan
kesalahan adalah orang yang sering bertaubat.” Oleh karena itu jangan pernah
bosan untuk bertaubat dan jangan pernah berputus asa dalam meraih RahmatNya ,
semoga kita tergolong hamba-hamba Allah yang senantiasa dijaga dari segala
perbuatan maksiat dan diampuni dari segala dosa-dosa, Amiiin.1. Putus hubungan dengan orang-orang jahat (orang-orang yang jelek prilakunya) dan memperlihatkan kepada mereka karisma dari dalam dirinya dan juga sering bergaul dengan orang –orang sholeh.
2. Meninggalkan segala dosa dan bersiap untuk melaksanakan segala keta’atan.
3. Membuang segala kebahagiaan dunia dan menampakkan segala kesedihan akhirat didalam dirinya.
4. Melihat dirinya terlepas dari segala sesuatu yang Allah berikan kepadanya dari rizki dengan menyibukkan dirinya terhadap apa yang Allah perintahkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar